Dunia Lebih Luas Jika Kita Mau Mengampuni

Adalah benar bahwa sebagian besar orang sulit untuk memberi maaf tapi lebih banyak lagi yang sulit melupakan. Dan biasanya pelakunya sebagian besar kaumku😉😉 Hayooo ngaku!! Lanjutkan membaca “Dunia Lebih Luas Jika Kita Mau Mengampuni”

Iklan

Maafkan, Ikhlaskan dan Lepaskan

Hari ini banyak yang inboks terkait status yang kutulis di FB. Pertanyaan yang simple tapi tidak demikian dengan jawabannya. Pertanyaannya juga nyaris sama, bagaimana membersihkan hati? lama aku merenung mencari jawaban yang tepat sambil  mencoba mengingat-ingat pelajaran yang ditinggalkan papaku. Karena aku kini juga tengah belajar dan terus belajar membersihkan hati. Bisa jadi tiap orang memiliki cara dan trik masing-masing untuk itu. Bukankah hanya kita dan Allah saja yang tau apa yang kita simpan atau apa saja yang berkecamuk dalam hati kita? Lanjutkan membaca “Maafkan, Ikhlaskan dan Lepaskan”

Terus Bersangka Baik

Subuh ini aku terbangun pukul 02. 25 dinihari. Masih banyak waktu untuk sholat, apalagi saya tidak perlu menyiapkan makanan sahur, toh saya bukan karyawan hotel yang dipekerjakan di food and beverage hehehe…. So habis sholat saya menuju ruang makan hotel, makan nasi 4 stau 5 suapan dengan telur mata sapi, balado ikan asin dan kembali ke kamar nonton tv dan mengupas mangga yang saya bawa dari palu. Saya masih berpikir tentang taqdir. Dan bagaimana trik yang paling sederhana untuk menghadapi ketentuan mutlak dan sama sekali tidak bisa diubah ini. Lanjutkan membaca “Terus Bersangka Baik”

Aku Takut kita……

Tahukah kau?

Yang paling kutakutkan adalah

Jika kita tidak lagi saling mencari….

Tidak lagi ingin saling menyapa dan memberi kabar

Karena tak ada lagi riak-riak rindu

Bahkan mungkin kita saling lupa

Tahukah kau?

Yang paling kutakutkan adalah

pagi kita yang sepi dari gelak tawa

kopi kita dingin tak tersentuh

seperti diskusi pagi kita yang hambar tanpa rasa…

dan roti kutelan seolah duri

Tahukah kau?

Yang paling kutakutkan adalah

Tatkala siang berlalu sia-sia

Tak lagi kutemui sapamu bahkan tutur halusmu

mengingatkan saat makan siang ataupun sholat karena

bagimu aku tak ada bahkan juga tak penting lagi.

Matahari bagiku seolah padam dan kabut

menyelimuti hati seperti serpihan retak

gemawan yang tiris menjadi gerimis…

seperti itu embun jatuh dari mataku

Tahukah kau?

Yang paling kutakutkan adalah

Malam berlalu senyap, murung dan

suram tanpa cahaya, meski bulan purnama

yang memantul didasar kolam

sedemikian indah dan kerlip gemintang

semarak memenuhi angkasa……

Tapi cahayanya tidak lagi kutangkap dimatamu

Karena cahaya itu telah redup kehilangan binar,

aku bagimu bukan lagi pemantik nyalanya

Tahukah kau?

Yang paling kutakutkan adalah

Ketika kita berdiri tanpa jarak

tapi aku justeru tak dapat menyentuhmu,

apalagi mendekapmu karena

hati kita tidak lagi serapat dulu dan

jemari kita tak lagi bertaut rapat.

Dawai-dawai yang dulu selalu merdu

memainkan kidung asmara, teronggok lesu di pojok,

terkulai merana tanpa sentuhan, kita kehilangan rasa,

kehilangan terbesar dari satu2 nya hal yang kita perjuangkan dulu,

tidak peduli onak dan rintangan,

senyum kita selalu lebar penuh optimisme.

kini aku meminta, untuk semua kisah

yang kita simpan di pigura

untuk semua rasa yang telah kita anyam,

untuk kopi pagi kita yg manis,

dan saat siang kita yang semarak

serta malam yang bertabur bintang…

Tepis cemasku, halau raguku….

Dengarlah…..

untuk bintang yang berbinar di matamu

dan hatiku yang syarat rindu

Biarlah desau agin menghalau kabut

dan mengumpulkan rasa kita dilembah

dan disaksikan oleh awan yang menepi malu-malu…

karena tau jemari kita bertaut erat

dan seperti ombak yang memecah di tepian….

yang tak pernah tersesat mencari jalan pulang

seperti itulah rasa kita semestinya……

Kisah Kita Yang Aku Pahami

Aku mulai terbiasa, dengan caramu merentang jarak,  menggali jurang curam ditengah kita hingga aku merasa tak mengenali siapa dirimu dari tempatku berdiri

Aku mulai hafal, dengan caramu yang ingin menepisku, mengacuhkan pesanku dan menanam dirimu dalam sibuk yang menyakitkanku

Aku mulai memahami, cara meretas sepi, berayun -ayun dalam kesendirian yang panjang dan gelap, bersama dinginnya hati dan kidung kesedihan yang sumbang

Aku akhirnya tau, cara meretas waktu menunggu sua, menyanyi dalam kesendirian dan mencipta kisah dari album yang kita bingkai bersama

Aku akhirnya sadar, jarak hatilah yang mendekatkan tempat kita berdiri, bukan jarak fisik yang dipisahkan lautan dan pulau

Aku akhirnya mengerti, bahwa rasa nyaman akan hadirmu untukku tidaklah berbanding lurus dengan kenyamanan yang mampu kuhadirkan untukmu

Aku akhirnya harus bisa menyimpanmu dalam kenangan, merapikanmu dalam ingatan dan menguncimu dalam laci yang tidak akan pernah ku buka lagi

Karena cukup bagiku kau berdiri disisi hati, meronce berbagai ingatan dan semua yang tersimpan akan mengalir bak anak sungai tanpa bisa kuhentikkan

Aku akhirnya memahami, bahwa kita akan terus saling mencari karena kita telah telah kehilangan separuh hati dan sadar bahwa yang separuhnya itu ada di genggaman kita masing-masing

Aku akan terbiasa, menatapmu dari jauh, hanya untuk memastikan kau dalam keadaan baik, seperti juga kau akan memandangku dari tempatmu mungkin dengan rasa yang tak jauh berbeda

Aku akan membiasakan diri, bangun pagi bersama bayangmu, menyeduhkan kopi dan tertawa seperti saat pagi kita lewati bersama

Aku akan membiasakan diri berbaring lelap dengan ciuman hangat di keningku dan pelukan eratmu di tubuhku serta denyut jantungmu yang merapat di kupingku.

Lalu akhirnya aku sadar….. mungkin semuanya hanya bayangan semu… sekedar mimpi indah dikala tidur dan buyar saat aku terjaga.