Cerita Ramadhon

Sore itu pesawat yang aku tumpangi dari Bali mendarat mulus, dengan tergesa aku menyeret koper keluar bandara menuju tempat parkir penjemputan. Aku sudah lupa hari ini puasa yang keberapa, yang pasti baru hari ini puasa terasa sangat berat, perutku melilit agak nyeri diulu hati.

Tanpa perlu bertanya pada Dokcil ku aku tahu apa penyebab rasa yang nyeri di perutku. Karena terakhir perutku menerima nasi dua hari yang lalu, bukan karena diet atau takut gemuk, gak takutpun gemuk sudah melanda diriku😃 sedikitpun aku tak khawatirkan itu, yang aku khawatir jika nyeri ini berkepanjangan dan aku tidak bisa melalui puasa hari ini dgn sukses. Aku naik eskalator menuju terminal keberangkatan karena supir yang menjemputku hari ini bukan supir langganan. Aku sampai di gate 3 keberangkatan, ternyata sang supir justeru memarkir mobilnya di gate 5, kesabaranku diuji, alhamdulillah tak sedikitpun rasa marah muncul meski kakiku semakin berat kuseret. Ternyata Allah maha baik, perjalanan dari bandara ke hotel sama sekali tidak macet, dan yang tadinya aku perkirakan bisa 1 jam perjalanan ternyata hanya menghabiskan waktu 45 menit, lebih lama 1 jam dari upayaku berjalan ke tempat sopir memarkir kendaraannya karena dia salah paham dimana harus menjemputku.
Di food court aku sudah tidak nafsu untuk memilih makanan apa, aku pilih duduk dikursi yg pertama kali kutemui, syukur2 menu yang ditawarkan kena juga dilidah, aku buka dengan segelas teh manis, seporsi soto betawi dan makhluk2 diperutku langsung bersorak gembira menerima nasi plus desert es uyeng durian😉😉 ( Dasar perut Indonesia, hidup nasi!!)
Baru aku sadari kursiku tepat di depan kasir, biasanya kasir diposisikan ditempat paling strategis dimana dia bisa memandang semua pelanggan yang makan tanpa melewatkan seorangpun. Posisi itu juga yg membuat mataku menangkap sosok seorang ibu tua, berjalan agak bongkok, duduk persis kearah lalu lalang orang, sesekali matanya menatap kearah counter kemudian menunduk lagi. Tak seorangpun pelayan yang peduli kehadirannya berbeda dengan suami isteri yg duduk dihadapanku, bahkan belum duduk sudah didatangi untuk menanyakan pesanan mereka. Aku memanggil pelayan dan minta tambahan makanan sama persis yg aku pesan untuk ibu tua itu. Ketika si pelayan mengantarkan makanan itu ibu tua menggeleng, tapi pelayan memaksa menurunkan makanan tersebut dimejanya sambil menunjuk kearahku, si ibu tua memandang kearahku, aku mengangguk hormat dan cepat2 menangkupkan kedua tangan didepan dada berharap dia menerima permohonanku menyuguhinya seporsi soto betawi. Alhamdulillah dia mengangguk dan akhirnya menyantap makanan tsb. Aku menyelesaikan makananku, menyeruput es uyeng duren dengan mantap hingga tetes terakhir🤣🤣 ketika lenganku digenggam kuat. Aku menoleh dan menemukan ibu tua itu berdiri disampingku” Nak, Terima kasih yah untuk makanannya” katanya sambil tersenyum” aku berdiri dan menarik kursi buatnya “maafkan kelancangan saya bu” kataku sekali lagi menangkup kedua tangan di depan dada. ” Kenapa minta maaf, aku senang sekali hari ini, karena aku ditraktir olehmu, hal yg lama sekali kutunggu dari anak dan menantuku” katanya. Tersenyum tapi aku menangkap kepahitan. Aku tidak merespon kata2nya meskipun aku penasaran apa maksud ucapannya itu.” Ibu dengan siapa kesini?” “Dengan cucu ibu nak, tuh mereka buka bersama teman2nya” katanya mengarahkan pandangan pada sekelompok ABG yg tertawa2 riang. ” itu cucuku satu2nya dari anak lelaki tunggalku, mereka sibuk dan tidak punya waktu buat anaknya apalagi untukku” katanya lagi2 tersenyum pahit. Aku menggenggam tangan dan mengelus kulit keriputnya. Rasanya aku paham seperti apa perasaan ibu tua ini, adakah orang dijakarta yang tak sibuk? “Bahkan hari minggu mereka masih terus sibuk dengan urusan dan pekerjaannya, aihh maafkan aku sudah mengeluh padahal kita baru pertama kali bertemu” katanya mengelus lenganku. Aku tersenyum “Gpp bu, pertama kali melihat saya sudah jatuh cinta kepada ibu, mengingatkan ibu pada tante saya. Wajah ibu sejuk sekali?” Kataku tulus. Ibu itu sekali lagi mengelus lenganku “Kamu tinggal dimana? Kapan2 kerumah ibu yah?” Aku tersenyum” saya dari palu bu, kebetulan perjalanan dinas dari Bali dan mampir disini?” Kataku.” Kamu juga sibuk?” Aku menggeleng ” hari ini tidak bu, saya justeru sibuk kalau dikampung saya?” Kataku jujur. ” Nenek, ayo pulang. Ibu sudah di menunggu di tempat parkir” seorang remaja putri yang cantik mendekati kami dan menarik lengan si ibu tua ” Nak aku belum tau namamu,masukkan nomer hpmu disini. Kapan2 aku akan menelponmu” aku menerima hp nokia yg disodorkannya mengetikkan nomer hpku cepat dan mengembalikan hp itu padanya “Namaku Sovi bu, saya akan senang sekali jika ibu menelponku” kataku. Dia terenyum, menyuruh cucunya menyalamiku, aku juga menyalami dan mencium tangannya, dia memelukku erat, seolah kami dua sahabat yang baru bertemu. Nikmatnya puasaku hari ini.
Ini ceritaku… mana ceritamu?

Iklan

2 Replies to “Cerita Ramadhon”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s