Memilih Diam Menikmati Luka

Mendung bergelayut sepanjang pagi, udara dingin terbawa angin semilir membuat malas beranjak dari balik selimut, tapi tugas sudah menanti dan untuk itu tak ada tawar menawar. Sudah beberapa hari kota ini diguyur hujan lebat, kota yang dikenal karena debu dan panasnya yang tiada ampun kali ini berubah sejuk.

Sejatinya keadaan seperti ini disyukuri karena kemudian sering disaat panas terik kita malas melakukan aktivitas di luar rumah, apalagi ibu-ibu dan gadis-gadis yang tengah melakukan perawatan kulit, sinar matahari langsung seolah menjadi musuh besar😘 tapi beberapa hari disiram hujan ternyata juga membuat sebagian ibu mengomel, karena cucian basah bertumpuklah, banyak pekerjaan diluar tidak bisa diselesaikan… aduh.. keluh kesah inilah sesungguhnya yang bikin hati kita sesak. Melihat segala sesuatu dari sisi negatif memang menumbuhkan anti pati. apalagi ketika kenyataan juga menyodorkan hal yang kurang enak, semakin bertambahlah keluh kesah kita dan semakin mengkerutlah hati karena rasa tak nyaman.

Sesungguhnya sifat dasar manusia senang berkeluh kesah. Padahal jika disadari bahwa hidup ini tidak selamanya datar melainkan penuh dinamika dan liku-liku. Bahagia berujung sedih, dan sedih berakhir bahagia seperti itulah silih berganti. Menyitir kalimat penceramah semalam, maka kita akan temukan cara untuk mensiasati bagaimana jika kita dihadapkan pada kesulitan.

” Sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanya kesenangan yang memperdayakan” (Q.S.Ali Imran 185)

Karena kehidupan dunia ini sesuatu yang fana, maka tentu saja yang namanya kesulitan pasti berakhir dan tidak selamanya, demikian sebaliknya.

Jika akhirnya kesulitan dan kerumitan itu tidak abadi maka disanalah dibutuhkan kesabaran, kesabaran menghadapi kesulitan, dan kesabaran menunggu kapan kesulitan itu berakhir.

Kesabaran menghadapi kesulitan sungguh tidak mudah, karena pasti masalah yang datang bentuknya seperti grafik, akan sampai ketitik maksimal yang mungkin akan membuat kita merasa mati itu sedemikian dekat saking sulitnya, sesaknya tidak tertahankan.

Pada saat kritis seperti itu, tidak ada hal yang paling baik selain kita bersandar dan menyerahkan diri kita bulat-bulat kepada Allah swt, bukan saja karena keyakinan kita bahwa DIA yang memberi ujian dan DIA jugalah yang akan memberi petunjuk dan jalan keluar terbaik, tapi juga keyakinan bahwa apapun yang diperhadapkan kepada kita itu bukti sayangNya Allah pada kita. Pasti dibaliknya ada hikma yang akan membelajarkan kita tntang sesuatu yang kita belum paham, yang akan mengingatkan kita sesuatu yang mungkin kita lupa, atau justeru Allah tengah menarik kita untuk lebih dekat kepadaNya.

Seberat apapun kesulitan sebaiknya kita hadapi dengan senyum (mungkin dengan meringis, atau bahkan dengan air mata) tapi yakinlah kesulitan itu tidak akan melampaui batas kekuatan kita. Dan yang paham kekuatan dan kualitas kita siapa lagi selain DIA yang menciptakan kita? satu hal yang perlu kita camkan

” PUNCAK dari KESABARAN adalah memilih DIAM, SAAT HATIMU riuh karena TERLUKA, sedangkan PUNCAK dari KEKUATAN adalah ketika Kau memilih TERSENYUM saat MATAMU penuh EMBUN menahan TANGIS”

Semua penderitaan dan luka akan berakhir dan terkubur oleh waktu, ibarat grafik, setelah klimaks pasti kesulitan itu akan menurun, itulah saat-saat indah dimana kita diminta sabar untuk menunggu saat bahagia, saat dimana kesulitan itu berakhir manis karena kita sudah melewati dengan baik semua kesulitan sebelumnya. Dan porsi kebahagiaan yang akan kita terima jauh lebih besar sesuai kebesaran hati kita saat menghadapi setiap kesulitan.

Jika kesulitan itu akan berlalu pada akhirnya, lalu kenapa kita tidak menghadapinya dengan gagah? tidak menyertainya dengan keluh kesah yang hanya membuat hidup kita semakin berat, tidak menambahi dengan protes dan omelan yang justeru membuat kita lebih sesak. Jika kita tidak sanggup memandangi masalahnya dengan senyum dan mata terbuka, maka izinkan saja mata kita terpejam, kompromikan hati kita untuk menerima dengan ikhlas, peluk erat mereka yang sudah membantu dan ikhlaskan mereka yang mungkin menjadi sumber masalah atau justeru datang memperkeruh suasana.

Karena mereka juga tidak datang dengan keinginannya sendiri melainkan dikirim Tuhan untuk menguji kita, artinya jika kita memusuhi mereka sesungguhnya itupun bentuk protes kita kepada Illahi. Kalaupun hati kita belum mampu melupakan sikap mereka, setidaknya kita sudah berupaya untuk memaafkan. Terakhir mari kita berdoa dan meminta kepada Allah agar tidak menjadi sandungan bagi orang lain, kita minta agar kiranya kita dihadirkan sebagai orang yang hadir untuk meringankan beban orang lain, bukan yang ikut menyakiti orang lain karena lidah ataupun tangan kita.

Wallauhu alam bi syawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s