Maafkan, Ikhlaskan dan Lepaskan

Hari ini banyak yang inboks terkait status yang kutulis di FB. Pertanyaan yang simple tapi tidak demikian dengan jawabannya. Pertanyaannya juga nyaris sama, bagaimana membersihkan hati? lama aku merenung mencari jawaban yang tepat sambil  mencoba mengingat-ingat pelajaran yang ditinggalkan papaku. Karena aku kini juga tengah belajar dan terus belajar membersihkan hati. Bisa jadi tiap orang memiliki cara dan trik masing-masing untuk itu. Bukankah hanya kita dan Allah saja yang tau apa yang kita simpan atau apa saja yang berkecamuk dalam hati kita?

Hati atau dalam bahasa Arab disebut Qalbu merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam tubuh manusia. Hati memiliki pengaruh yang besar dalam menentukan perilaku seseorang, jika hatinya baik, maka akan baik pula perilaku atau amalannya.

Hati yang bersih maknanya adalah hati yang bebas dari penyakit hati yang beraneka ragam. Karena sesungguhnya penyakit hatilah yang mengotori hati bahkan mampu mematikannya.

“Orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya yang telah ada dan mereka mati dalam keadaan kafir.” [At Taubah: 125]

Sedemikian bahayanya penyakit hati hingga kita yang dihinggapi sering kesulitan untuk bisa membebaskan diri darinya. Penyakit hati juga memiliki standium yang berbeda-beda, mulai dari yang ringan sampai yang akut atau standium akhir.

Karena semakin akut penyakitnya semakin sulit kita deteksi gejalanya saking demikian halusnya. Kesombongan misalnya, pada tingkat biasa akan mudah kita deteksi, ketika kita mulai merasa bahwa kita lebih dari orang lain, merasa lebih baik, lebih bisa, lebih cerdas dan tau, itu masih mudah untuk kita deteksi tapi pada tingkat yang lebih tinggi kesombongan kemudian menjadi sulit dideteksi karena bisa jadi kita merasa biasa, tidak nampak dalam ucapan tapi sikap meremehkan orang lain tidak bisa dihindari, sulit menerima masukkan, lebih kuat mendebat dan tidak terima jika di kritisi.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam kalbunya ada sikap sombong meski sebesar biji sawi.”

Sikap sombong sesungguhnya muncul karena yang bersangkutan tidak mau melihat fakta, bahwa sesungguhnya dia tidaklah seperti apa yang dia khayalkan. Merasa paling pintar, bukankah diatas langit masih ada langit? sungguh memalukan kalau menganggap diri kita pintar padahal faktanya semakin banyak kita belajar sesungguhnya semakin banyak hal yang kita tidak tau. Karena ilmu tidak berbatas, dan kita sesungguhnya hanya tau sedikit dari demikian luasnya samudra ilmu.

Selain sifat sombong, penyakit hati yang lain adalah dengki dan iri hati, dengki tingkat dasar adalah mana kala kita kesal melihat seseorang mendapat kenikmatan dan bahagia. Tingkat yang lebih tinggi kita ingin dia kehilangan apa yg membuatnya sukacita, kita senang jika yang bersangkutan kesulitan dan masih banyak lagi penyakit hati lain yang kalau kita buat list mungkin tidak akan habis kita bahas sampai besok pagi. Nah untuk menghindari hal tersebut dan membuat hati kita bersih dan terbebas dari aneka penyakit hati ada 3 hal.

Pertama, MAAFKAN. kita harus memaafkan siapapun yang menyakiti kita, memaafkan bukan hanya karena membebaskan orang lain dalam rasa bersalahnya tapi juga meringankan hati kita, membuat kita lebih nyaman dan membuat kita terhindar dari rasa sakit hati dan buruknya kesombongan. Memaafkan adalah perbuatan mulia , perbuatan baik yang bukan hanya membersihkan hati tapi juga menjernihkan wajah dan meneduhkan hingga orang yang melihat akan tertular ketenangan dan ketentramannya.

Kedua, IKHLASKAN. Tips yang kedua ini memang tidak mudah, karena kita dituntut untuk menerima dengan ikhlas apapun yang menjadi ketetapan. Tidak boleh komplein ataupun protes karena seyogyanya kita harus yakin bahwa tidak ada maksud lain dari ketetapan Allah itu selain membaikkan kita. Jika Allah ingin memberikan kebaikan kepada hambanya maka DIA akan menguji hambanya dengan ujian yang bertubi-tubi. Bukankah semakin tinggi pohon semakin kencang pula angin yang menggoyangnya. Jadi tetaplah tegar dan yakin bahwa Allah bermaksud baik pada kita karena sayangNya yang tak bersyarat.

Ketiga LEPASKAN, kita harus melepaskan semua hal yang memberatkan jiwa, semua beban yang membelenggu hati dengan keyakinan bahwa apapun itu semua telah diatur oleh sang pemilik. Kerjakan dengan sungguh-sungguh tugas dan pekerjaan kita dan biarkan Allah swt menyelesaikan hasil akhirnya. Jangan sekali- sekali kita mencampuri atau mengintervensi hak Allah. Mengurus dan memburu rezeki sampai lupa ibadah padahal untuk tujuan beribadahlah maka kita dihadirkan ke dunia. Hanya dengan demikian hidup kita menjadi ringan dan lebih normal serta bebas dari penyakit hati. Segitu aja deh… biar gak bosen bacanya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s