Transformasi spiritual Kartini

Hari ini sebagaimana tahun – tahun sebelumnya, ucapan selamat merayakan hari Kartini mengalir dihampir semua time line. Biasanya akan diikuti dengan foto sahabat dan saudara- saudara yang mengenakan kebaya dan sarung baru, mengunakan sanggul atau bahkan menggunakan jilbab yang serasi dengan kebaya…. pokoknya hari seperti ini tua, muda, besar, kecil tidak terkecuali ramai-ramai menggunakan kebaya, songket ataupun buya sabe.

Tahun ini istimewa… perayaan Kartini tidak dirayakan di hotel dan gedung mewah, tapi dirayakan di medsos dengan memajang foto Kartini atau bahkan foto perempuan berkebaya dan menggunakan masker😀.

Ditengah Pandemi saya merenung apakah cita-cita Kartini hanya selesai di gedung mewah dengan kebaya dan sanggul? Selesai dibahas di seminar atau talk show? Selesai dengan saling memgirimkan ucapan selamat merayakan hari Kartini dengan dilengkapi foto beliau?

Ada sesungguhnya yang kita lupa, bahwa cita-cita Kartini sesungguhnya lebih dari apa yang sampaikan kepada anak-anak kita, lebih dari sekedar kebaya dan sanggul.

Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tanggal 1 Agustus 1903 RA Kartini menulis

” Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yakni Hamba Allah”

Surat itu ditulis oleh Kartini setelah beliau menjadi santri Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat.

Pertemuan RA Kartini dengan Kyai Soleh Darat membuat Kartini mengalami Transformasi spiritual. Pandangannya tentang dunia barat yang semula dipuji2nya karena kebebasan mereka berubah. Sebagaimana kutipan suratnya kepada Ny. Abendanon tanggal 27 Oktober 1902. Dimana dia menulis,

“Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?.”

Bahkan dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, RA Kartini juga menulis:

“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yang disukai.”

Transformasi spritual Kartini ini , adalah sesuatu yang luar biasa hebatnya, nampak benar bahwa Kartini memang seorang “pembelajar” yang tidak menelan bulat-bulat segala sesuatu disekitarnya, tapi juga membedah dan menganalisis segalanya dengan kritis.
Liat saja pertanyaan yang beliau lontarkan kepada Kyai Soleh Darat pertama kali bertemu setelah beliau merengek kepada pamannya untuk dipertemukan dengan Sang Kyai.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar RA Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. RA Kartini melanjutkan:

“Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah SWT. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Alquran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Alquran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Pertanyaan dan pernyataan yang bukan hanya menggugah perasaan Kartini tapi juga menggugah kesadaran sang Kyai, yang akhirnya berusaha menerjemahkan Al Qur’an dan menghadiahkan sebagai hadiah ulang tahun perkawinan Kartini. Meskipun tidak selesai 30 juz karena keburu sang Kyai Mangkat.

Transformasi spiritual itu sejatinya menjadi hal yang harus di angkat dan dan diperkenalkan kepada Kartini-Kartini muda, siapa dan bagaimana sesungguhnya Kartini yang mereka peringati setiap tahun dengan penuh kebanggaan.

Jiwa pembelajar, semangat untuk menjadi Hamba Allah yang sempurna, semangat untuk mengubah citra Islam yang sering menjadi bahan fitnah bahkan oleh pemeluknya sendiri.

Tidak hanya sekedar menampilkannya dalam balutan kebaya mewah dan songket mahal tapi sedikitpun tidak mewakili jiwa Kartini yang pembelajar, kritis dan taat pada ajaran agamanya.

Menjadi Hamba Allah ditengah pandemi seperti saat ini, maka Kartini zaman now adalah Kartini yang mestinya kreatif melihat peluang. Tidak perlu muluk menghayal menjadi tokoh penting dalam sejarah lalu diperingati kelahirannya bak RA Kartini. Tapi cukuplah menjadi pejuang di Garda depan keluarga. Bagaimana bahu membahu dengan suami mendidik anak-anak menjadi pemimpin masa depan, menjadi imam di keluarganya kelak. Bagaimana keluar dari Pandemi ini dan memenangkan pertarungan melawan covid19. Bagaimana tetap bertahan di tengah kemelut sosial yang merampas masa depan banyak keluarga.
Bagaimana mengulurkan tangan membantu kaum duafa yang harus kehilangan mata pencaharian, yang tidak bisa diam dirumah, harus turun kejalan untuk bisa mengais rezeki. Itu kerja nyata untuk menjadi “Hamba Allah” seperti yang di cita-citakan Kartini.

Jika kita mau membuka mata dan melihat sekitar kita, maka hati kita akan teriris, melihat bagaimana binar mata saudara kita menerima sembako yang tidak seberapa, tapi mereka yakini itu mampu mengisi perut mereka sekeluarga yang membutuhkan imunitas agar bisa melawan virus laknat ini.
Bagaimana rasa syukur mereka, yang mereka ungkapkan dengan doa panjang yang rasanya tidak sebanding dengan beras 5 kg dan 1 liter minyak makan yang mereka dekap kuat.

Sesungguhnya negeri sedang sakit, bukan hanya karena disebabkan oleh virus Corona saja tapi sakit karena semakin banyak rakyat yang menangis pilu kekurangan makan.
Negeri ini sakit karena banyaknya orang yang mampu justeru menimbun bahan pokok dan menjualnya lagi dengan harga melangit sementara ada orang yang harus mengais sampah untuk mencari sisa makanan.
Bagaimana kita bisa seperti Kartini? Yang ingin diberi gelar Hamba Allah? Hambanya yang pengasih dan penyayang? Yang memberi apa yang dia miliki tatkala ada yang butuh? Yang menyayangi orang lain dan tidak tega melihat orang lain dalam kesusahan?
Itu semangat Kartini yang harus kita teladani, yang harus kita contohi agar beliau tidak mengisak dikuburannya, karena kecewa melihat perempuan-perempuan yang beliau perjuangkan hanya sanggup mengambil kebaya dan sanggulnya sebagai pelajaran

Selamat memperingati Hari Lahir RA Kartini, dan merenung apakah kita sudah mengikuti jalan yang beliau rintis?😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s