šŸ’Karena Apa yang kau lihat, bisa jadi tidak sama dengan apa yang kau pikirkanšŸ’

Hari ini Aku tidak duduk dikursi yang biasa, Aku sengaja mengambil tempat duduk di sofa yang berhadapan dengan mushola, sehingga mudah jika sewaktu-waktu Aku mau meninggalkan tempat untuk sholat. Dari tempat Aku duduk dengan mudah mataku menangkap layar informasi keberangkatan maupun kedatangan, Aku juga bisa dengan mudah mencolok hp yang sebentar-sebentar sekarat batreynya, mungkin juga benar kata teman-temanku sudah waktunya hp ini di lembirušŸ˜ŠMenghargai yang memberi Aku tetap memakainya sampai memang tidak bisa lagi dipakai hehehe….
Didepan kursiku, duduk perempuan bule yang asyik bekerja dengan laptopnya. Menilik usianya mungkin sudah melampaui 70 tahun. Untuk ukuran rata-rata perempuan Indonesia, pasti sudah sangat malas membuka komputer, atau bahkan sama sekali kurang paham menggunakannya.Tapi perempuan dihadapanku ini tergolong luar biasa, hampir dua jam beliau masih saja tekun dan serius dihadapan laptopnya, sesekali dia break dan berjalan cepat untuk sekedar menambah air minum dan mengambil kudapan ringan di buffet. Disebelahnya duduk seorang bapak yang sejak tadi juga sibuk menerima telpon dan menjawab, dari percakapan keras yang dia lakukan Aku memperkirakan kalau beliau seorang dosen.

Aku tertawa menyadari sikapku, kebiasaan mengamati orang yang tidak bisa kuhindari. Tapi Aku berusaha menahan untuk tidak memberi penilaian terhadap apapun yang Aku lihat, cukup mengamati. Sebagai manusia hal lumrah tatkala melihat sesuatu kita spontan menilai bagus tidaknya, baik buruknya, benar salahnya bahkan seringkali lebih ekstrim dari itu. Kita serta merta merasa tidak suka kepada seseorang hanya karena kita mendengar selentingan cerita buruk tentang yang bersangkutan, padahal kita belum lagi mengenal orang yang dimaksud.

Kita juga apriori menolak atau menerima seseorang dengan gampang hanya karena memandang tampilan sekilas. Memberi stempel buruk seolah kita yang paling baik hanya karena kita melihat satu kesalahannya.

Sering terpikir olehku, apakah semua orang melakukan hal yang sama seperti itu? Kalau Aku berani menilai orang lain semudah itu, lalu apa yang menghalangi orang lain untuk melakukan hal yang sama? Toh mereka juga punya kuping dan mata? Jika mustahil bagiku melarang orang lain untuk menilai diriku, mengapa tidak Aku latih diriku untuk tidak menilai orang lain? Lagipula belum tentu penilaianku memang sesuai dengan apa yang Aku lihat šŸ˜Š, bukankah kita cenderung menilai seseorang menggunakan standar dan ukuran kita, istilahnya, kita cenderung mengukur orang lain dengan pakaian kita, kalaupun kita menggunakan standar umum sesuai norma yang berlaku, apakah itu juga objektif? karena seringkali dalam melakukan penilaian kita hanya mendasari apa yang kita lihat dan dengar dalam sekali atau beberapa kali pertemuan.

Kita mengatakan seseorang itu aneh, karena mungkin dalam penglihatan kita yang bersangkutan tidak bersikap seperti orang lain pada umumnya, mungkin caranya berpakaian, atau caranya melakukan sesuatu, padahal sesungguhnya orang tersebut merasa dia biasa saja, cara memandang kita kepadanyalah yang aneh, karena kita menggunakan ukuran kebiasaan kita, kebiasaan orang lain pada umumnya.

Contoh sederhana, ketika kita melihat seseorang menggunakan jaket disiang hari bolong dalam keadaan cuaca panas, segera terpikir oleh kita bahwa orang tersebut aneh, padahal bisa jadi yang bersangkutan kurang sehat, tengah meriang dsb. Tapi karena umumnya orangntidak menggunakan jaket di siang hari yang terik maka kitapun menilai aneh cara orang tersebut berpakaian. Naif bukan?

Come on, setiap orang melakukan sesuatu pasti dengan alasan dan keyakinannya sendiri-sendiri. Lalu apa hak kita menjudge dia begini dan begitu? atau dia harus begini dan begitu? Dari sisi ini nampaknya pikiran kitalah yang harus di ubah. Jika kita tidak bisa menilai orang lain dari kaca mata yang bersangkutan dan itu pasti tidak bisa, maka kita yang harus menghentikkan kebiasaan buruk berusaha menilai orang lain, mudah bukan? Karena apa yang kita lihat tidak selalu sama dengan apa yang kita pikirkan……

Iklan

4 Replies to “šŸ’Karena Apa yang kau lihat, bisa jadi tidak sama dengan apa yang kau pikirkanšŸ’”

  1. Dulu saya sempat berpikir, apakah cuma aku yg suka mengamati orang lain?
    Tapi setelah suka ngblog dan melakukan blog walking ternyata bnyak juga yg memiliki kebiasaan sama. Kayak sampean ini.
    Sebenarnya memberi penilaian terhadap orang hnya dengan melihat tampilan luar itu wajar. Karena merupakan cara otak kita menerima informasi dan memproses serta menganalisa sifat dan karakter dengan sesuatu yg pernah dilihat dan memori yg tersimpan dalam otak. Asalkan penilaian itu cukup disimpan dalam otak selama belum ada bukti lain yg mendukung.
    Yg jadi masalah klo hanya memperkirakan tapi langsung menjudge. Menurut ku seperti itu si.

    Suka

    1. Nah seringkali tanpa disadari dari sekedar mengamati kita terus saja bablas memberi penilaian, dan menurutku yg paling banyak kek gitu yah kaumku hehehe……. karenanya untuk mengerem hal2 tadi saya belajar untuk tidak lagi menilai.

      Suka

      1. Klo untuk tidak memberikan penilaian sya rasa sangat sulit. Tapi nggak tau klo orang lain hehehe. Tapi menurutku asal hanya cukup di dalam otak dan tidak diungkapkan krna blm tentu penilaian kita itu selalu benar.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s