Cantikmu Duhai Perempuan

Cara Memakai Make Up Simple Sehari-hari Wanita Berjilbab

Pagi ini saya sudah siap kekantor 1 jam lebih awal dari jam masuk kantor yang semestinya. Sahabatku  salah satu orang penting di Pemda,  hari ini mau memfasilitasi aku untuk bertemu dengan orang nomer satu di daerah ini , yang tentu saja, sangat aku harapkan bisa memberi dukungan dan testimoni bagi tugas inovasiku. Sesampai dikantor, berkah berupa hujan turun dengan derasnya dan memaksa aku membatalkan apel pagi yang rutin kami laksanakan di kantor. Hujan bertambah deras, tapi karena sudah berjanji, bahwa saya sudah akan berada di ruang tunggu pukul 8 teng, bergegas aku bersama beberapa staf langsung berangkat. Dan di tiba di TKP 15 menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Sambil menunggu kedatangan beliau aku ingin berbagi tentang apa yang ada dalam benakku saat melihat beberapa orang staf perempuan  yang menyambut kedatangan kami saat ini… Lanjutkan membaca “Cantikmu Duhai Perempuan”

Iklan

Rindu Itu Milikku

Blue eyes

Rindu adalah nyanyian sendu dari sunyinya hati yang menggigit….

Menggedor-gedor nurani saat bayang melintas dan berdiam di jiwa…

Ada saat rindu menggeliat tak tertahan,

buncah laksana lahar merapi… mengalir

dalam temaram pijar lampu-lampu dimalam hari…..

Setia mengunjungi detik-detik yang bertalu dalam hening malam..

Ada pula saatnya dia diam senyap dalam sunyi…..

Merintih riuh dalam jiwa yang menunduk pilu

Rindu itu Milikku, yang tersimpul dan terangkai untukmu

 

Ada saat rindu hanya menjadi gumam,

dalam senandung doa dihamparan sajadah…..

Saat namamu kunaikkan menuju langit

Pada pemilik diri ini kuminta dirimu.

Rindu itu Milikku, rindu yang kuterbangkan bersama doa subuh

 

Ketika rindu yang merajam ku keluhkan padaNya…….

ketika namamu kupintal dalam lafaz permintaanku

kepada Sang pemilik diri kita,

Saat bayangmu berkelebat dalam ingatan

Mungkin rindu semestinya berbilang

Agar asa tetap menggantung di langit-langit cintaku

 

Puisi spontanku membalas status @Adinda Riza Humaira, saya sunting yah dek biar jadi puisi utuh 😎😎😎
Semoga berkenan…….

ANSOV: 1212016

Renungan (2)

unnamed

Pagi ini langit cerah, dingin yang terbawa angin pagi kutepis dengan baju tebal, syal dan kaus kaki hehehe…. ternyata benar bahwa aku sudah tua, tubuhku sudah sangat peka dengan hawa di sekelilingku. Kuseruput kopi pagiku dengan nikmat, sepotong roti dan beberapa iris mangga. Alhamdulillah kusyukuri anugerah Allah pagi ini karena aku masih tegak berjalan menuju kamar mandi, wudhu dan memenuhi panggilannya tepat setelah muazin menyelesaikan azan subuh. Kusyukuri karena aku masih tegak berjalan ke jendela menyibak gordin dan mengucap selamat datang pagi, selamat datang hari baru, semangat baru, harapan baru untuk menjadi manusia baru. Lanjutkan membaca “Renungan (2)”

Renungan (1)

silhuet 4

Maka nikmat Allah yang mana lagi yang engkau dustakan? bahwa Allah mendengar semua doa hambanya, pasti tidak kita ragukan, hanya soal waktu.
Karena Allah sangat memahami kapan Dia akan memberi apa yang kita minta, dan kapan DIA mengijabah doa kita dengan sesuatu yang berbeda dari yang kita minta. Lanjutkan membaca “Renungan (1)”

Izinkan Kusapu Mendungmu

 

IMG-20171105-WA0043

Kita pernah mencoret satu nama yang menduri diantara kita,

yang akhirnya kau cabut paksa meski tetap meninggalkan nyeri.

Hanya duri kecil, tak berarti dan sakitnya juga tak lama.

Kita pernah menghapus nama yang membuat jurang diantara kita,

Kita tinggalkan tokoh itu dibelakang panggung

karena perannya memang sangat tidak penting.

 

Kini kita tinggal berdua, tak ada duri,

pun tak ada tokoh lain yang berusaha mengalihkan perhatian kita

Tapi jiwamu luruh, semangatmu runtuh dan aku sakit karenanya….

Hanya kita berdua, bayang kita saling berkelindan,

tapi ragamu tak mampu kuraih, apalagi pikiranmu

Karena matamu memandang sudut kelam

yang membenamkan segenap ruh kita dalam kegelapannya

Dan mengunyah semua kenangan yang kita ronce dalam kubangan,

yang tak mampu aku bangunkan dari dasar pikiranmu.

Aku ingin melihat senyummu, meskipun palsu,

menatap matamu meskipun tak lagi ada gairah dan muram,

berdiri disisi hatimu,  menyalakan suluh yang dulu kita nyalakan berdua.

Menguatkanmu dalam doa dan

mengusir kegelisahan yang menumpuk disudut-sudut pikiranmu.

Mungkin bisa tercetak kembali senyummu,

bahkan nyaring tawamu Terbawa angin sore,

menepuk hangat Hatiku yang tiba-tiba mendung

Mengusap embun yang jatuh di sudut mataku,

dan mengukir kegembiraan di hatiku

seperti riangnya kanak-kanak yang bisa memeluk beruang kesayangannya.

 

Jakarta, 9012018

 

Usah Kau Cemas

bayangan 2

Telah kutuliskan sajakku di angin pagi,

kau tak perlu cemas pada deru ranting

yang bergesekan karena lenganku tak akan

membiarkan tubuhmu terhembus angin….

 

Telah kurangkai sajakku di embun

yang pongah diatas daun,

kau tak perlu cemas pada bebatuan

yang dihamparkan di jalanmu

karena tubuhku sudah kunisbatkan

sebagai pengganti dirimu!!

 

Telah kutancapkan pena di bait-bait puisi

yang menyerupa hadirmu diruang pikiranku

Jangan kau cemaskan rasaku yang samar

karena sesungguhnya rasa itu

amat pekat di dada ini

 

Jika ku memilih diam, karena memang rasa ini

bukan untuk di umbar, cukuplah dia ada

dan menempati tempat terbaik di hati kita

 

 

 

 

Gerimis

wpid-di-bawah-hujan1

Langit pagi di buru rindu..

doa-doa terbang meski tanpa sayap,

embun berceceran diatas daun…

seperti takdir yang rebah di garis tangan ..

bagai puisi yang tak mampu ditulis oleh

mata pena kesedihan.

 

Harapan dan asa menggantung dilangit pikiran kita,

semangat membakar didada dan jiwa kita,

selalu ada cara untuk membumikannya,

seperti rindu yang memintal sua menjadi jawabannya.
Doa-doa juga akan menyatukan kita,

layaknya pelangi selepas gerimis

yang indahnya hanya dipahami oleh mereka

yang mengerti apa arti gerimis di kehidupannya…