Sejatinya semakin tua, kita semakin wise

Pagi ini langit berawan, semilir angin mengoyang ranting melati yang penuh kuncup dan mengirim aroma wanginya hingga kekamarku. Rumah sudah sepi, bungsuku sudah berangkat sekolah sejak tadi, kakaknya pun sudah berangkat dinas ke rumah sakit sejak pukul enam pagi. Sayup-sayup dari kamarku terdengar suara mamaku mengaji setelah menunaikan sholat dukha. Sambil berpakaian aku menyimak siaran televisi, sambil lalu memencet remote tv mencari program televisi yang bermutu bukan infotainmen yang hanya menyajikan urusan selebritis yang bertabur kemewahan, sensasi yang menarik bagi media untuk menaikkan rating acaranya.

“Semakin bertambah umurmu hendaklah engkau bertambah sabar dan bijak” aku menghentikkan pekerjaanku, tertarik mendengar suara dari televisi, aku berenti sejenak dari merapikan tempat tidur serta langsung mengalihkan pandanganku kelayar televisi dan mendengarkan sang juru dakwah menjelaskan sambil mengutip kalimat syayidinah Ali bin abi thalib : “Semakin bertambah usia hamba Mukmin seharusnya semakin bertambah pula ilmu dan kesalehannya” aku melanjutkan memperbaiki sprei dan mengibas tempat tidur dengan sapu lidi. Aku membenarkan kutipan kalimat sayidinah Ali tersebut, jika seorang yang telah berumur lantas menyerah untuk tidak belajar lagi dan berupaya menaikkan kualitas ibadahnya, lalu apa lagi yang dia harus lakukan sementara kain kafan sudah selesai ditenun dan mungkin sudah di pajang di toko menunggu keluarga datang menjemput? šŸ˜¢Teringat kata-kata seorang bijak “Pupuklah kesalehanmu sekarang juga. Maka engkau akan menikmati hari tuamu dalam suasana dekat kepada Allah. Berupayalah engkau untuk melatih diri dalam menahan emosi. Sebab, ketika umurmu bertambah tua, emosimu tidak semakin menurun.ā€œ
Hidup ini adalah sekolah yang tidak akan pernah selesai, yang mewajibkan kita untuk belajar sepanjang hidup baik dalam mengelola emosi, menghadapi berbagai persoalan hidup, berinteraksi dengan lingkungan dan orang-orang disekeliling kita yang kesemuanya berujung pada kematangan dan kesempurnaan jiwa dan kepribadian kita.
Sebuah hadits Qudsy berbunyi: “Hai anak Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku hindarkan kamu dari kemelaratan. Kalau tidak, Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan kerja dan Aku tidak menghindarkan kamu dari kemelaratanā€œ (HR.Turmuzi dan Ibnu Majah). Ini warning bagi kita semua bahwa jika Allah menginginkan kebaikan kepada kita maka dijamahnya hati dan pikiran kita untuk tunduk kepadaNya, menyingkirkan kesibukan untuk beribadah dan meniatkan semua aktivitas sebagai ibadah kepada Allah swt. Apalagi jika usia semakin menanjak naik. Hanya mereka yang mengisi hidupnya dengan banyak beribadah akan lebih wise dalam menghadapi hidup karena keyakinan dan kepercayaan mereka bahwa Allah swt sajalah sebaik-baik yang mengatur dan merencanakan hidup, hingga tidak ada alasan bagi kita untuk memprotes apalagi menghujat sekiranya di beri sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.

Seperti satu kisah yang ingin aku share kepada kita berikut ini:

Syaikh Al Junaid bertanya kepada Syaikh Al Muhasabi, ā€œBagaimana caraku dapat bersabar atas perlakuan tidak baik orang lain kepadaku?ā€ Al Muhasabi menjawab, ā€œPikirkan olehmu bahwa orang yang berlaku tidak baik kepadamu adalah utusan Allah untuk mendidik dirimu menjadi orang sabar. Kemudian, pikirkan pula bahwa perlakuan tidak baik tersebut adalah balasan atas ketidak benaran perilakumu kepada orang lain. Engkau jangan terburu-buru menyalahkan orang lain yang berlaku kurang sopan kepadamu, ā€œTelitilah, barangkali engkau pernah bertindak kasar kepada orang lain.ā€
Nah orang-orang bijak adalah mereka yang selalu berbicara berdasar hasil pertimbangan yang matang, pikiran yang tepat, dan pengalaman yang bijak, sehingga keputusan yang mereka ambil selalu mengedepankan kemaslahatan orang banyak bukan mengedepankan ego pribadi.
Abu Bakrah mengingatkan, ā€œWahai para orang tua, sesungguhnya anak-anakmu tidak banyak yang mengharapkan engkau berumur panjang. Anak-anakmu yang jauh dengan Allah sangat senang jika engkau berumur pendek. Mereka telah menanti warisan kekayaaanmu yang kau kumpulkan dengan susah payah. Jika engkau sering memikirkan keselamatan anak-anakmu, ingatlah bahwa anak-anakmu hampir tidak pernah memikirkan keselamatanmu. Jika engkau selalu khawatir apakah anakmu besok bisa makan atau tidak, ingatlah bahwa anakmu selalu berpikir apakah hartamu masih bersisa atau tidak.ā€œ
Bukan berarti kemudian kita tidak memikirkan bagaimana kehidupan anak-anak kita, tapi menjadi penting kita juga menyiapkan mereka untuk menjadi manusia yang berkepribadian dengan continue melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Fakta bahwa Kedewasaan dan kematangan seseorang tidaklah diukur dari banyaknya hari yang dia lewati tapi dari seberapa banyak masalah yang mampu dia selesaikan dan tetap kokoh berdiri dengan senyum dan seberapa banyak dia memetik pelajaran dari semua masalah yang dia hadapi. Karena kemampuannya menghadapi berbagai persoalan, sekali lagi akan mempengaruhi kematangan pribadinya.
Perenungan saya putus, saat jam dinding berdentang keras, bersamaan dengan selesai semua pekerjaanku. Aihhh… Waktu memang menggerus dan melibas semuanya tanpa ampun, kecuali hati dan pikiran baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s