­čĺ×Refleksi Dua Minggu Pasca Bencana­čĺ×

Hari ini hari ke empat belas pasca gempa, sunami dan liquifaksi memporak porandakan kota palu, Sigi dan Donggala. Evakuasi dan pencarian korban sudah dihentikkan.

Laporan terakhir 2045 korban tewas sudah dimakamkan, dan yang hilang sudah diikhlaskan oleh keluarga korban. Sesekali gempa susulan masih terus datang, meski tidak se intens beberapa waktu lalu, tapi trauma yang dialami oleh anak-anak menyebabkan sebagian besar mereka masih tidak ingin tidur dikamar.Itu sebabnya hingga hari ini kami masih tidur di tenda pada malam hari, siang hari kami beranikan diri untuk memasak di dapur, dan istirahat serta tidur siang di garasi dan ruang tamu, setidaknya kami sudah aman dari cahaya matahari langsung yang membuat emak-emak dan anak perempuan merasa takut bercermin. ­čśŐ Perempuan dimana-mana saja, mau situasi aman atau lagi bencana setelah seminggu dan berkaca pastilah khawatir melihat wajahnya kembali ke pengaturan awal hahaha….­čśŐ Perawatan bertahun-tahun hancur dalam seminggu karena hidup di bawah tenda pengungsian. Hujan gerimis yang turun tiga malam berturut-turut, kami terima penuh syukur. Meskipun karenanya tidur kami tidak senyenyak biasanya karena gempa sesekali mengayun dan aku yang terjaga spontan melompat dari kasur dan berlari keluar tenda, hingga membuat anak-anak protes. “Bunda ini, mestinya kita yang merasakan gempa 7,4 yang lari duluan, ini malah bunda yang kaget terus-terusan” kata mereka menertawaiku.

Entahlah beberapa hari belakangan aku jadi ikutan takut masuk kamar, takut masuk kamar mandi lama-lama dan jantung langsung berdebar keras jika ada suarah gemuruh atau denting kaca karena gempa. Ya Salam….. kalau dipikir-pikir aku kembali ke palu setelah dua hari pasca gempa, tapi jadi ketakutan dan deg-degan saat ada gempa susulan. Kebayang bagaimana luka batin sodara-sodaraku yang mengalami langsung gempa dahsyat tersebut, melihat dengan mata kepala bagaimana Air laut menerjang keras dan menghanyutkan apa saja yang menghalangi, merasakan bagaimana terseret air sedemikian kuat dan hanya karena tersangkut di pohon atau kejepit diantara tembok atau mobil orang hingga masih sanggup bertahan dan akhirnya selamat. Melihat bagaimana saudara ambrol kedalam tanah, kemudian hilang lenyap tak berbekas. Tentulah trauma mereka lebih hebat. Belum lagi saat mengungsi berhari-hari tidur diaspal dan beratap langit karena saat menyelematkan diri hanya dengan baju dibadan, bantuan tak kunjung tiba, kalaupun di jemput birorasi yang bertele-tele menambah rasa frustasi.

Nyaris seminggu lebih hingga hari ini, aku duduk di posko bantuan menyalurkan amanah dari kawan-kawan kabupaten dan propinsi yang secara serentak ikhlas mengulurkan tangan. Aku belajar banyak, betapa lelahnya jiwa, membuat siapapun bisa gampang tersulut, mudah marah, gampang terharu. Dan tidak sedikit juga yang berubah menjadi bar-bar dan serakah.
Tapi demikianlah fenomena yang Allah buka tabirnya agar kita bisa belajar. Belajar mensykuri, belajar bersabar, belajar untuk tahu diri dan belajar untuk selalu rendah hati.
Sumber belajar tidak hanya satu, kehidupan adalah sumber belajar yang maha sempurna. Bahkan dari mereka yang datang meminta sembako saya belajar, bahwa kemuliaan, kehormatan dan status hanya sekedar tempelan tak bermakna. Jika Allah berkenan mengambil maka yang tinggal hanya ke papa an. Seperti beberapa hari lalu, Aku tahu bahwa yang datang meminta sembako dan menutup wajahnya dengan masker hari ini adalah seorang yg sangat bangga dgn status yang dia miliki. Meski orang itu menutup wajahnya dengan masker dan topi serta kaca mata, aku mengenal beliau karena pernah beberapa kali dulu saya menghadap beliau. Karenanya saat dia datang saya tidak menanyakan lagi siapa beliau, dimana alamatnya, pertanyaan rutin yang kami ajukan bagi mereka yang datang mengambil bantuan,dan sekedar kami tau bahwa daerah mana saja yang sudah kami distribusikan bantuan. Kami berusaha menghapus kesan birokrasi yang bertele-tele bagi penerima bantuan, karena kesan itu menyakiti hati sodara kami tang tertimpa bencana, lagi pula mereka yang mengirim bantuan sudah pasti ikhlas membantu siapapun yang membutuhkan tanpa memilih dan memilah siapa orang yang akan di bantu. Menyakitkan jika pada saat butuh sekali kita di pimpong kesana kesini, menggunakan persyaratan administrasi yg bertele-tele sementara perut sudah terisi sekian hari. Seperti bapak ini, beliau datang saja ke posko dan meminta bantuan dia sudah mencampakkan rasa malunya yang mungkin dulu dia pertahankan hingga berdarah-darah, tapi semesta mengajarinya untuk membuang rasa apapun demi tanggung jawabnya kepada keluarganya, dan kita yang paham tidak perlu menambah tekanan perasaannya dengan pertanyaan2 tidak penting yang akan menambah luka batin mereka. Selayaknya kita membantu juga dengan sepenuh empati, meskipun faktanya ada juga yang memamfaatkan kepedulian kita dengan berkali-kali datang mengambil lebih dari yang sebenarnya mereka butuhkan. Itulah watak manusia, suka memamfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadinya.”Bapak butuh apa? Ambillah apa yang bapak butuhkan. “Beras ada bu,apakah perlengkapan bayi ada?” tanya beliau tanpa membuka masker dan kaca mata hitamnya “Alhamdulillah pak, beras ada, minyak, gula, susu, teh, sabun, pasta gigi, biskuit, bapak boleh ambil, bahkan pampers bayi, bapak naik apa?” ” Naik motor tetangga bu, mobil saya hancur dengan rumah dan semua yang saya miliki” katanya perlahan… dada saya sesak dan menyesal telah bertanya serta membuka luka hati beliau ” maafkan saya, ambillah yang mampu bapak bawa pulang” kataku buru2 mengambilkan kebutuhan yang beliau sebutkan. Hati kecil saya terusik, dan seketika saya respek kepada beliau, meskipun saya tawari macam-macam beliau hanya mengambil apa yang beliau butuhkan itupun dalam jumlah sebatas yang beliau bisa bawa dengan motor. Berbeda sekali dengan sepasang suami istri yang datang kemarin, dia meminta semua yang tertangkap matanya, dan mengambil dalam jumlah yang banyak, sehingga suaminya bahkan tidak bisa memutar stir motornya. Saat saya menegur untuk membawa sebisa kendaraannya, dengan wajah kecut si perempuan bilang, tak apa ibu nanti saya pangku, ditempat saya banyak orang yang butuh dan akan saya kasih. Saya tersenyum saja dan bilang alhamdulillah, “hati-hati ibu dijalan, jangan sampai melihat bawaan ibu, orang-orang malah mau merampasnya” si Bapak menunduk hormat dan menggumamkan ucapan terima kasih, si ibu duduk nyaris di lampu rem karena sadel motor penuh dengan bawaaan. Ya Salam…. ujian untuk bersabar pun pada saat kita mendapat anugerah besar bukan hal yang gampang. Seringkali lebih mudah kita bersabar dengan ujian kesulitan tapi banyak dari kita yang justru tidak lolos saat diuji dengan kenikmatan. Seperti halnya tidak mudah bagi mereka yang mengagungkan ego lalu mencampakkannya, tapi inilah sebagian maksud dari ujian ini. Bagaimana kita menyadari bahwa ego yang kita agung-agungkan, harta dan status yang kita bangga-banggakan bahkan kecantikkan dan kegantengan yang disombongkan akhirnya harus kita campakkan dan kuburkan kedalam tanah dari mana kita berasal. Bersabar dalam penderitaan itu tidak mudah, dan lebih tidak mudah lagi bersabar dalam kenikmatan. Dua hal yang menjadi pelajaran penting saat saya duduk merenung ketika membagi sembako bantuan. Bencana yang kita alami ini adalah pembelajaran. Mungkin menyakitkan kalau kita katakan bahwa bencana ini adalah azab Allah, tapi kita harus menerima kenyataan bahwa memang saat ini kita semua dibersihkan. Dibersihkan dari kesombongan, dibersihkan dari penghambaan kepada selain Allah. Kita dipaksa untuk memulai semuanya dari nol, pantai talise yang kini sejauh mata memandang kembali seperti pemandangan 45 tahun lalu tak ada apapun selain laut dan pantainya. Karena saat diberi kemegahan kita salah memfungsikan. Rumah-rumah kita yang megah membuat kita lupa menoleh pada tetangga yang kesusahan. Dan kini kita dipaksa untuk menerima seperti apa rasanya tidak memiliki apapun.
Kita yang terbiasa tidur diranjang empuk, saat ini hampir sepanjang malam kita tidur hanya beralas terpal, siang kepanasan dan malam kedinginan. Bahkan ada sebagian sampai hari ini belum mendapat tenda. Dan itu artinya mereka tidur diatas aspal dan beratap langit. Tapi tak ada alasan untuk tidak mensyukuri semuanya. Paling tidak kita masih dititipkan nyawa, panca indera yang lengkap untuk memulai kehidupan baru.Sedih, merasa kehilangan adalah rasa yang sangat manusiawi,
Tapi bukankah kita memang tidak memiliki apa-apa? Dan layaknya ketika “pulang” juga tidak membawa apa-apa.Yang kita miliki hanya waktu, hanya kesempatan yang harus kita isi dengan hal yang bermamfaat.
Ya illahi…. biarkan hati kami lembut menikmati karuniaMu, suburkan untuk dapat menyemai bibit kasih sayang dan kepatuhan dari semua pelajaran yang Engkau berikan di balik bencana ini. Kami takluk akan kuasaMu, sebagaimana kami sadar bahwa selama ini kami telah mengundang murkaMu. Ampuni kami, bimbing dan cintai kami, agar kami tidak masuk dalam golongan orang yang merugi.­čĺ×Refleksi dua minggu pasca bencana­čĺ×

Hari ini hari ke empat belas pasca gempa, sunami dan liquifaksi memporak porandakan kota palu, Sigi dan Donggala. Evakuasi dan pencarian korban sudah dihentikkan. Laporan terakhir 2045 korban tewas sudah dimakamkan, dan yang hilang sudah diikhlaskan oleh keluarga korban.Sesekali gempa susulan masih terus datang, meski tidak se intens beberapa waktu lalu, tapi trauma yang dialami oleh anak-anak menyebabkan sebagian besar mereka masih tidak ingin tidur dikamar.Itu sebabnya hingga hari ini kami masih tidur di tenda pada malam hari, siang hari kami beranikan diri untuk memasak di dapur, dan istirahat serta tidur siang di garasi dan ruang tamu, setidaknya kami sudah aman dari cahaya matahari langsung yang membuat emak-emak dan anak perempuan merasa takut bercermin. ­čśŐ Perempuan dimana-mana saja, mau situasi aman atau lagi bencana setelah seminggu dan berkaca pastilah khawatir melihat wajahnya kembali ke pengaturan awal hahaha….­čśŐ Perawatan bertahun-tahun hancur dalam seminggu karena hidup di bawah tenda pengungsian. Hujan gerimis yang turun tiga malam berturut-turut, kami terima penuh syukur. Meskipun karenanya tidur kami tidak senyenyak biasanya karena gempa sesekali mengayun dan aku yang terjaga spontan melompat dari kasur dan berlari keluar tenda, hingga membuat anak-anak protes. “Bunda ini, mestinya kita yang merasakan gempa 7,4 yang lari duluan, ini malah bunda yang kaget terus-terusan” kata mereka menertawaiku. Entahlah beberapa hari belakangan aku jadi ikutan takut masuk kamar, takut masuk kamar mandi lama-lama dan jantung langsung berdebar keras jika ada suarah gemuruh atau denting kaca karena gempa. Ya Salam….. kalau dipikir-pikir aku kembali ke palu setelah dua hari pasca gempa, tapi jadi ketakutan dan deg-degan saat ada gempa susulan. Kebayang bagaimana luka batin sodara-sodaraku yang mengalami langsung gempa dahsyat tersebut, melihat dengan mata kepala bagaimana Air laut menerjang keras dan menghanyutkan apa saja yang menghalangi, merasakan bagaimana terseret air sedemikian kuat dan hanya karena tersangkut di pohon atau kejepit diantara tembok atau mobil orang hingga masih sanggup bertahan dan akhirnya selamat. Melihat bagaimana saudara ambrol kedalam tanah, kemudian hilang lenyap tak berbekas. Tentulah trauma mereka lebih hebat. Belum lagi saat mengungsi berhari-hari tidur diaspal dan beratap langit karena saat menyelematkan diri hanya dengan baju dibadan, bantuan tak kunjung tiba, kalaupun di jemput birorasi yang bertele-tele menambah rasa frustasi.
Nyaris seminggu lebih hingga hari ini, aku duduk di posko bantuan menyalurkan amanah dari kawan-kawan kabupaten dan propinsi yang secara serentak ikhlas mengulurkan tangan. Aku belajar banyak, betapa lelahnya jiwa, membuat siapapun bisa gampang tersulut, mudah marah, gampang terharu. Dan tidak sedikit juga yang berubah menjadi bar-bar dan serakah.
Tapi demikianlah fenomena yang Allah buka tabirnya agar kita bisa belajar. Belajar mensykuri, belajar bersabar, belajar untuk tahu diri dan belajar untuk selalu rendah hati.
Sumber belajar tidak hanya satu, kehidupan adalah sumber belajar yang maha sempurna. Bahkan dari mereka yang datang meminta sembako saya belajar, bahwa kemuliaan, kehormatan dan status hanya sekedar tempelan tak bermakna. Jika Allah berkenan mengambil maka yang tinggal hanya ke papa an. Seperti beberapa hari lalu, Aku tahu bahwa yang datang meminta sembako dan menutup wajahnya dengan masker hari ini adalah seorang yg sangat bangga dgn status yang dia miliki. Meski orang itu menutup wajahnya dengan masker dan topi serta kaca mata, aku mengenal beliau karena pernah beberapa kali dulu saya menghadap beliau. Karenanya saat dia datang saya tidak menanyakan lagi siapa beliau, dimana alamatnya, pertanyaan rutin yang kami ajukan bagi mereka yang datang mengambil bantuan,dan sekedar kami tau bahwa daerah mana saja yang sudah kami distribusikan bantuan. Kami berusaha menghapus kesan birokrasi yang bertele-tele bagi penerima bantuan, karena kesan itu menyakiti hati sodara kami tang tertimpa bencana, lagi pula mereka yang mengirim bantuan sudah pasti ikhlas membantu siapapun yang membutuhkan tanpa memilih dan memilah siapa orang yang akan di bantu. Menyakitkan jika pada saat butuh sekali kita di pimpong kesana kesini, menggunakan persyaratan administrasi yg bertele-tele sementara perut sudah terisi sekian hari. Seperti bapak ini, beliau datang saja ke posko dan meminta bantuan dia sudah mencampakkan rasa malunya yang mungkin dulu dia pertahankan hingga berdarah-darah, tapi semesta mengajarinya untuk membuang rasa apapun demi tanggung jawabnya kepada keluarganya, dan kita yang paham tidak perlu menambah tekanan perasaannya dengan pertanyaan2 tidak penting yang akan menambah luka batin mereka. Selayaknya kita membantu juga dengan sepenuh empati, meskipun faktanya ada juga yang memamfaatkan kepedulian kita dengan berkali-kali datang mengambil lebih dari yang sebenarnya mereka butuhkan. Itulah watak manusia, suka memamfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadinya.”Bapak butuh apa? Ambillah apa yang bapak butuhkan. “Beras ada bu,apakah perlengkapan bayi ada?” tanya beliau tanpa membuka masker dan kaca mata hitamnya “Alhamdulillah pak, beras ada, minyak, gula, susu, teh, sabun, pasta gigi, biskuit, bapak boleh ambil, bahkan pampers bayi, bapak naik apa?” ” Naik motor tetangga bu, mobil saya hancur dengan rumah dan semua yang saya miliki” katanya perlahan… dada saya sesak dan menyesal telah bertanya serta membuka luka hati beliau ” maafkan saya, ambillah yang mampu bapak bawa pulang” kataku buru2 mengambilkan kebutuhan yang beliau sebutkan. Hati kecil saya terusik, dan seketika saya respek kepada beliau, meskipun saya tawari macam-macam beliau hanya mengambil apa yang beliau butuhkan itupun dalam jumlah sebatas yang beliau bisa bawa dengan motor. Berbeda sekali dengan sepasang suami istri yang datang kemarin, dia meminta semua yang tertangkap matanya, dan mengambil dalam jumlah yang banyak, sehingga suaminya bahkan tidak bisa memutar stir motornya. Saat saya menegur untuk membawa sebisa kendaraannya, dengan wajah kecut si perempuan bilang, tak apa ibu nanti saya pangku, ditempat saya banyak orang yang butuh dan akan saya kasih. Saya tersenyum saja dan bilang alhamdulillah, “hati-hati ibu dijalan, jangan sampai melihat bawaan ibu, orang-orang malah mau merampasnya” si Bapak menunduk hormat dan menggumamkan ucapan terima kasih, si ibu duduk nyaris di lampu rem karena sadel motor penuh dengan bawaaan. Ya Salam…. ujian untuk bersabar pun pada saat kita mendapat anugerah besar bukan hal yang gampang. Seringkali lebih mudah kita bersabar dengan ujian kesulitan tapi banyak dari kita yang justru tidak lolos saat diuji dengan kenikmatan. Seperti halnya tidak mudah bagi mereka yang mengagungkan ego lalu mencampakkannya, tapi inilah sebagian maksud dari ujian ini. Bagaimana kita menyadari bahwa ego yang kita agung-agungkan, harta dan status yang kita bangga-banggakan bahkan kecantikkan dan kegantengan yang disombongkan akhirnya harus kita campakkan dan kuburkan kedalam tanah dari mana kita berasal. Bersabar dalam penderitaan itu tidak mudah, dan lebih tidak mudah lagi bersabar dalam kenikmatan. Dua hal yang menjadi pelajaran penting saat saya duduk merenung ketika membagi sembako bantuan. Bencana yang kita alami ini adalah pembelajaran. Mungkin menyakitkan kalau kita katakan bahwa bencana ini adalah azab Allah, tapi kita harus menerima kenyataan bahwa memang saat ini kita semua dibersihkan. Dibersihkan dari kesombongan, dibersihkan dari penghambaan kepada selain Allah. Kita dipaksa untuk memulai semuanya dari nol, pantai talise yang kini sejauh mata memandang kembali seperti pemandangan 45 tahun lalu tak ada apapun selain laut dan pantainya. Karena saat diberi kemegahan kita salah memfungsikan. Rumah-rumah kita yang megah membuat kita lupa menoleh pada tetangga yang kesusahan. Dan kini kita dipaksa untuk menerima seperti apa rasanya tidak memiliki apapun.
Kita yang terbiasa tidur diranjang empuk, saat ini hampir sepanjang malam kita tidur hanya beralas terpal, siang kepanasan dan malam kedinginan. Bahkan ada sebagian sampai hari ini belum mendapat tenda. Dan itu artinya mereka tidur diatas aspal dan beratap langit. Tapi tak ada alasan untuk tidak mensyukuri semuanya. Paling tidak kita masih dititipkan nyawa, panca indera yang lengkap untuk memulai kehidupan baru.Sedih, merasa kehilangan adalah rasa yang sangat manusiawi,
Tapi bukankah kita memang tidak memiliki apa-apa? Dan layaknya ketika “pulang” juga tidak membawa apa-apa.Yang kita miliki hanya waktu, hanya kesempatan yang harus kita isi dengan hal yang bermamfaat.
Ya illahi…. biarkan hati kami lembut menikmati karuniaMu, suburkan untuk dapat menyemai bibit kasih sayang dan kepatuhan dari semua pelajaran yang Engkau berikan di balik bencana ini. Kami takluk akan kuasaMu, sebagaimana kami sadar bahwa selama ini kami telah mengundang murkaMu. Ampuni kami, bimbing dan cintai kami, agar kami tidak masuk dalam golongan orang yang merugi.

Iklan

One Reply to “­čĺ×Refleksi Dua Minggu Pasca Bencana­čĺ×”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s