šŸ’„Balaroa, Kampung yang HilangšŸ’„

Balaroa, salah satu kampung selain Petobo, dan Jono Oge yang belakangan jadi fokus berita di berbagai media sepuluh hari belakangan pasca Gempa, Sunami dan Liquifaksi mendera Kota Palu, Donggala dan Sigi.

Ditanah seluas lebih kurang 40 hectar berdiri 1045 rumah, seingatku perumnas Balaroa adalah perumahan pertama yang dibangun di Palu. Saya ingat betul ketika salah seorang sepupu saya tinggal di sana, saya masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Ketika diajak berkunjung oleh papaku, aku merasa daerah itu sangat jauh dari pusat kota tempat kami tinggal dan melihat rumah yang masih bisa dihitung jari, otak kecilku berpikir kenapa yah orang-orang mau mengambil rumah jauh-jauh ke daerah itu? Namun seiring dengan berkembangnya kota Palu dan mudahnya transportasi, maka perumahan tersebutpun menjadi sangat ramai, dan dengan cepat menjadi salah satu perumahan yang sangat padat penduduknya. Ada begitu banyak sodara dan kenalan kami kemudian yang memilih tinggal disana, dengan pertimbangan bahwa saat ini perumahan tersebut berada dalam kawasan kota, sangat dekat dengan akses pasar, rumah sakit umum dan hampir semua fasilitas publik. Perumnas Balaroa akhirnya menjadi aset yang bernilai tinggi bagi mereka yang memilih hunian ditempat tersebut.
Namun rentetan indah kisah istimewanya perumahan ini berakhir tragis saat kemudian Gempa dengan skala besar mengguncang kota Palu. Perumnas Balaroa dengan 1045 rumah hilang lenyap amblas tertimbun tanah, ratusan bahkan mungkin juga ribuan penghuninya pun turut tertimbun subhanallah….

Gempa, liquifaksi dan kebakaran meninggalkan kisah yang sangat memilukan bagi mereka yang selamat dan kehilangan. Sungguh bukanlah hal yang mudah untuk menerima taqdir ini jika tidak dengan iman. Kehilangan rumah dan harta benda lainnya karena Gempa keras serasa belum cukup, liquifikasi tanah juga merenggut orang-orang yang mereka kasihi, belum lagi kebakaran yang terjadi ya salam… bencana ini terasa begitu komplet. Air mata yang menderas setiap kali mengulang kisah yang terjadi seharusnya mampu melagakan dada yang sesak oleh rasa nyeri dan pilu yang dirasakan. Tapi kehilangan ini sungguh dahsyat, luka yang ditorehnyapun mungkin tidak bisa hilang dalam sekejap. Meskipun orang mengatakan waktu akan sanggup menyembuhkan segala luka sedalam apapun namun luka ini memang harus diterima dengan iman dan keyakinan. Kehilangan sekian banyak anggota keluarga sekaligus dalam jumlah yang tidak sesikit, sebagian berlangsung didepan mata tanpa kita sanggup membantu tentulah pukulan telak bagi semua orang. Namun itulah fakta, dari berbagai cerita dahsyat yang kudengar ditempat pengungsian dan menyempatkan diri untuk melihat lokasi kejadian, benar-benar kejadian saat itu luar biasa dahsyat.

Saat gempa besar itu terjadi sebagian penghuni perumahan tengah bersiap sholat magrib, ada yang bersiap ke masjid dan ada yang memilih sholat dirumah saja.

Gempa dahsyat membuat sebagian buru-buru keluar ke teras rumah, ada yang langsung lari menjauh dari rumah, namun sebagian, balik lagi masuk kerumah karena teringat masih ada anak, ibu, istri, dan orang tua mereka tertinggal didalam rumah. Yang balik kembali kerumah itulah yang kemudian banyak terkurung dan tidak bisa keluar lagi karena kemudian tanah seolah di blender menggeser rumah dengan cepat, menjebloskan kedalam tanah lalu menimbunnya kembali. Subhanallah. Saksi mata mengatakan sesaat mereka terpaku karena demikian terkejut melihat bagaimana bangunan-bangunan yang demikian banyak bergerak serentak, bergeser diikuti retaknya tanah dan aspal jalan, tanah disekeliling tiba-tiba membuka dan bergerak seperti gelombang sehingga mereka yang melarikan diri merasa tidak pernah sampai di tujuan karena mereka merasa sebenarnya mereka tidak sedang berlari maju, tapi justru berjalan mundur karena terikut tanah yang bergerak bergelombang. Ketakutan dan kecemasan membuat mereka berlari sekuat yang mereka mampu sambil berteriak menyebut nama Allah, bertakbir, bertasbih karena mereka merasa seolah dunia sudah akan berakhir. Tanah kemudian membuka langsung menyedot semua bangunan rumah kedalam, dan tidak terhitung menit tanah tiba-tiba menutup kembali mengubur semuanya. Sejauh mata memandang hanya tinggal puing-puing runtuhan bangunan yang semula rusak karena goncangan gempa.
Perumnas Balaroa kemudian hilang. Pemandangan berganti seolah tak pernah ada satupun rumah disana. Sejauh mata memandang hanya tanah kosong berisi puing-puing bangunan , aspal jalan yang hancur dan porak poranda. Meninggalkan kesan seperti habis diaduk oleh tangan raksasa. Sebagaimana yang dikisahkan oleh seorang ibu yang terkurung dan tertimpa bangunan rumahnya bersama seorang putrinya di rumah sakit. Dia dan putrinya saling berpelukan, saat mereka tertimpa reruntuhan bangunan, dan tidak bisa keluar karena bahkan membebaskan diri saja mereka tidak mampu, tembok yang menghimpit dia dan putrinya begitu kokoh. Si ibu memeluk anaknya erat sambil berdoa, “ya Allah jika sekiranya hari ini Kau takdirkan sebagai hari terakhir kami, maka kami ikhlas, namun jika tidak ya Illahi kirimkan malaikat untuk membantu kami.” Saat itu putrinya masih memegang hp yang senternya masih menyala, putrinya juga masih dalam pelukannya, mereka tidak mendengar suara apapun , senyap dan harapan untuk ditemukan orang juga kecil. Karena suaminya yang siang hingga malam tadi izin pergi ke acara kantor belum ada tanda-tanda bisa menemukan lokasi mereka. Dan sesaat ketika si ibu terus berdoa mohon keajaiban, tiba-tiba dia mendengar suara lelaki bertanya apakah ada orang di bawa? Diapun berteriak memberi tahu bahwa mereka dibawah reruntuhan dan tidak bisa keluar. “Aku dan anakku terjepit reruntuhan” dan sungguh sebuah keajaiban ketika akhirnya mereka berdua bisa dikeluarkan dari reruntuhan oleh dua orang asing. Meski akhirnya dokter mengatakan bahwa putrinya mengalami patah tulang lengan dan kaki dan si ibu juga mengalami luka parah tapi kebahagiaan bahwa mereka di tolong oleh dua lelaki yang sampai saat ini mereka tidak tahu siapa adalah sebuah keajaiban dan kuasa Allah yang mereka terima saat bencana itu datang. Dengan air mata berlinang si ibu berkata” Subhanallah… ajal adalah ketetapan Allah, dan jika sekiranya belum saatnya maka Allah akan mengirimkan pertolongan untuk mengeluarkan kita dari kesulitan” Seolah hanya tanah kosong. Sungguh serasa mimpi buruk bagi mereka yang ditinggalkan. Tidak mudah untuk menanggung semuanya, bagi mereka yang memilih memiliki rumah disana, mungkin merasa seperti mimpi buruk, tapi jika hanya mimpi maka pastilah saat ini keluarga mereka masih lengkap. Tapi mimpi buruk itu rupanya nyata, mereka kehilangan segalanya. Kehilangan anggota keluarga, juga kehilangan harta benda. Sangat kita pahami bahwa luka para korban sangat dalam, tapi bahwa semua ini adalah tanda cinta Illahi kepada kita. Bukankah Allah tidak akan menguji hambaNya melampaui kekuatan hambaNya, Jadi ingat pesan seorang teman via WAG tadi pagi “Cara Allah menyayangimu bukan dengan meringankan masalahmu, tapi dengan menguatkan jiwamu sehingga sehebat apapun masalahmu kau tetap bertahan dan tak menyerah. Kita semua berharap ujian dahsyat ini akan menguatkan bahu kita semua, menjadikan kita manusia yang lebih baik, menambah kecintaan dan kedekatan kita pada Illahi, Sang Pemilik Hidup. Jika kita menjadikan cinta Allah sebagai yang pertama, niscaya luka yang kita punya tak akan bertahan lama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s