❣Selamat Jalan Mom❣

Setelah sholat subuh saya masuk ke kamar mama, duduk disisinya sambil membaca surat yasin. Mama masih tidur atau setidaknya seperti itulah kondisi beliau yang aku saksikkan. Kuselesaikan bacaanku sambil mengelus punggung tangannya yang masih tertusuk jarum infus. Karena beliau masih tidur, aku bersegera mandi dan berdandan bersiap-siap kekantor. Sekali lagi aku kekamar mama dan melihat beliau sudah membuka mata.
Kusapa beliau sambil mengelus pipinya yang tirus, entah kenapa beliau sama sekali tak mau memandang kearahku. Aku sampai perlu menolehkan wajah beliau menghadap kearahku dan bilang “Ma, ini saya, mama ingat kan?” Kataku menyebut nama panggilanku, karena aku merasa hanya wajah mama yang memandang kearahku tapi sesungguhnya beliau tidak benar-benar melihatku. Aku menggenggam jemarinya dingin hingga pergelangan tangan, aku juga meraba kaki beliau juga dingin hingga pergelangan.

Kutatap sekali lagi matanya, dan hatiku seketika luruh. ” Ya Illahi, inikah saatnya?” Aku langsung membatalkan rencana ke kantor. Masih tetap duduk disisi mama, aku mengabari kantor bahwa aku hari ini izin tak masuk kantor karena khawatir meninggalkan mama dalam kondisi seperti itu. Setelah mengabari semuanya, aku memanggil adikku dan menanyakan bagaimana pendapatnya. Dia menyerahkan keputusannya padaku, hati kecilku sudah tidak mengizinkan Mama, di bawa ke Rumah sakit lagi. Tapi aku juga tidak ingin disalahkan oleh sodara-sodaraku, aku akhirnya meminta anak laki-lakiku untuk menjemput kakak perempuan papa. Chacha putriku segera memeriksa nadi, mengukur tensi, dan melanjutkan dengan memeriksa gula darah mama, tapi dengan putus asa dia bilang tangan pue sudah tak berdarah lagi. Kembali hatiku terketuk. Chacha mengeluarkan senternya dan memeriksa mata mama, “Bagaimana Cha?” Terdengar suara adikku bertanya cemas, “tak apa-apa” lirih suara chacha menjawab. Tapi aku menangkap ketidak yakinan dalam suara itu. Ketika Tante endah datang ” berdiri sejenak di tempat tidur langsung menunduk di kuping mama, berbisik dan masih tetap dalam posisi itu sekian lama. Ketika tante meluruskan tubuhnya, aku langsung bertanya ” menurut tante, apa mama kita bawa lagi kerumah sakit” Tante menggeleng keras ” Mamamu sudah “berjalan” ” jawaban yang sama ketika saya bertanya bagaimana kondisi papa waktu itu. Yah pengalamannya mengajarkan banyak hal padanya, dan aku percaya pada penglihatannya. Bahkan aku juga tidak mampu mengingkari hatiku yang juga membisikkan hal yang sama ketika melihat pandangan mama. Segera aku menelpon kakak laki-laki yang saat bersamaan baru saja berangkat ke kabupaten Tojo Una-Una dalam rangka hari Pangan. Aku langsung meminta dia pulang, kalau bisa langsung saja ke bandara kataku. Karena seingatku masih dua jam lagi ada penerbangan satu-satunya dari bandara Tg api ke Bandara Mutiara. Dan ternyata benar, alhamdulillah kakakku masih bisa terbang meski harus berlari-lari di landasan pacu karena tinggal dia saja penumpang terakhir.
Setelah kami semua berkumpul, satu-satu sodara dan handai tolan datang berkunjung, dan banyak yang kemudian berkenan membacakan mama surah Yasin. Nafas mama halus, dan perlahan tangan dan kaki beliau mulai hangat.
Sebagaimana layaknya orang lain di usia 75 tahun mamaku sudah memakai gigi tiruan, salah satu kerabat menanyakan padaku, kenapa gigi tiruan mama tak dilepas? Aku hanya mengatakan jika beliau ingin maka pasti beliau akan meminta kami melepasnya, mengingat mama menutup mulutnya rapat-rapat sejak kemarin. Jelang jam 15.12 saya dikejutkan oleh chacha putri saya bahwa mama tiba-tiba saja mengeluarkan gigi tiruannya dan chacha tinggal menariknya keluar. Hatiku semakin luruh, ini memang sudah waktunya, aku berusaha menguatkan hati. Melupakan percakapan kami berdua tiga minggu lalu.
Semakin banyak sodara kami datang menjenguk, sementara kondisi mama stagnan tak ada kemajuan. Sepupuku bergantian mengaji, herannya aku diserang kantuk yang amat sangat. Aku berusaha melawan dengan ikut berzikir, tapi akhirnya aku menyerah dan langsung terlelap.
Lama juga ternyata aku lelap, karena aku baru terbangun tepat jam 5 sore, buru-buru aku sholat ashar dan langsung duduk di sisi mama, sepupu masih begantian membaca yasin kuperhatikan nafas mama teratur diiringi dengkur halus. Kuraba pergelangan tangan dan kakinya tidak sedingin subuh tadi. Kuluruskan kepalanya yang jatuh ke sisi kanan bantal. Surat yasin masih berkumandang tatkala azan magrib terdengar dari masjid belakang rumah. Para lelaki beranjak ke masjid untuk sholat berjamaah. Kutengok mama dan melihat perubahan drastis. Nafas mama yang tadinya teratur mulai melambat dan keras. Aku tidak terkejut hanya takjub sedemikian cepat proses perubahan terjadi.Aku ingat kata-kata beberapa tetua di kampung, bahwa seseorang yang hendak menghembuskan nafas terahir sebagian besar menunggu saat sepi dan tidak ingin disaksikan banyak orang. Nampaknya itu terjadi pada mamaku. Saat semua lelaki beranjak ke masjid, dan sebagian sepupu beranjak keluar kamar untuk wudhu, mamaku juga bersiap berangkat. Sepupuku yang jauh lebih tua dariku menghentikan bacaannya. Aku melarang sepupu, anak dan ponakan yang lain menyentuh tubuh mama. Dan serentak kami mengikuti nafas mamaku dengan ucapan Allah… Allah… Allah… berulang-ulang. Entah pada ucapan yang keberapa, mama menarik nafas panjang dua kali dan menyelesaikan semuanya dengan tenang….. Inna lillahi wa inna illahi rajiun. Beliau akhirnya “pulang” tepat 3 minggu saat menyampaikan dan berpamitan padaku.
Masih segar dalam ingatanku, sore itu, sehari setelah aku pulang dari perjalanan dinas mama meminta adikku mendorong kursi rodanya kekamar menemuiku. Aku yang tengah berbaring langsung duduk dipinggir tempat tidur ” kak, mama mau bicara sama kakak, penting kata mama” Adikku kemudian meninggalkan kami berdua. Aku menarik kursi mama dan kami saling berhadapan ” Ada apa Ma? Mama mau bilang apa?” Tanyaku heran karena tak biasanya mamaku seperti itu. ” Mama mau bilang, rasanya mama tidak lama lagi menyusul papamu?” Aku memandang beliau ” Mama kenapa bilang begitu? Apa Mama kecewa dengan kami? Apa ada sikap kami yang bikin mama marah dan tersinggung?” Tanyaku mengelus lengannya yang keriput. Sungguh aku tiba-tiba merasa sedih sekali. ” Tidak ada… kalian sudah merawat mama dengan baik, bahkan mama yang merasa sudah merepotkan kalian” katanya bikin air mataku tumpah. ” Mama tidak boleh bicara begitu, sesungguhnya apa yang kami lakukan sama sekali tidak artinya dengan apa yang sudah mama lakukan untuk kami” kataku mengisak ” Mama jangan bilang mau menyusul papa, kita semua pasti menyusul papa” kataku lagi dengan air mata makin deras. Aku amat tahu seperti apa rindunya mama terhadap papaku, karena sering sekali beliau bertanya bahkan minta adikku memanggilkan ustadz dan menanyakan kenapa papa terus saja ada dalam ingatannya. Sehingga saat kami mengajaknya ke makam papa, beliau sangat gembira meskipun artinya beliau akan kesakitan karena diangkat bahkan di gendong dengan kursi rodanya.
Malam ini mamaku akhirnya “pulang” kerumah abadi. Kami memang tidak tahu seperti apa disana, tapi kami percaya mama ada ditangan penjaga yang lebih baik. Perawat yang lebih cermat dan mendapat perlindungan terbaik dari yang Maha sempurna, jauh lebih baik dari apa yang kami anak-anaknya sanggup berikan.
Selamat jalan Mama, engkau kini menemui Rabbmu bersama orang yang paling kau rindukan dan sangat kau cintai….

Hanya hati yang bahagia yang bisa menerima kebenaran

Pagi menjelang, udara dingin menggigit. Usai subuh saya tidak beranjak keluar kamar, membiarkan sinar mentari pagi menyerbu sebanyaknya melewati jendela kamar yang gordinnya kubuka lebar. Udara pagi terhirup segar seolah berlomba dengan semilir angin yang mengantarkan dingin.

Lanjutkan membaca “Hanya hati yang bahagia yang bisa menerima kebenaran”

Umroh

Bagi masyarakat kita haji dan umroh bukan lagi sesuatu yang asing. Karena nyaris setiap tahun jamaah dari daerah kita membludak. Bahkan setiap bulan ada saja keluarga dekat kita yang berangkat umroh.
Dengan banyaknya flight dan menjamurnya travel umroh menjadi sangat mudahlah aksesuntuk melakukan ritual yang satu ini.

Lanjutkan membaca “Umroh”