šŸ„€Bicaralah kepada dirimu sendiri sebagaimana kau berbicara dengan orang yang kau cintaišŸ„€

Allah menyebutkan dalam firmannya bahwa dunia ini hanya kesenangan yang menipu, karena tidak ada yang abadi. Semuanya fana dan sementara sifatnya.

Jadi merugilah mereka yang mau menukar kehidupan yang sedikit dengan kehidupan yang abadi. Memilih kesenangan sesaat dan menukarnya dengan keabadian.
Karena semuanya fana dan sementara, maka sangatlah sayang jika kehidupan yang sebentar ini kita isi dengan merusak diri sendiri. Menanam kebencian, menebar kedengkian dan mengobral kemarahan. Kita bukan hanya merusak hati dan mengundang penyakit tapi so pasti kita juga tidak akan merasa nyaman di lingkungan kita. Dunia akan terasa sempit karena dimana-dimana kita menebar musuh, dimana-mana ada orang yang tidak kita sukai. Betapa tidak bahagianya hidup kita.
Tidak ada yang lebih memahami diri kita, selain kita sendiri. Karenanya tidak ada yang memahami hal apa yang membuat diri kita bahagia selain kita sendiri. Tidaklah heran orang bijak mengatakan ” Kau tidak akan bisa mencintai orang lain sebelum kau mencintai dirimu sendiri”
Mencintai diri sendiri maknanya menjaga diri baik fisik maupun mental. Tentunya menjaga fisik, dengan memberinya nutrisi yang baik, memberikan haknya untuk beristirahat. Tidak membebani hati dengan menyimpan semua omongan orang, apalagi jika yang melontarkan orang yang sama dan kita tahu persis bahwa tidak seorangpun pernah bagus di mata dia hehehe…. ada saja yang salah dari orang lain ( ciri pendengki akut), Memberikan kesempatan bagi diri untuk melaksanakan ibadah, yang sekaligus memberi nutrisi bagi jiwa agar hati tetap hidup, tetap subur untuk menyemai cinta kasih. Mencintai diri sendiripun sudah pasti akan membuat hidup bahagia, karena sesungguhnya bahagia itu tidak pernah jauh dari diri kita. So jika ada yang mencari kebahagiaan hingga ke ujung dunia, maka akan me jadi sesuatu yang sia-sia, seperti halnya mengejar bayangan, tak akan pernah sanggup dia meraihnya.
Bahagia itu dikondisikan, diciptakan. Bingung kan? Nah kongritnya seperti ini, pernah baca gak tulisan yang bilang ” Hanya orang yang bahagia yang bisa membagi kebahagiaan disekitarnya” . Orang yang bahagia pasti hatinya senang, tak ada kesedihan di hatinya, bukan karena dia tidak punya rasa, bukan karena dia gak ada masalah, tau sendiri kan, kalau dunia tempatnya masalah?, tapi mereka tetap bahagia, senyum mereka tetap lebar, matanya berbinar (sama sekali bukan karena efek maskara atau eye liner) tapi karena orang yang bahagia adalah mereka yang mensyukuri apa yang dia miliki. Sedikit atau banyak bukan masalah baginya, karena dia tahu semua sudah sempurna dalam rancangan Tuhan. Memprotes sesuatu yang ada di dalam genggaman hanya akan merusak hati, merusak hati artinya menganiaya diri sendiri, mengundang penyakit dan itu juga berarti memperpendek usia. So mereka menjalani kehidupan mereka dengan enjoy, menatap pagi dengan optimis bahwa hari baru akan selalu menawarkan seribu satu harapan dan kesempatan. Orang – orang seperti ini melihat orang lain dengan rasa kasih yang besar. Jika orang memandangnya dengan mata iri karena rasa optimismenya, maka dia memandang sebaliknya, dia merasa kasihan kepada orang-orang yang tak mampu merdeka. Yah orang-orang yang selalu memandang orang lain dengan kedengkian adalah orang-orang yang tidak merdeka, orang-orang terjajah. Dijajah oleh hawa nafsu, dijajah oleh perasaannya sendiri, karena mereka tidak sadar sesungguhnya mereka sedang menggali kubur mereka sendiri dengan membuat hatinya busuk karena penuh penyakit. Bukankah didalam agama kita disebutkan bahwa hati adalah sebongkah daging, yang apabila baik maka baiklah keseluruhannya, apabila buruk maka buruklah semuanya. Sayangnya banyak dari kita yang tidak jujur kepada diri sendiri, tidak mau mengakui bahwa sebenarnya kita sedang sakit. Hati kita sedang bermasalah. Indikatornya apa sehingga kita tau bahwa hati kita sedang sakit? Mudah sekali jawabnya, kita belum bisa gembira jika ada orang disekitar kita yang mendapatkan kesenangan. Kita belum mampu tertawa bersama orang yang memperoleh kebahagiaan. Jadi sepanjang kita belum bisa gembira bersama orang lain, itu bukti bahwa hati kita sedang tidak sehat.
Menjadi penting kita introspeksi diri. Ada apa dengan kita, kenapa kita membenci orang yang tidak pernah mengusik kehidupan kita? Kenapa kita dengki melihat orang lain bahagia? Cari dan tanyakan itu berulang-ulang kepada dirimu. Bicaralah dengan dirimu sendiri, sebagaimana kau bicara dengan orang yang kau cintai. Jawablah semua pertanyaan-pertanyaan tadi dengan jujur, sehingga kita akan menemukan masalahnya. Solusinya kemudian adalah, kita coba melatih hati untuk berdamai sambil meminta bantuan Sang pemilik hati, bukankah Allah swt saja yang mampu membolak balikan hati manusia? Nah kesanalah akhir dari pencarian solusi kita. Berilah penghargaan kepada diri kita karena telah menjawab dengan jujur semua pertanyaan-pertanyaan yang membuat hati kita kisruh. Penghargaan dan penghormatan kita pada diri kita akan menaikkan kelas kita pada nilai yang lebih tinggi. Bukankah nilai sesuatu tergantung dari seberapa besar kualitas dari barang tersebut? Nah semakin kita menghargai diri kita maka akan semakin berkualitaslah pikiran kita, sikap dan tindakan kita, bahkan kita akan berhati-hqti untuk mengeluarkan kata-kata, karena itulah cerminan hati kita. Diri kita lebih berhak mendapatkan cinta kita, baru kemudian kita mampu mencintai orang lain.
Intinya, agar kita bisa menularkan bahagia, membagi rasa cinta maka tidak ada jalan lain selain berdamai dengan diri sendiri. Belajarlah mencintai dirimu, jaga kesehatan hatimu dengan menjauhkannya dari segala jenis penyakit hati. Inshaa Allah, bukan saja hatimu membaik tapi juga akan nampak pada seluruh tampilanmu, senyum tulus akan selalu hadir di bibirmu, kerutan di wajahmu akan berkurang dan Allah akan memanjangkan usiamu (sorry saya tidak tulis akan keliatan AWET MUDA karena saya tidak sedang mempromosikan produk kecantikkan hahaha)

Note: Selamat melaksanakan shaum hari kedua, semoga amalan kita hari ini menjadi amalan yang diterima dan memberatkan timbangan kebaikan kita di yaumil mahsyar nanti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s