Episode siang, saat aku coba meraihmu

Siang yang gerah tanpa angin,

lembab peluh tak menjanjikan sedikitpun kesenangan duniawi

Seolah mencari celah agar harapan tumbuh

menyeruak mimpi dikala lelap siang…

Pikiran-pikiran mengurai seperti ranting pada pohon,

yang daunnya lebat hingga sulit melihat tangkainya…

Jika rasaku adalah belitan kukuh dalam benakmu..

Dan hatiku kuat dalam genggammu..

Mungkinkah secarik lupa menghapus bayang walau sesaat?

Seperti burung yang membuat sarang dalam pikiranku

Adalah sulit menghalaunya pergi setiap kali kembali pulang

Meski rindu menjelajah jauh

Selalu terpulang kedalam hati

Siang yang gerah tanpa angin

Sejatinya aku masih memeluk bayangmu dalam benakku

Meski peluh melunturkan harap

Tapi sosokmu telah memilih untuk berdiri disini

Disisi hati yang telah kubuka

Jika hari ini rindu kembali datang

Aku hanya ingin mengatakan

Siang dan malamku telah membeli utuh dirimu

dalam syair rindu yang kental…….

Siang yang jengah karena panas

Peluh dan letih adalah irama hari yang terkungkung dalam bingkai waktu..

Di lenganku kau akan ingat segalanya……

Karena saat kau bersandar, aku berkisah tentang siang…

tentang pagi yang gemuruh dan tentang malam yang isinya semata cinta

Ajari aku memelukmu lagi

Sebab tanganku enggan berhenti mengusapmu

Meski terbata mengucap rindu

Siang yang jengah karena panas

Aku sungkan menafsirkan kata-kata di matamu

Memandangmu saja sudah cukup bagiku

Mengurai rindu yang akhirnya menjadi abu……

Iklan

šŸ’”Kisah ibu Ma’ati dari PetobošŸ’”

Hari ini hari jumat, artinya sudah minggu keempat pasca bencana. Kotaku sudah benar-benar pulih di saat siang, dimana senyum dan tawa lebar mulai kita temui dihampir seluruh penjuru kota, seperti kebiasaan masyarakat palu yang ramah dan sangat welcome dengan siapa saja yang sempat bertemu.

Lanjutkan membaca “šŸ’”Kisah ibu Ma’ati dari PetobošŸ’””