Terus Bersangka Baik

Subuh ini aku terbangun pukul 02. 25 dinihari. Masih banyak waktu untuk sholat, apalagi saya tidak perlu menyiapkan makanan sahur, toh saya bukan karyawan hotel yang dipekerjakan di food and beverage hehehe…. So habis sholat saya menuju ruang makan hotel, makan nasi 4 stau 5 suapan dengan telur mata sapi, balado ikan asin dan kembali ke kamar nonton tv dan mengupas mangga yang saya bawa dari palu. Saya masih berpikir tentang taqdir. Dan bagaimana trik yang paling sederhana untuk menghadapi ketentuan mutlak dan sama sekali tidak bisa diubah ini. Taqdir adalah sesuatu yang pasti dalam hidup ini, suka atau tidak suka, rela atau terpaksa harus kita terima dan kita yakini sebagai sesuatu yang terbaik yang di anugerahkan Allah pada hambaNya. Taqdir telah tercatat rapi di masing-masing kitab kita yang tersimpan di Lauhul Mafudz jauh sebelum kita sendiri hadir kedunia. Berbeda dengan Nasib yang memungkinkan kita untuk berusaha mengubahnya dengan upaya yang sungguh-sungguh, dimana Allah masih memberi ruang kepada kita untuk memilih, apakah mau hidup susah atau hidup senang, mau hidup bahagia atau menderita, mau cerdas atau tolol, ingin jadi pahlawan atau pecundang dsb. Sementara Taqdir adalah titik terakhir dimana upaya untuk mengubah Nasib mengalami jalan buntu dan kita sama sekali sudah tidak kuasa untuk melakukan apapun. Merupakan hasil akhir dari semua rencana yang sanggup kita lakukan.Jika kita percaya bahwa Taqdir adalah hal terbaik yang menjadi bagian kita, maka tidak boleh ada sebesar zarrahpun dalam hati kita protes ataupun penolakan. Sepatutnya kita menerima semuanya dengan senyum bahagia karena kita yakin Allah tidak pernah berbuat aniaya kepada hambaNya. Bisa jadi Taqdir kemudian menghendaki kita terpuruk atau bahkan sebaliknya kita melejit setinggi-tingginya, tentu saja hal seperti itu tidak lain dan tak bukan merupakan proses untuk mengasah pribadi kita menjadi lebih baik, menjadikan kita semakin bijak dalam menapaki kehidupan hingga tiba pada satu titik, kita menyadari penuh esensi kehadiran kita didunia ini. Pada saat kita berproses pastilah kita akan mengahadapi berbagai ujian hidup, mulai ujian kecil hingga ujian yang paling dahsyat, yang bisa jadi tidak pernah sedikitpun terbersit dalam benak kita. Kita akan dihina, direndahkan dan mungkin juga dikhianati. Atau sebaliknya kita di puja, dihormati , disegani dan disambut dengan gilang gemilang. Sejatinya semua ujian itu tidak akan membuat kita congkak atau berkecil hati, sebaliknya kita harus berlapang dada menerima semuanya dengan kepala tegak karena Allah menguji kita sesuai dengan kemampuan kita. Kita merasa direndahkan, boleh jadi karena kita meletakkan harga diri kita terlalu tinggi, kita juga merasa terhina dengan sikap orang lain karena sesungguhnya kita menginginkan penghormatan berlebihan dari orang lain. Perasaan berlebihan yang tanpa sadar kita tumbuhkan dalam diri kita itulah yang akan membuat kita semakin terpuruk saat jatuh, bahkan lebih jauh bisa membuat kita menyalahkan Taqdir. Sejatinya kita tidak boleh terpengaruh dengan apapun pandangan dan penilaian orang lain, fokus saja menhadapi semua masalah yang kita hadapi, menikmati anugerah yang diberikan Allah dalam kehidupan, membagi kebahagiaan dengan sesama, mensyukuri semua yang kita miliki, tidak menangisi hal-hal yang kemudian hilang dari hidup kita, bukankah saat Allah mengambil sesuatu dari genggaman kita sesungguhnya DIA juga tengah membuka tangan kita untuk menerima sesuatu yang lebih baik. Hanya dengan begitu kebahagiaan sejati bisa kita raih. Perasaan lega kita rasakan, dan kita akan bisa memandang dunia dengan kepala tegak dan senyum merekah. ☺ Langkah kita lebih ringan, kita akan jauh dari segenap prasangka buruk kepada orang lain, karena kita mampu melihat semua hal yang terjadi dengan kaca mata yang berbeda. Bahwasannya apa yang disuguhkan dihadapan kita bukan lain adalah firman-firman Allah yang tidak tertulis yang mestinya kita baca dengan keyakinan bahwa semuanya bertujuan baik untuk kita, sebagai pedoman dan pembelajaran. Jika Al Qur’an memuat kisah-kisah yang terjadi dizaman para nabi dan rasul terdahulu, maka apa yg kita alamai dan rasakan di seputar kita adalah AlQur’an dalam bentuk yang lain, kita liat dengan kasat mata, kita rasakan langsung pengaruhnya dikulit dan perasaan kita maka seperti halnya kita membaca Al Qur’an mari kita mengucap “Maha benar Allah dengan segala firmannya” karena mustahil semua bisa terjadi dan berlangsung di depan kita kecuali atas ridho dan izin Allah. Ingat Ibrahim tidak minta supaya tidak dibakar, tapi beliau minta agar panasnya api tidak membakar 😢 Rasulullah tidak minta agar beliau tidak dihujat dan diperlakukan tidak baik, tapi beliau minta ditambahkan kesabarannya. Karen ujian sedahsyat apapun tidak bertujuan selain menambah kemilaunya kepribadian kita, mematangkan jiwa kita dan mestinya menjadikan kita lebih dekat kepada Allah swt. Aihhh… Cahaya matahari telah menerobos dari kisi-kisi jendela, saya harus mandi karena sebentar lagi acara sudah akan mulai… Selamat beraktivitas sahabatku, Kiranya hari kita akan lebih baik dan indah hari ini…

Note: catatan pendek di hari 10 ramadan …..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s