Hanya hati yang bahagia yang bisa menerima kebenaran

Pagi menjelang, udara dingin menggigit. Usai subuh saya tidak beranjak keluar kamar, membiarkan sinar mentari pagi menyerbu sebanyaknya melewati jendela kamar yang gordinnya kubuka lebar. Udara pagi terhirup segar seolah berlomba dengan semilir angin yang mengantarkan dingin.

Pagi ini indah, riuh dengan suara cericit burung pagi, aroma melati yang syarat bunga dan hiruk pikuk suara canda tawa anak-anak. Ditelivisi Donald trump sedang berpidato. Aku larut dalam pikiran yang berlompatan di benak. ” BERLAKU ADILLAH SEJAK DALAM PIKIRAN” aku ingat papaku mengatakan itu suatu hari ketika mama memarahi salah satu ponakannya yang memecahkan keramik kesayangannya. Hanya sepotong kalimat itu, namun seketika itu juga mama berhenti mengomeli sepupuku. Aku langsung duduk disamping papa ketika itu, mungkin melihat wajah heranku papaku berkata “Jangan karena kemarahanmu, membuatmu tidak berlaku adil, karena orang yang tidak mampu mengelola kemarahannya adalah mereka yang belum matang emosionalnya meskipun sudah tua umurnya”,
“Apakah dengan marah-marah akan mengembalikan kondisi keramik itu seperti sedia kala? Apakah menurutmu si Mia sengaja ingin memecahkan keramik yang dia tahu kesayangan mamamu?” Aku menggeleng dan bilang,
“Setidaknya mama ingin memberi pesan bahwa lain kali, kalau bekerja harus lebih hati-hati”, kataku menjawab, “Hanya hati yang gembira dan bahagia yang bisa menerima nilai kebaikan dengan utuh nak, saat hatimu rusuh dan gelisah nilai-nilai itu tak akan tersemai baik. Kemarahan hanya akan menularkan kemarahan pula. Hanya hati yang bahagia mampu menularkan hal yang sama”.Kata papaku lagi panjang lebar. “Ingat kemarahan tidak pernah mampu menghanguskan orang lain selain yang bersangkutan, karena saat kau marah kau memelihara iblis didalam darahmu, kau membesarkannya dan membiarkannya menjadi Tuhanmu”
sejujurnya aku bergidik mendengarnya, “Bagaimana mungkin Mia bisa menerima nasihat yang disampaikan dengan kemarahan, saat hatinya tengah gelisah? Perasaan bersalah karena telah memecahkan keramik telah menekan hatinya, ditambah lagi dengan kemarahan mamamu, nak… Tuhan tidak menciptakan dua hati dalam satu jiwa, saat hati kita kisruh dan gelisah maka ketenangan dan kegembiraan akan tersingkir keluar dari sana, karena itu disaat marah dan kita lakukan ketika berdiri, disunahkan untuk duduk, jika masih marah kita diminta untuk berbaring, kalau masih marah juga, maka bangkit dan berwudhulah, untuk mendirikan sholat sunah dua rakaat, sampai sedemikian kita disunahkan untuk mengelola emosi. Menghadirkan Allah dalam hati serta menggusur iblis dan kaki tangannya dari sana, karena kegelisahan, kemarahan dan kekisruhan hati adalah jejak yang ditinggalkan iblis sebagai penanda bahwa dia tengah menguasai hatimu” aku terpekur, subhanallah… betapa mudahnya mengenali jejak iblis tanpa mesti melihat sosoknya, karena saat dia menguasai hati kita, maka kitapun akan gelap mata tak akan mampu melihat kebaikan yang harus kita lakukan, apalagi melihat kebaikan orang lain. Otak kita tidak bisa menganalisa dengan jernih karena dalam darah kita iblis dan tentaranya telah bercokol, kita telah dikuasai iblis dengan telak dan tak ada tempat untuk kebaikan lagi di hati kita. Lalu bagaimana mungkin kita bisa berlaku adil? Jangankan kepada orang lain, karena sesungguhnya kitapun tidak berlaku adil kepada diri sendiri. Sejatinya kita bisa berlaku adil kepada orang lain hanya tatkala kita mampu berlaku adil pada diri sendiri. Kita bisa dikatakan berlaku adil pada diri sendiri, saat kita memberi hak penuh pada hati kita untuk tenang, untuk bahagia, sehingga kita mampu menyemai nilai-nilai kebaikan dengan baik, mengisinya penuh-penuh hingga tak ada tempat bagi iblis mendirikan istananya pula disana. Hati yang bersih pasti menumbuhkan pikiran-pikiran yang baik, sementara pikiran-pikiran yang baik akan terejawantahkan dalam perilaku dan sikap yang baik.

Aihhhh ….. ternyata banyak hal yang telah terlewati bersama papaku, tiba-tiba aku rindu papa… rindu diskusi dan pelajaran memanage hati dari beliau. Ya Allah… sayangi dan cintai beliau sebagaimana beliau menyayangi kami diwaktu kecil bahkan hingga kami setua sekarang. Alfatiha ….untukmu Papa, kiranya Allah swt senantiasa mengucurkan rahmat dan melapangkan kuburmu😭😭

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s