šŸ’„Catatan tak berarti untukmu ibu Sukmawati Sukarno putrišŸ’„

Screenshot_20180404-123538

Pagi ini saya membaca cuitan masyarakat Indonesia yang merespon konteks puisi yang ibu tulis. Berbagai macam komentar diluapkan di medsos, sebagian besar dari yang tercederai hati dan perasaannya karena ketidak bijakan ibu membandingkan budaya dengan keyakinan agama. Saya tidak akan menambah kekisruhan tersebut karena pertama kali membaca, sayapun spontan merespon dan mendoakan kiranya engkau di anugerahi hidayah oleh Allah swt atas sebab puisi ciptaanmu yang kontroversi tersebut.
Bahwa Ibu Sukmawati dianggap teledor karena menciptakan puisi yang mencederai hati banyak orang, khususnya umat Islam di Indonesia itu fakta yang tidak bisa lagi disembunyikan, tapi ini justeru menjadi penting sebagai pembelajaran buat kita semua terkhusus saya pribadi. Saya termasuk orang yang suka spontan menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya lihat dan apa yang saya dengar, baik itu saya tuangkan dalam puisi ataupun saya tulis sebagai status panjang seperti saat inišŸ˜Š. Adakalanya sikap spontan dan dorongan menulis menyebabkan kita tidak sempat berpikir panjang akan dampak dari apa yang kita tulis, sehingga penting sekali bagi semua penulis, untuk mendudukkan NIAT bahwa apapun yang akan kita tulis semata-mata diniatkan untuk Ibadah dan membawa mamfaat bagi kita dan orang lain. Bukan sama sekali dimaksudkan untuk menyindir, menyerang apalagi menyakiti orang lain siapapun dan bagaimanapun hubungan orang tersebut dengan kita. Boleh jadi dengan niat seperti itu tulisan yang kita buat akan lebih ber”Nilai”. Kembali kepuisi Ibu Sukmawati, saya termasuk orang yang berkeyakinan bahwa apapun yang terjadi di dunia ini bukanlah karena faktor kebetulan tapi karena skenario besar dan rencana dahsyat dari Sang Pemilik Hidup. Karenanya semua hal sejatinya menjadi pembelajaran bagi siapapun yang di bukakan tabirnya oleh Allah swt. Kasus ibu Sukmawati membuat saya berpikir seandainya saya berada di posisi ibu saat ini, mungkin saya akan sangat terpuruk dan sangat menyesal karena pasti saya tidak mampu menghadapi hujatan demi hujatan yang ditujukan kepada saya, oleh sebab kecerobohan saya mengekspresikan perasaan lewat puisi tersebut. Tapi saya juga akan memahami bahwa terpuruk dan menyesali yang sudah terjadi adalah hal yang sia2. Tidak akan mengubah apapun, mustahil bagi saya untuk menarik kembali puisi yang sudah viral di medsos, apalagi menutup mulut semua orang untuk tidak mengecam saya. Meminta maaf pada khalayakpun tidak lantas serta merta bisa mengobati hati orang-orang yang terluka.
Hingga satu-satunya yang mampu saya lakukan adalah kembali kepada Sang Maha Pengatur kehidupan, bersujud di haribaanNya dan memohon ampunan atas teguran yang demikian dahsyat untuk sikap spontan yang saya lakukan itu. Allah swt tidak pernah menolak siapapun yang datang padanya. DIA tidak pernah mencibir hambaNya yang datang dengan sepenuh pinta. Jika Dia mampu mendatang gelombang dahsyat maka pastinya DIA juga mampu menghentikkan badai sekeras apapun. Setiap kejadian besar yang terjadi pada diri kita memiliki dua sisi yang membuat kita boleh berbesar hati. Sisi pertama adalah kita mengembalikan semua persoalan kepada DIA Sang Maha Perencana, kita ikhlas menerima ketetapan yang telah di gariskan, menerima bahwa itulah sebaik-baik Taqdir yang harus kita jalani, sebaik-baik rencana Allah untuk kita, sebagai rem yang menghentikkan kita, yang boleh jadi selama ini lupa dan abai akan peringatanNya. Sisi yang lain mewajibkan kita introspeksi diri, mengapa kita lebih senang melihat konde, lebih senang mendengar kidung dan tidak tergerak belajar syariat Islam yang nyata-nyata kita yakini sebagai pilihan agama kita diusia yang tidak lagi muda? Tidak ada yang salah dengan konde, yang salah karena kita membandingkannya dengan cadar. Konde adalah budaya perempuan jawa yang diterima sebagai kebudayaan Indonesia yang tidak menjadi dosa, jika saya memilih untuk tidak menggunakan, tapi cadar bagi pemakainya adalah wujud ketaatan atas perintah Allah swt, menjaga pandangan dan memelihara kehormatan dan itu tidak bisa di tawar. Kidung indonesia juga sama posisinya dengan konde, bukanlah sebuah kewajiban untuk harus di dengar meskipun untuk sebagian orang bisa menenangkan, tapi lafaz dan panggilan azan bagi kita pemeluk Islam adalah seruan mulia untuk melaksanakan kewajiban, saking mulianya dikatakan bahwa bahwa panggilan Allah untuk hambaNya itu hanya 3 kali, pertama, panggilan Azan yang di serukan 5 kali dalam sehari, kedua panggilan Haji yang di khususkan bagi mereka yang mampu melaksanakan, serta ketiga panggilan pulang keharibaanNya. Maka bisa difahami bagaimana orang lain tidak geram jika panggilan mulia tersebut di bandingkan dengan kidung Indonesia yang ibu sebut2. Terlepas apakah sering ibu Sukmawati mendengar suara Muazin yang tidak merdu tapi esensi Azan bagi kita adalah seruan mulia untuk menunda semua pekerjaan dan memenuhi panggilan sholat.
Dalam firmannya (Al Qasas: 28: 56) Allah swt berkata” Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada yang DIA kehendaki dan Allah mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”
Sekaitan dengan hal diatas mari kita berpositif thinking bahwa mungkin ini saatnya Allah swt ingin mengetuk hati kita, menjamah kita dengan hidayahNya. Maka mari kita terima dengan senyum dan hati lega, bisa jadi inilah waktunya kita membuka hati, untuk menerima kebenaran, bahwa Allah menggerakkan semua orang mengecam kita agar kita menoleh kebelakang, karena mesti ada sesuatu yang keliru, karena yang namanya kebenaran adalah sesuatu yang bisa diterima dengan lapang hati oleh orang lain, tanpa protes dan komplein. Siapa tahu benar selama ini kita jauh dari Tuhan, kita abai terhadap perintahnya, diperingati dengan hal kecil tidak kita pedulikan sehingga diberi teguran yang lebih keras.
Jika kita merasa kidung lebih baik dari pada Azan, mari kita bertanya dalam hati, jangan-jangan ini bukti bahwa kita tengah dijauhkan dari orang-orang sholeh yang berbondong2 menunda pekerjaannya dan bersegera mememuhi panggilan Azan untuk sujud kepada Rabb Nya? Apakah ini bisa diartikan bahwa kita tidak senang mendengar lantunan azan dari masjid padahal yang terjadi sesungguhnya Masjidlah yang menolak kedatangan kita, atau tidak sudi didatangi oleh kita?šŸ˜¢šŸ˜¢ sungguh memikirkan hal itu saja, saya merinding…. betapa mengerikannya, bukan hanya hidayah yang tidak menghampiri kita tapi bahkan rumah Allahpun tidak sudi kita datangi karena panggilan dari sana kita anggap bukan sesuatu yang indah. Nauzubillah min zalik.
Ibu Sukmawati Sukarno Putri, saya menghormati anda sebagai putri seorang yang saya kagumi, saya sedih membaca komentar orang kepada anda, saya berdoa buat anda dan buat diri saya sendiri, Semoga kita selalu didekatkan dengan hidayah, dicurahi rahmat, diizinkan bibir kita untuk melafaskan dan menyebut nama Allah yang mulia, dikehendaki kehadiran kita di rumah-rumah dimana namaNya di muliakan. Diterima dalam majelis dimana nama Allah swt di agungkan. Diundang Allah swt untuk berkunjung ke Baitullah. Dan termasuk orang-orang terpilih sebagai orang yang matinya husnul khatimah kelak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s