Ruginya memelihara Ego

Pagi ini hujan agak deras tapi rupanya hanya sebentar, dan nampaknya amat sangat memuaskan pohon melati yang berbunga lebat di depan rumahku.

Dahannya mengangguk ceria meski nampak berat oleh bunga yang bermekaran dan daun yang berkilau tertimpa embun…. subhanallah sejuknya hati mengamati itu. Tapi aku tidak bisa berpuas-puas karena harus segera berangkat kekantor. Ingin benar hati memetik beberapa kuntum melati tapi aku tidak tega memutus kegembiraan mereka menikmati pagi yang cantik dengan aroma wanginya yang harum dan membius. Hhmmmm…. adakalanya kita memang bisa selalu menikmati keindahan tanpa mesti memiliki, karena memetik bunganya berarti membiarkan keindahan itu pupus dan layu secara cepat hanya untuk sekedar memenuhi hasrat sementara. Padahal jika dia tetap kita biarkan menempel di dahannya… kita akan tetap mencium aroma wanginya dan menikmati keindahannya lebih lama. Itulah manusia, merasa paling berkuasa dan dengan kekuasaannya merasa seolah bisa segala-galanya bahkan mesti harus memutus kebahagiaan makhluk lain. Sifat egois yang sudah dimiliki manusia sejak bayi. Dalam ilmu perkembangan sifat egois manusia sudah ditunjukkan sejak dia masih balita, sifat egocentrism dimana tingkah lakunya yg tidak bisa menempatkan diri dalam posisi orang lain. Ingin selalu diperhatikan, pendapatnya harus diterima dan selalu berharap orang lain memahami dirinya. Faktanya kemudian tidak semua orang bisa berkembang sesuai usianya. Karena ada orang dewasa yang masih memelihara sifat egocentrism ini. Ingin diperhatikan adalah watak dasar manusia, tapi seyogyanya sebagai manusia dewasa kita sudah harus mampu menempatkan posisi diri kita dalam posisi orang lain atau bahkan makhluk lain. Perasaan seperti ini dengan sendirinya akan menumbuhkan sifat simpati dan empati. Hadirnya sifat itu akan menciptakan harmonisasi dalam kehidupan kita. Karena kemampuan menempatkan posisi diri kita dalam diri orang lain juga akan menumbuhkan perasaan tenggang rasa, menjadikan kita selalu berhati-hati dalam bersikap dan mengambil keputusan. Berhati-berhati dalam memilih kata yang akan disampaikan, berhati-hati ketika melakukan sesuatu agar tidak menyakiti orang lain, karena kitapun tidak ingin disakiti baik dalam ungkapan verbal maupun dengan sikap orang lain. Kita akan belajar untuk mencubit diri sendiri sebelum mencubit orang lain, melembutkan suara saat bercakap dengan orang lain karena kita juga tidak akan senang dikerasi, kita akan mampu mengoreksi diri sendiri sebelum berani mengoreksi orang lain. Wis pokoknya semua hal baik akan bermunculan jika kemudian kita menggali dan meningkatkan kemampuan yang satu itu.
Diam-diam aku bersyukur tidak jadi memetik kembang melati tadi pagi, karena artinya pagi ini aku belajar memposisikan diriku sebagai bunga eheeemmmm…. 🤣🤣( rasanya tidak cocok jadi bunga melati yah, marry gold ajalah alias bunga tai ayam hahaha) yang harus dipetik untuk kemudian hanya akan terlantar saat melati itu kemudian hanya kusebar diatas dashboard mobil, berharap harumnya akan menyebar didalam mobil dan aroma wanginya akan menemaniku dalam perjalanan kekantor. Padahal dia akan tetap cantik jika tidak kupetik, dan wanginya akan tahan lebih lama, bahkan saat pulang nanti aku akan tetap melihat bunga itu dengan kecantikkan yang sama dan aromanya yang selalu membius.
Aihhh…. sudah yah, kok jadi panjang begini?
Selamat beraktifitas… selamat berakhir pekan….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s