Bilakah kami akan berhenti mengucap selamat jalan untuk sodara kami?

Hari ke enam pasca bencana, listrik mulai menyala, jalanan tidak lagi lenggang, meski BBm masih sulit tapi mobil sudah meramaikan jalanan yang kemarin benar-benar sepi hingga memungkinkan kita tidur dijalanan tanpa dilindas.

Matahari panas menyengat, tak pernah turun suhunya sejak hari kedua aku menginjakkan kaki kembali di kota ini…. panas yang garang, membuat kulit perih dan gosong.

Kupandangi wajah anak-anakku yang hitam. Aku hanya mampu tersenyum dalam hati, saat aku mengatakan fakta betapa kusamnya wajah kami selama di pengungsian, 😊 anak-anak balas memeluk dan menciumiku “seribu kali lebih baik wajah kita kusam dari pada kita terendam lumpur atau berkalang tanah” kalian benar nak… meskipun kulit kita gosong kita masih mampu tersenyum dan berpelukan, dibanding saudara kita yang lain, yang hilang belum ketahuan kabarnya atau bahkan yang meninggal tanpa kita sempat menghadiri pemakamannya. Luka itu masih berdarah, kucurannya masih bisa kita tangkap dalam isak tangis dan mata yang berembun setiap kali nama sodara tersebut. Gempa, Tsunami, lumpur telah merenggut semua binar harapan dari berjuta-juta mata orang palu dan menggantinya dengan kabut lara yang kental.
Seperti hari ini, kami dikejutkan dengan kabar telah ditemukannya ibu, ponakan, menantu dan cucu-cucu yang hilang bersama lenyapnya perumahan perumnas Balaroa. Perumnas yang padat penduduk dengan kurang lebih 700 rumah lenyap seperti diblender, amblas masuk kedalam tanah. Tak menyisakan apapun selain tanah rata, seolah tak pernah ada bangunan diatasnya😢
Rumah beserta penghuninya kemudian lenyap tanpa kabar hingga hari ini mereka di temukan dan alhamdulillah bisa dievakuasi. Ibu, Ifrad Ifrad, Yoan Afha istrinya beserta 3 orang putri mereka. Ya Illahi….. kami tahu bahwa ada pesan yang ingin kau sampaikan kepada kami lewat musibah ini. Kami tidak bisa memilih yang mana boleh kami ambil dan yang mana pula sanggup kami tolak. Karena kuasaMu melampaui segenap kehendak kami, maka kami menerima kabar penemuan jenazah ponakan kami sekeluarga ini dengan ikhlas. Kepiluan yang sulit untuk kami tanggungkan apalagi keluarga Yoan Afha di Bandung.
Sekali lagi kami kehilangan kata, bahkan untuk menghibur diri sendiripun kami tak sanggup lagi. Maka biarlah tanganMu yah Illahi yang membasuh dan mengusap semua duka kami. Kami ikhlas… kami ikhlas yah Illahi…. terima mereka sebagai suhada, angkat derajat mereka , ampuni mereka dan tempatkan mereka di jannahMu.

Matahari masih garang, kulit kami bertambah perih, tapi lebih perih lagi luka di hati kami.
Selamat jalan kak Azriah (mama Ifrad), Selamat jalan Nak ifrad, nak Yoan dan ketiga cucu..kami mengiringi kalian dengan doa dan kucuran air mata pilu.😭😭 orang baik akan dikumpulkan dengan sesama orang baik. Kami jadi saksi kebaikan kalian sekeluarga Nak……
Inna lillahi wa inna illahi rajiun…….

Iklan

4 Replies to “Bilakah kami akan berhenti mengucap selamat jalan untuk sodara kami?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s