💖Kebaikan akan selalu kembali kepada pemiliknya💖

Mamaku anak ke 14 dari 16 bersaudara. Sulit membayangkan bagaimana ramainya rumah nenekku dan bagaimana nenekku mengurus ke enam belas anaknya. Tapi fakta, bahwa dari ke 16 anak tersebut, nenekku memiliki 125 orang cucu adalah penanda bahwa kakek dan nenekku dicukupkan Allah swt untuk memelihara semua anak-anaknya dengan baik.” Slogan banyak anak, banyak rezeki” benar-benar terbukti dalam kelurga kakekku.

Bahkan salah satu dari putrinya juga mewarisi nenek memiliki 16 orang Anak. Hingga kami memanggil kakak mamaku itu dengan sebutan papa “Dea” dan Ino “Dea”. Dea artinya banyak, kira-kira maknanya, papa dan mama yang anaknya banyak.

Dengan putri pertama Ino dea, mamaku seumuran bahkan menurut kisah mereka hanya selisih hari. Lucu membayangkan bagaimana tante dan ponakan bisa barengan lahir hehehe… tapi itulah yang terjadi. Dan dari keenam belas saudaranya mamakulah yang terakhir dipanggil Allah. Karenanya beliau menjadi sandaran dan menjadi tempat curhat ponakan dan cucu2 beliau.

Bisa jadi karena banyak bersaudara mamaku memiliki rasa tenggang rasa yang tinggi, kesabaran yang melampaui banyak orang dan gigih membantu papaku mencari uang. Zaman ini tak akan kita temukan Istri Kepala Dinas yang juga bekerja sebagai pegawai, tapi masih kulakan pakaian, bahkan masih juga menjual cemilan dan kue-kue. Tapi itulah faktanya. Mamaku melakukan semua itu tanpa mengeluh.

Meakipun seorang kepala dinas, papaku tidak seperti kadis yang lain. Yang mendidik anak2 mereka dengan kelimpahan harta. Kami didik dengan kesederhanaan, bahkan keprihatinan. Kami semua paham dan mengenal papa kami dengan baik. Beliau selalu mewanti-wanti, “Uang yang kamu bawa pulang kerumah, haruslah uang bersih, karena itu akan dimakan oleh anak dan istrimu, akan menjadi darah dan daging mereka, dan sangat menentukkan bagi pembentukkan karakter dan ibadahnya kelak”. Sebagai Kadis mestinya menghidupi sekian banyak orang dirumah bukan masalah bagi papa dan mamaku. Tapi yah itu tadi, papaku semata-mata mengharapkan gaji saja, sehingga mama perlu bekerja keras untuk membantu dengan melakukan pekerjaan sambilan. Kami diajarkan untuk hidup secukupnya dan berbagi dengan semua sodara yang tinggal bersama kami.

Maklum zaman dulu belum ada kos-kosan, hingga saudara dari kampung yang berkeinginan keras menyekolahkan anaknya, harus menitipkan anak-anaknya pada saudara yang tinggal dikota. Meskipun tuan tumah memperlakukan mereka seperti anak sendiri, tetap saja mereka harus membagi waktu antara belajar dan bekerja melakukan pekerjaan rumah. Karenanya mamaku membuatkan mereka jadwal mencuci, beres-beres rumah dan memasak.

Saat waktunya makan, papaku akan mengumpulkan kami dan semua saudaraku yang tinggal untuk makan bersama. Papa dan mamaku selalu menyempatkan itu, tak ada yang makan sendiri-sendiri.

Pernah suatu ketika, salah satu saudara papa menanyakan hal itu pada papaku, karena di rumah kawannya dia melihat bagaimana tuan rumah dan keluarganya selalu makan lebih dulu, dari pada semua sodaranya yang tinggal dirumahnya, papaku bilang

“Kalau aku dan anak-anakku makan lebih dulu baru kalian, meskipun yang kita makan sama, bisa jadi terbetik dalam pikiranmu bahwa makanan kami lebih istimewa dari yang kalian makan. Padahal apa yang kami makan sama dengan apa yang tantemu suguhkan untuk kalian. Kenapa tidak kita makan bersama saja?”

Saat menceritakan dialognya dengan papaku itu, Kakak sepupuku menangis terisak-isak. Kenangan itu kembali melintas dibenakku. Bagaimana dirumahku dulu, mama membeli meja yang lumayan besar, karena yang lebih tua duduk dekat papaku dan kami anak-anak makan dan menyebar di kursi, di ruang makan rumah kami yang untuk ukuran saat itu lumayan besar. Aku ingat bagaimana istri kakak sepupuku yang datang dari Bandung sampai terheran-heran melihat banyaknya orang yang tinggal dirumah kami dan bagaimana sibuknya mereka memasak layaknya tengah berpesta. Sampai beliau berkata padaku suatu hari ketika aku berkunjung kerumahnya ” Duhh, kakak ingat betul dek, dirumahmu banyak sekali orang yang ditampung papa, mama yah dek. Mama itu sabar banget dek, ngurusin ponakan segitu banyaknya”

Mamaku memang sabar. Dan beliau menjadi istimewa karena kesabaran tersebut. Beliau selalu mengingatkan aku dan semua ponakannya

“Apa yang kalian liat dan tidak kalian sukai atau membuatmu kecewa, dan apa yang kalian dengar mengenai seseorang dan kamu anggap sesuatu hal buruk mengenainya, maka simpan semuanya dalam hati, telan. Karena tidak akan membusuk dan merusak hatimu. Karena tidak semua hal yang kita rasakan harus diungkapkan, karena jika diungkapkan, bisa jadi malah mengakibatkan kerusakan besar, hati yang sakit menjadi pemicu putusnya tali persaudaraan, dan hubungan persahabatan “.

Itu menjadi nasehat terpanjang dari mamaku. Selebihnya kami diberinya pelajaran dengan tindakan. Menyambut tamu dengan wajah sumringah, mengantar tamu pulang hingga kehalaman, dan berpesan untuk datang lagi berkunjung kalau sempat. Jika yang datang ponakan maupun cucu-cucu, baik cucu dalam maupun cucu luar selalu mama menyambut mereka dengan mencium kedua pipi dan kening mereka.
Dulu ketika kami masih kecil-kecil, saat lebaran papa dan mamaku selalu membawa kami berziarah kerumah keluarga yang mereka anggap lebih tua, papa selalu bilang jika tidak saling mengunjungi hatta sepupu dekat akan terasa seperti keluarga jauh, bahkan bisa jadi anak-anakpun tidak akan saling mengenal.

Dan ketika kami dewasa, tidak mungkin lagi kami mengekor di belakang mereka untuk pergi kepesta. Seingatku papa dan mamaku tergolong orang yang rajin mengunjungi keluarga, baik ketempat duka maupun kepesta pernikahan. Nyaris tak ada waktu libur mereka dirumah, semuanya tersita untuk acara mengunjungi keluarga. Ketika papaku meninggal dan mamaku mengambil alih kursi rodanya karena asam urat dan rematik akut, mamaku masih juga mengupayakan hadir ke pernikahan kerabat, apalagi jika yang menikah masih ponakan atau cucu luarnya. Meskipun beliau harus di dorong dan di gendong naik turun mobil.
Ketika beliau sudah merasa payah untuk bisa hadir, beliau masih juga rajin mensortir undangan dan memisahkan undangan keluarganya, menelpon kakak dan adikku serta mengingatkan aku untuk mengupayakan hadir di acara tersebut.

“Jangan sampai kalian tidak pergi, apalagi ke acara keluarga. Hanya itu jalannya kalian bisa bertemu muka dengan sodaramu. Mama tidak kuat lagi pergi”.

Beliau akan diam seribu bahasa, penanda beliau tidak berkenan dengan sikap kami, jika akhirnya beliau tahu karena kesibukan, kami batal pergi.

Ketika kami meminta maaf beliau akan bilang “Sesibuk apapun, usahakanlah hadir, meskipun hanya sebentar. Kalian diundang bukan karena kalian penting, tapi karena mereka menghargai kalian sebagai keluarga. Kalau nanti mama meninggal, mustahil kalian sendiri yang akan membawa jenazah mama ke makam. Pasti sodara-sodaramu juga, yang akan kamu minta untuk mengantar”

Dan benar saja ketika beliau berpulang yang hadir sama banyaknya dengan yang mengantar papa ke pemakaman. Alhamdulillah yang menyolatkan beliau dirumah berulang-ulang. Bahkan masjid di kampung kelahiran beliau juga dipadati pelayat. Ini sungguh diluar ekspetasiku.

Saat papaku meninggal dan manusia menyemut mengantarkan dan menyolatkan beliau, aku berpikir, papaku memang memiliki relasi yang banyak sekali. Baik teman sejawat saat masih berkantor apalagi papaku beberapa kali pindah instansi. Dan belakangan ketika pensiun, papaku memiliki banyak sekali teman pengajian. Dibeberapa masjid yang menjadi tempat pengajian tetapnya, juga dirumah yang nyaris setiap hari beliau didatangi jamaahnya.

Sementara mamaku, karena sakit-sakitan beliau pensiun dini. Meski dulu aktif sebagai ketua Darma wanita dan ikut menjadi pengurus Aisyiyah, setelah pensiun mama berhenti sama sekali berorganisasi, hanya mengurusi papa dan lebih banyak beraktifitas dirumah bersama cucunya. Tapi itulah…. menjadi pelajaran kini bagiku, bahwa kebaikan tidak pernah bisa di rampas waktu, tetaplah dapat kita panen kapanpun kita butuhkan.Mungkin bukan saat kita melakukan kebaikan tapi lama setelahnya. Bukankah kebaikan seseorang akan terlihat diakhir hayatnya?
Ya rabby…. untuk semua yang beliau telah lakukan untuk kami dan para ponakan, jadikan itu sebagai ladang amal beliau yang tidak putus-putusnya. Menjadi teman baginya dialam kubur, lapangkan kubur keduanya yah rabby, terangi dan tempatkan keduanya ditempat terbaik. Amin.. ya rabbal alamin.

My Inspiration has gone

Hari ketiga, usai sholat subuh kakakku sudah tiba dirumahku, karena semalam kami memang janjian ke makam mama. Embun yang berjatuhan dari sisa hujan kemarin, membuat udara sedikit dingin. Nikmat sekali rasanya menghirup udara pagi sisa hujan dan harum bau tanah. Satu dua ekor burung gereja melintas dihalaman. Setelah sekian hari panas terik menghajar kulit. Hujan deras sejak subuh hingga siang kemarin seolah memberi harapan bahwa kami akan baik-baik saja.

Tepat setahun gempa dan likuifaksi dan hari ketiga mamaku dimakamkan. Serasa mama masih dikamarnya, seperti pagi sebelumnya. Tatkala kami semua berpacu dengan mentari untuk beraktivitas pagi. Mama akan duduk diruang tengah hingga kami berangkat bekerja.
Rasa haru kembali menyerbuku, ke “pulang” an mama benar-benar beliau siapkan.

Bagaimana tidak, ketika kami yakin bahwa mama benar-benar telah tiada, aku meminta anakku untuk segera membeli kafan, karena rencananya mama akan dimakamkan ba’da zuhur dan aku ingin besok pagi mama sudah selesai aku mandikan. Sehingga yang datang melayat sudah menemui mamaku dalam keadan bersih dan rapi. Merekapun bisa langsung menyolatkan mamaku jika kemudian tidak bisa datang lagi saat pemakaman.

Jam 11 malam, aku mulai menggunting kafan mama. Kesedihan datang bergelombang menyesakkan dada. Perasaan sedih yang berbeda dengan saat aku menggunting kafan sebelum-sebelumnya. Dulu tatkala aku menggunting kafan dari jenazah yang akan aku mandikan, aku berpikir pemiliknya tengah menungguiku menyelesaikan baju terakhir yang akan dipakainya, mungkin pemiliknya sering berpakaian mahal dari boutique terkenal, lalu akhirnya baju putih tak berjahit yang akan dia kenakan digunting dan dibuat olehku yang sama sekali tak pandai menjahit bahkan memasang kancing sekalipun. Karena merasa ditunggui pemiliknya maka aku akan mengerjakan dengan khikmat dan hati-hati.

Saat ini aku menggunting dengan perasaan haru biru. Mamaku tipe perempuan yang suka menggunakan baju dengan warna terang dan ramai, kegemaran ini menurun pada aku dan adikku dan menjadi candaan di antara kami. Meskipun beliau suka warna menyolok dan ramai namun beliau sama selali tidak seperti aku dan adikku atau anak perempuan kami. Beliau cenderung sedikit bicara, tidak seperti kami anak beranak semuanya ramai, dan kalau ketemu pasti seperti pasar atau seperti gerombolan tawon. Mama hanya akan senyum-senyum senang jika melihat kami ribut saling saut menyahut jika berkisah. Tidak jarang beliau akan terbahak hingga mengeluarkan air mata jika melihat hal-hal lucu dari tingkah pola cucunya, atau mendengar ceritaku.

Mamaku juga perempuan yang menyukai sejarah, karenanya beliau suka menyimpan berbagai barang-barang kenangan dilemarinya. Seperti kebaya pertamanya, gelang pertama ketika baru menikah, cincin yang dibeli dengan gaji pertama dsb. Bahkan mama masih menyimpan sertifikat juara puisiku, piagam penghargaan saat aku selesai mengikuti Batra PII. Yang semuanya membuatku kagum betapa rapinya beliau menyimpan semua dokumentasi. Foto mama ketika gadis, foto papa ketika baru menjadi Pegawai hingga foto mengikuti SPAMA. Aku tidak setelaten beliau, aku cenderung menyimpan semua kenangan dalam ingatan yang kutuang dalam tulisan, hingga suatu saat bisa aku baca dan melihat kembali hal-hal yang hilang dirampas waktu.

Ibuku adalah produk perempuan zaman dulu, yang di haruskan trampil mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, pandai menjahit, menyulam, merajut, memasak dan membuat kue. Keterampilan yang sebagian besar tidak kupahami. Karenanya saat aku menggunting kafannya, sedihku tak dapat kutahan karena akhirnya aku bisa membuatkan beliau baju untuk perjalanan abadinya dengan tanganku yang tak ahli.

Selesai sholat subuh aku mengatur semua kelengkapan mandi mama. Sabun dan sampo, sisir, bedak dan parfumnya. Dan meminta putriku mengambilkan potongan baju ihram yang akan dipake untuk mengeringkan badan mama setelah mandi. Yang satu potongnya lagi telah digunakan papa saat papa dimandikan dua tahun lalu.
“Bunda, ini ada kain kafan juga dilemari pue, diletakkan bersama kain ihram ini” kata chacha mengejutkan aku. Ya Illahi…. Akubterperangah melihat kain putih yang diambil chacha dari lemari mamaku.

Ternyata mama juga sudah menyediakan kain kafan untuk dirinya sendiri. Kapan beliau membelinya? Seingatku hanya beberapa hari setelah papa meninggal mama langsung mengambil alih kursi roda papa. Dan sejak itu, mama tidak bisa pindah sendiri dari kursi roda kecuali digendong. Lalu kapan beliau membeli kain kafan ini? Pastinya ketika beliau masih kuat dan masih sering pergi belanja untuk kebutuhannya. Artinya sebelum papa meninggal. Ya Illahi, mereka berdua sudah menyiapkan kelengkapan mereka.

Akhirnya Aku kembali menggunting kafan mama yang sudah beliau siapkan dengan air mata berlinang, dan menyimpan kafan yang semalam sudah kugunting.

Bahkan untuk baju abadimu engkau sendiri yang memilih sendiri bahannya.. sungguh mengagumkan.


Sebelum mama aku mandikan, aku menatap wajahnya. Wajah teduh yang tengah tidur lelap, mata dan mulutnya terkatup rapat, tapi garis senyumnya tetap terpeta dengan jelas. Perempuan yang sebagian besar waktunya habis mengurus anak dan ponakannya yang yatim.

Mamaku memang bukan peremouan biasa, kesabarannya sama sekali tidak bisa kutandingi. Aku ingat ketika masih remaja aku merajuk karena meminta dibelikan sesuatu. Tapi waktu itu mama meminta aku bersabar karena beberapa orang sepupuku harus membayar biaya sekolah dan segala perlengkapannya. Aku protes keras karena merasa mama lebih mendahulukan ponakan-ponakannya. Aku ingat waktu itu mama masuk kekamarku dan duduk di tepi tempat tidurku. Aku membiarkan saja bahkan tidur menelungkup. Mama bukan hanya membujuk tapi juga meminta maaf karena menunda mengabulkan permintaanku ” nak, mama minta maaf… bukan mama tidak mau membelikan apa yang kau minta, mama hanya minta pengertianmu. Karena adik-adik sepupumu lebih butuh dipenuhi kebutuhan sekolahnya. Kau tahu, kalau gaji papa dan gaji mama rasanya lebuh dari cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kalian berempat. Tapi bagaimana dengan sepupumu? Mama juga bertanggung jawab menjadikan mereka sama dengan orang lain. Mereka juga harus jadi manusia yang bermamfaat, paling tidak nanti ketika mereka dewasa mereka tidak menjadi beban keluarga. Bisa sekolah dan bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri” mamaku mengelus pundakku. Aku berbalik dan melihat mamaku menjelaskan dengan mata berembun. Seketika hatiku luruh… apalagi mengingat anak-anak Om saudara dari mamaku yang tinggal bersama kami. Empat belas orang bersaudara dari dua ibu. Yang ketika Omku meninggal putra bungsunya baru berusia beberapa bulan. Mamaku memang tidak mengambil bayi tersebut, dia diambil oleh adik bungsu mamaku. Tapi beberapa orang langsung tinggal bersama kami, dan menjadi seperti saudara sedarah dengan kami. Mamaku memang luar biasa. Jika aku yang ada di posisinya mungkin aku tak akan sekuat beliau. Tidak mudah membesarkan 4 orang anak ditambah pula dengan sekian orang ponakan, bahkan menampung lagi ponakan dari saudara-saudaranya yang lain termasuk beberapa orang ponakan sepupu dalam satu rumah. Tapi Mamaku tidak pernah sekalipun mengeluh. Beliau bekerja sebagai pegawai dan nyambi kulakan apa saja yang bisa dijual. Semua dilakukannya dengan ikhlas tanpa mengeluh…..

Bersambung

🌹 Memberilah dengan sepenuh kasih 🌹

Sudah dua hari ini viral soal “nasi anjing” di medsos. Pelaku pemberi nasi tersebut sudah ditemukan dan menyampaikan alesan kenapa mereka memberi nasi anjing kepada masyarakat, pertama karena porsi makanannya lebih banyak dari “Nasi Kucing” dan katanya karena Anjing adalah binatang yang setia.

Mereka sudah meminta maaf dan sebagai muslim apalagi di bulan Ramadhan adalah saat yang kita percaya sebagai bulan penuh “Rahmat” dan “Ampunan” saatnya kita semua memang diuji kesabaran dan kemampuan untuk memaafkan; kasus itu kita anggap telah selesai. Tapi mari kita ambil pelajaran dari kasus tersebut tentang makna ” Berbagi dengan penuh kasih”

Berbagi adalah keharusan bagi tiap orang yang dilebihkan oleh Allah swt. Kelebihan apa saja dalam hidupnya, lebih harta, lebih ilmu, lebih kecerdasan, lebih talenta, pokoknya lebih apapun dari orang lain. Berbagi menjadi sesuatu yang mulia jika diiringi dengan keihlasan dan kerelaan. Bukan saja mulia dimata manusia tapi juga mulia di mata Allah swt.
Dalam AlQur’an ada 39 ayat yang menjelaskan tentang bagaimana indahnya berbagi dengan sepenuh keikhlasan. Apakah bersedekah, berinfak dsb.

Al-Baqarah (2) : 195. “Dan berinfaklah kamu (bersedekah atau nafkah) di jalan Allah dan janganlah kamu mencampakkan diri kamu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karana sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”.

Al-Baqarah (2) : 245 “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”.

Itu dua ayat bagaimana Allah menyukai orang-orang yang sengaja berbagi karena Allah swt.
Tentu saja berbagi yang penuh cinta dan kerelaan. Kepada sesama manusia yang kita liat begitu sangat membutuhkan.

Saat ini Indonesia didera pandemi corona, yang bukan saja menjatuhkan banyak korban tapi juga nyaris merusak demikian banyak sendi sosial. Tidak terhitung usaha yang harus gulung tikar, karyawan yang harus di rumahkan akibat perusahaan tidak mampu mengaji. Jumlah penduduk miskin bertambah, dan penduduk yang kelaparanpun pasti bertambah jumlahnya.
Kondisi itu tentu saja sangat membutuhkan kepedulian seluruh rakyat Indonesia bukan hanya pemerintah. Hingga menjadi penting artinya bantuan dari para dermawan dalam bentuk apapun.
APD untuk para tenaga medis di garda terdepan, masker untuk masyarakat yang masih harus keluar rumah untuk mengais rezeki, sembako untuk keluarga yang tidak lagi mempunyai mata pencaharian, bahkan bantuan nasi bungkus bagi mereka yang terpaksa harus meminta karena tak punya uang untuk membeli makanan. Apapun bentuk bantuannya saat sekarang akan mereka terima dengan hati gembira dan dada yang lapang.

Tidak sedikit dari mereka adalah kaum duafa, yang secara fisik terkondisi oleh keadaan sehingga masuk dalam kategori orang yang butuh pertolongan. Mereka manusia, yang punya harga diri dan perasaan, yang sekiranya tidak dalam situasi seperti sekarang bisa dipastikan masih mampu bekerja. Sebagai buruh cuci, pekerja serabutan, bahkan pemulung.
Tapi karena situasi yang tidak memungkinkan mereka keluar rumah, sehingga dengan terpaksa mereka menadahkan tangan menerima belas kasihan orang lain.
Memberi sesuatu kepada mereka tentunya dengan rasa penghargaan karena yang kita bagi dan kita berikan tidak bisa juga kita klaim sebagai milik kita sepenuhnya, melainkan anugerah, pemberian Allah yang diberikannya dengan penuh kehormatan lewat kemudahan mendapat pekerjaan, kehormatan mendapat kedudukan dan jabatan, larisnya perdagangan, suksesnya bisnis dan 1001 cara Allah swt memberi kelancaran rezeki. Jika Allah swt memberikan anugerahnya krpada kita dengan cara yang begitu indah, begitu elegan dan penuh kehormatan, maka kitapun harus memberikan bantuan dan pertolongan kita dengan cara yang elegan, tanpa menyakiti rasa kemanusian apalagi keyakinan orang yang kita beri bantuan.

Anjing mungkin adalah binatang setia, tidak sedikit yang menuliskan tentang bagaimana kesetiaan seekor anjing kepada pemiliknya, bahkan ada yang sampai diangkat kelayar lebar, dan menyaksikan filmnya banyak yang meneteskan air mata.

Tapi fakta bahwa keyakinan orang muslim anjing adalah salah satu hewan yang di haramkan untuk dimakan, bahkan ludahnya saja diyakini sebagai najis tentu sudah menjadi pengetahuan kita bersama, agama apapun dia, seperti halnya pengetahuan kita bahwa sapi adalah hewan suci bagi masyarakat hindu. Sehingga melabeli nasi bungkus sebagai “Nasi Anjing” dan membagikan kepada kaum muslimin itu amat menyakiti perasaan kaum muslimin. Meskipun dengan dalih yang disebutkan diatas.
Bahkanpun menurut yang membagikan, bahwa nasi itu sesungguhnya bukan berisi daging anjing tapi daging sapi. Tapi di beri stempel Nasi anjing, tentu saja itu dianggap sesuatu yang tidak lazim dan menyakiti. Karena seorang muslim dituntut untuk berhati-hati dalam segala hal termasuk dalam mengkonsumsi makanan.

Mungkin sebagian mengatakan bahwa dalam kondisi darurat yang haram boleh menjadi halal. Tapi tidak dalam kondisi seperti sekarang. Karena kondisi sekarang belum lagi dikategorikan sebagai kondisi darurat. Karena masih banyak orang lain yang membagi rezeki mereka dengan cara baik tanpa menyakiti, membagikan rezekinya dengan memperlakukan orang lain dan memperlakukan mereka sebagai manusia terhormat. Toh yang dia bagikan, sesungguhnya rezekinya sendiri yang kebetulan dititip Allah pada mereka dan mereka diutus sebagai perpanjangan tangan untuk membahagiakan orang lain melalui tangan mereka?

Bagaimana rasanya memakan nasi bungkus yang kertasnya di stempel nasi anjing? Istilah yang tidak lazim digunakan. Kita bisa ketawa ketiwi ketika disuguhi nasi kucing, karena itu merupakan istilah yang lazim digunakan di daerah jogya, surakarta maupun daerah di jawa sana, untuk nasi porsi kecil dan kita tahu bahwa penjualnya mengolah bahannya bahkan menatanya secara terbuka di depan pembelinya. Adalagi sego macan yang porsinya tiga kali lebih banyak dari nasi kucing biasanya dilengkapi nasi bakar, ikan dan sayuran.
Sehingga memilih istilah nasi anjing karena porsinya lebih besar rasanya kok alasan yang dicari-cari…. tapi sudahlah. Saya memang tidak sedang membahas itu, karena kita sudah sepakat memaafkan. Point saya menulis ini adalah bagaimana berbagi dengan cinta tanpa merusak apalagi menyakiti perasaan orang yang tengah butuh bantuan dan pertolongan.

Allah menegur keras orang-orang yang bersedekah tapi menyakiti perasaan orang yang diberi.

Al- Baqarah (2) 264 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) shadaqahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

Jadi jika ingin berbagi, berilah bantuanmu dengan ikhlas, tanpa mengungkit apalagi disertai dengan kata-kata ataupun simbol yang bisa menyakiti perasaan orang yang diberi, inshaa allah pemberian kita bermamfaat baginya, dan akan menjadi berkah bagi kita yang membantu.
Memanusiakan manusia dengan memberi penghormatan kepada mereka sedikitpun tidak akan mengurangi kehormatanmu apalagi merendahkan derajatmu. Justeru sebaliknya kualitas dirimu akan nampak dari caramu memperlakukan orang lain.

Selamat menjalankan ibadah shaum hari ke lima, semoga menjadi amal yang diterima dan pemberat di yaumil akhir kelak🙏

Transformasi spiritual Kartini

Hari ini sebagaimana tahun – tahun sebelumnya, ucapan selamat merayakan hari Kartini mengalir dihampir semua time line. Biasanya akan diikuti dengan foto sahabat dan saudara- saudara yang mengenakan kebaya dan sarung baru, mengunakan sanggul atau bahkan menggunakan jilbab yang serasi dengan kebaya…. pokoknya hari seperti ini tua, muda, besar, kecil tidak terkecuali ramai-ramai menggunakan kebaya, songket ataupun buya sabe.

Tahun ini istimewa… perayaan Kartini tidak dirayakan di hotel dan gedung mewah, tapi dirayakan di medsos dengan memajang foto Kartini atau bahkan foto perempuan berkebaya dan menggunakan masker😀.

Ditengah Pandemi saya merenung apakah cita-cita Kartini hanya selesai di gedung mewah dengan kebaya dan sanggul? Selesai dibahas di seminar atau talk show? Selesai dengan saling memgirimkan ucapan selamat merayakan hari Kartini dengan dilengkapi foto beliau?

Ada sesungguhnya yang kita lupa, bahwa cita-cita Kartini sesungguhnya lebih dari apa yang sampaikan kepada anak-anak kita, lebih dari sekedar kebaya dan sanggul.

Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tanggal 1 Agustus 1903 RA Kartini menulis

” Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yakni Hamba Allah”

Surat itu ditulis oleh Kartini setelah beliau menjadi santri Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat.

Pertemuan RA Kartini dengan Kyai Soleh Darat membuat Kartini mengalami Transformasi spiritual. Pandangannya tentang dunia barat yang semula dipuji2nya karena kebebasan mereka berubah. Sebagaimana kutipan suratnya kepada Ny. Abendanon tanggal 27 Oktober 1902. Dimana dia menulis,

“Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?.”

Bahkan dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, RA Kartini juga menulis:

“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yang disukai.”

Transformasi spritual Kartini ini , adalah sesuatu yang luar biasa hebatnya, nampak benar bahwa Kartini memang seorang “pembelajar” yang tidak menelan bulat-bulat segala sesuatu disekitarnya, tapi juga membedah dan menganalisis segalanya dengan kritis.
Liat saja pertanyaan yang beliau lontarkan kepada Kyai Soleh Darat pertama kali bertemu setelah beliau merengek kepada pamannya untuk dipertemukan dengan Sang Kyai.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar RA Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. RA Kartini melanjutkan:

“Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah SWT. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Alquran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Alquran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Pertanyaan dan pernyataan yang bukan hanya menggugah perasaan Kartini tapi juga menggugah kesadaran sang Kyai, yang akhirnya berusaha menerjemahkan Al Qur’an dan menghadiahkan sebagai hadiah ulang tahun perkawinan Kartini. Meskipun tidak selesai 30 juz karena keburu sang Kyai Mangkat.

Transformasi spiritual itu sejatinya menjadi hal yang harus di angkat dan dan diperkenalkan kepada Kartini-Kartini muda, siapa dan bagaimana sesungguhnya Kartini yang mereka peringati setiap tahun dengan penuh kebanggaan.

Jiwa pembelajar, semangat untuk menjadi Hamba Allah yang sempurna, semangat untuk mengubah citra Islam yang sering menjadi bahan fitnah bahkan oleh pemeluknya sendiri.

Tidak hanya sekedar menampilkannya dalam balutan kebaya mewah dan songket mahal tapi sedikitpun tidak mewakili jiwa Kartini yang pembelajar, kritis dan taat pada ajaran agamanya.

Menjadi Hamba Allah ditengah pandemi seperti saat ini, maka Kartini zaman now adalah Kartini yang mestinya kreatif melihat peluang. Tidak perlu muluk menghayal menjadi tokoh penting dalam sejarah lalu diperingati kelahirannya bak RA Kartini. Tapi cukuplah menjadi pejuang di Garda depan keluarga. Bagaimana bahu membahu dengan suami mendidik anak-anak menjadi pemimpin masa depan, menjadi imam di keluarganya kelak. Bagaimana keluar dari Pandemi ini dan memenangkan pertarungan melawan covid19. Bagaimana tetap bertahan di tengah kemelut sosial yang merampas masa depan banyak keluarga.
Bagaimana mengulurkan tangan membantu kaum duafa yang harus kehilangan mata pencaharian, yang tidak bisa diam dirumah, harus turun kejalan untuk bisa mengais rezeki. Itu kerja nyata untuk menjadi “Hamba Allah” seperti yang di cita-citakan Kartini.

Jika kita mau membuka mata dan melihat sekitar kita, maka hati kita akan teriris, melihat bagaimana binar mata saudara kita menerima sembako yang tidak seberapa, tapi mereka yakini itu mampu mengisi perut mereka sekeluarga yang membutuhkan imunitas agar bisa melawan virus laknat ini.
Bagaimana rasa syukur mereka, yang mereka ungkapkan dengan doa panjang yang rasanya tidak sebanding dengan beras 5 kg dan 1 liter minyak makan yang mereka dekap kuat.

Sesungguhnya negeri sedang sakit, bukan hanya karena disebabkan oleh virus Corona saja tapi sakit karena semakin banyak rakyat yang menangis pilu kekurangan makan.
Negeri ini sakit karena banyaknya orang yang mampu justeru menimbun bahan pokok dan menjualnya lagi dengan harga melangit sementara ada orang yang harus mengais sampah untuk mencari sisa makanan.
Bagaimana kita bisa seperti Kartini? Yang ingin diberi gelar Hamba Allah? Hambanya yang pengasih dan penyayang? Yang memberi apa yang dia miliki tatkala ada yang butuh? Yang menyayangi orang lain dan tidak tega melihat orang lain dalam kesusahan?
Itu semangat Kartini yang harus kita teladani, yang harus kita contohi agar beliau tidak mengisak dikuburannya, karena kecewa melihat perempuan-perempuan yang beliau perjuangkan hanya sanggup mengambil kebaya dan sanggulnya sebagai pelajaran

Selamat memperingati Hari Lahir RA Kartini, dan merenung apakah kita sudah mengikuti jalan yang beliau rintis?😥

Pelajaran hari ini

Hidup ini seringkali mengajarkan kita banyak hal, dalam semua kondisi dan situasi. Hanya saja kita sering menutup mata dan tidak mau belajar serta membuka mata untuk melihat dan mencari apa sesungguhnya di balik semua peristiwa yang Allah bukakan di hadapan kita.

❣Selamat Jalan Mom❣

Setelah sholat subuh saya masuk ke kamar mama, duduk disisinya sambil membaca surat yasin. Mama masih tidur atau setidaknya seperti itulah kondisi beliau yang aku saksikkan. Kuselesaikan bacaanku sambil mengelus punggung tangannya yang masih tertusuk jarum infus. Karena beliau masih tidur, aku bersegera mandi dan berdandan bersiap-siap kekantor. Sekali lagi aku kekamar mama dan melihat beliau sudah membuka mata.
Kusapa beliau sambil mengelus pipinya yang tirus, entah kenapa beliau sama sekali tak mau memandang kearahku. Aku sampai perlu menolehkan wajah beliau menghadap kearahku dan bilang “Ma, ini saya, mama ingat kan?” Kataku menyebut nama panggilanku, karena aku merasa hanya wajah mama yang memandang kearahku tapi sesungguhnya beliau tidak benar-benar melihatku. Aku menggenggam jemarinya dingin hingga pergelangan tangan, aku juga meraba kaki beliau juga dingin hingga pergelangan.

Kutatap sekali lagi matanya, dan hatiku seketika luruh. ” Ya Illahi, inikah saatnya?” Aku langsung membatalkan rencana ke kantor. Masih tetap duduk disisi mama, aku mengabari kantor bahwa aku hari ini izin tak masuk kantor karena khawatir meninggalkan mama dalam kondisi seperti itu. Setelah mengabari semuanya, aku memanggil adikku dan menanyakan bagaimana pendapatnya. Dia menyerahkan keputusannya padaku, hati kecilku sudah tidak mengizinkan Mama, di bawa ke Rumah sakit lagi. Tapi aku juga tidak ingin disalahkan oleh sodara-sodaraku, aku akhirnya meminta anak laki-lakiku untuk menjemput kakak perempuan papa. Chacha putriku segera memeriksa nadi, mengukur tensi, dan melanjutkan dengan memeriksa gula darah mama, tapi dengan putus asa dia bilang tangan pue sudah tak berdarah lagi. Kembali hatiku terketuk. Chacha mengeluarkan senternya dan memeriksa mata mama, “Bagaimana Cha?” Terdengar suara adikku bertanya cemas, “tak apa-apa” lirih suara chacha menjawab. Tapi aku menangkap ketidak yakinan dalam suara itu. Ketika Tante endah datang ” berdiri sejenak di tempat tidur langsung menunduk di kuping mama, berbisik dan masih tetap dalam posisi itu sekian lama. Ketika tante meluruskan tubuhnya, aku langsung bertanya ” menurut tante, apa mama kita bawa lagi kerumah sakit” Tante menggeleng keras ” Mamamu sudah “berjalan” ” jawaban yang sama ketika saya bertanya bagaimana kondisi papa waktu itu. Yah pengalamannya mengajarkan banyak hal padanya, dan aku percaya pada penglihatannya. Bahkan aku juga tidak mampu mengingkari hatiku yang juga membisikkan hal yang sama ketika melihat pandangan mama. Segera aku menelpon kakak laki-laki yang saat bersamaan baru saja berangkat ke kabupaten Tojo Una-Una dalam rangka hari Pangan. Aku langsung meminta dia pulang, kalau bisa langsung saja ke bandara kataku. Karena seingatku masih dua jam lagi ada penerbangan satu-satunya dari bandara Tg api ke Bandara Mutiara. Dan ternyata benar, alhamdulillah kakakku masih bisa terbang meski harus berlari-lari di landasan pacu karena tinggal dia saja penumpang terakhir.
Setelah kami semua berkumpul, satu-satu sodara dan handai tolan datang berkunjung, dan banyak yang kemudian berkenan membacakan mama surah Yasin. Nafas mama halus, dan perlahan tangan dan kaki beliau mulai hangat.
Sebagaimana layaknya orang lain di usia 75 tahun mamaku sudah memakai gigi tiruan, salah satu kerabat menanyakan padaku, kenapa gigi tiruan mama tak dilepas? Aku hanya mengatakan jika beliau ingin maka pasti beliau akan meminta kami melepasnya, mengingat mama menutup mulutnya rapat-rapat sejak kemarin. Jelang jam 15.12 saya dikejutkan oleh chacha putri saya bahwa mama tiba-tiba saja mengeluarkan gigi tiruannya dan chacha tinggal menariknya keluar. Hatiku semakin luruh, ini memang sudah waktunya, aku berusaha menguatkan hati. Melupakan percakapan kami berdua tiga minggu lalu.
Semakin banyak sodara kami datang menjenguk, sementara kondisi mama stagnan tak ada kemajuan. Sepupuku bergantian mengaji, herannya aku diserang kantuk yang amat sangat. Aku berusaha melawan dengan ikut berzikir, tapi akhirnya aku menyerah dan langsung terlelap.
Lama juga ternyata aku lelap, karena aku baru terbangun tepat jam 5 sore, buru-buru aku sholat ashar dan langsung duduk di sisi mama, sepupu masih begantian membaca yasin kuperhatikan nafas mama teratur diiringi dengkur halus. Kuraba pergelangan tangan dan kakinya tidak sedingin subuh tadi. Kuluruskan kepalanya yang jatuh ke sisi kanan bantal. Surat yasin masih berkumandang tatkala azan magrib terdengar dari masjid belakang rumah. Para lelaki beranjak ke masjid untuk sholat berjamaah. Kutengok mama dan melihat perubahan drastis. Nafas mama yang tadinya teratur mulai melambat dan keras. Aku tidak terkejut hanya takjub sedemikian cepat proses perubahan terjadi.Aku ingat kata-kata beberapa tetua di kampung, bahwa seseorang yang hendak menghembuskan nafas terahir sebagian besar menunggu saat sepi dan tidak ingin disaksikan banyak orang. Nampaknya itu terjadi pada mamaku. Saat semua lelaki beranjak ke masjid, dan sebagian sepupu beranjak keluar kamar untuk wudhu, mamaku juga bersiap berangkat. Sepupuku yang jauh lebih tua dariku menghentikan bacaannya. Aku melarang sepupu, anak dan ponakan yang lain menyentuh tubuh mama. Dan serentak kami mengikuti nafas mamaku dengan ucapan Allah… Allah… Allah… berulang-ulang. Entah pada ucapan yang keberapa, mama menarik nafas panjang dua kali dan menyelesaikan semuanya dengan tenang….. Inna lillahi wa inna illahi rajiun. Beliau akhirnya “pulang” tepat 3 minggu saat menyampaikan dan berpamitan padaku.
Masih segar dalam ingatanku, sore itu, sehari setelah aku pulang dari perjalanan dinas mama meminta adikku mendorong kursi rodanya kekamar menemuiku. Aku yang tengah berbaring langsung duduk dipinggir tempat tidur ” kak, mama mau bicara sama kakak, penting kata mama” Adikku kemudian meninggalkan kami berdua. Aku menarik kursi mama dan kami saling berhadapan ” Ada apa Ma? Mama mau bilang apa?” Tanyaku heran karena tak biasanya mamaku seperti itu. ” Mama mau bilang, rasanya mama tidak lama lagi menyusul papamu?” Aku memandang beliau ” Mama kenapa bilang begitu? Apa Mama kecewa dengan kami? Apa ada sikap kami yang bikin mama marah dan tersinggung?” Tanyaku mengelus lengannya yang keriput. Sungguh aku tiba-tiba merasa sedih sekali. ” Tidak ada… kalian sudah merawat mama dengan baik, bahkan mama yang merasa sudah merepotkan kalian” katanya bikin air mataku tumpah. ” Mama tidak boleh bicara begitu, sesungguhnya apa yang kami lakukan sama sekali tidak artinya dengan apa yang sudah mama lakukan untuk kami” kataku mengisak ” Mama jangan bilang mau menyusul papa, kita semua pasti menyusul papa” kataku lagi dengan air mata makin deras. Aku amat tahu seperti apa rindunya mama terhadap papaku, karena sering sekali beliau bertanya bahkan minta adikku memanggilkan ustadz dan menanyakan kenapa papa terus saja ada dalam ingatannya. Sehingga saat kami mengajaknya ke makam papa, beliau sangat gembira meskipun artinya beliau akan kesakitan karena diangkat bahkan di gendong dengan kursi rodanya.
Malam ini mamaku akhirnya “pulang” kerumah abadi. Kami memang tidak tahu seperti apa disana, tapi kami percaya mama ada ditangan penjaga yang lebih baik. Perawat yang lebih cermat dan mendapat perlindungan terbaik dari yang Maha sempurna, jauh lebih baik dari apa yang kami anak-anaknya sanggup berikan.
Selamat jalan Mama, engkau kini menemui Rabbmu bersama orang yang paling kau rindukan dan sangat kau cintai….