TABULA RASA

tabula rasa

Jika ada hal yang paling membuat ngilu dan sedih perasaan orang tua adalah ketika mereka tahu dan lihat anak-anaknya tidak rukun, selalu bentrok dan berselisih paham. sebaliknya sangat membahagiakan jika kemudian kita melihat mereka akur, bersenda gurau dan saling sayang satu sama lain.

Kata Khalil Gibran “Anakmu bukan milikmu, mereka adalah putra-putri sang hidup yang rindu pada diri sendiri. Dari engkau mereka lahir tapi bukan untukmu”

Allah menitipkan Anak-anak sebagai amanah kepada kita orang tua, mereka terlahir dari kita dan kita akan mempertanggung jawabkan pengasuhan kita kepada Sang Pemilik hidup. Karena mereka adalah amanah maka menjadi kewajiban kita sebagai orang tua untuk merawat, mendidik dan menjadikan meraka manusia yang bermamfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan agamanya.

Bahwa anak dilahirkan seperti kertas putih, kitalah yang akan menulisi kertas itu. Kitalah yang akan membentuk mereka, membentuk kepribadian mereka, menjadikan mereka anak yang berwatak baik, penuh kasih sayang, penurut, pemberontak, emosional, temperamental bahkan psikopat dsb.

Pernah baca teori Tabula Rasa dari John Lock? Tabula rasa di maknai sebagai kertas kosong. Anak-anak dilahirkan sebagai anak-anak yang polos, belum tau apa-apa, tidak punya pengetahuan, jangankan mengenal kita sebagai orang tuanya bahkan dia belum mengenal siapa dirinya. Kitalah yang mengenalkan kepadanya siapa kita, siapa dia dan lingkungan disekitar kita, kita mengajarinya segala sesuatu, memberi contoh atau membuat perubahan apapun. Semakin bertambah usia si anak semakin banyak pula kita menulisi kehidupannya, makin lama informasi dan pengetahuan yang dia serap semakin bertambah, karenanya dia tidak lagi seperti kertas kosong, tapi mulai banyak coretan disana sini. Dia tidak hanya sekedar menyerap tapi juga meniru, melakukan, menganalisis dan membuat kesimpulan2. Dalam proses tumbuh kembang si anak, dia akan mulai menyambungkan apa-apa saja yang dia lihat, dia dengar, dan dia rasakan dari lingkungan dimana dia tumbuh. Artinya semua informasi yang dia terima dan pengetahuan yang dia miliki akan menjadi dasar baginya untuk berpikir, melakukan sesuatu serta mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Karenanya semakin dia dewasa, semakin berkembang pula cara dia berpikir dan bertindak. Tidak lagi seperti saat anak-anak yang begitu terbuka terhadap semua informasi. Mereka semakin berhati-hati terhadap informasi baru, sering berargumen, defend dsb. Pengetahuan mereka menjadi referensi sehingga seringkali keluar kata-kata ” Masak sih?”

open_source_tabula_rasa-1920x952

Satu hal yang harus di ingat adalah sebanyak apapun kita menulis, kita tidak akan bisa melampaui kapasitas masing-masing anak. Jika diibaratkan cetakan maka cetakan masing-masing anak akan berbeda. Bentuk cetakan akan mempengaruhi bentuk yang ada di dalamnya. Kaum idealis menyebut itu sebagai struktur ide, Carl Gustaf Young menyebutnya konsep ketidak sadaran kolektif, maknanya semua anak memiliki struktur ide, bukan benar-benar tanpa bekal. Sebagai contoh Anak-anak yang suka berkelahi, sesungguhnya mereka tahu bahwa berkelahi itu tidak baik. Inilah struktur ide.

Menjadi penting artinya sebagai orang tua kita membuat cetakan yang pas bagi masing anak-anak sesuai dengan Minat, bakat dan kemampuan dirinya yang nyata-nyata berbeda satu sama lain. Lalu mengisi masing-masing cetakan tersebut dengan sesuatu yang bernilai melalui transfer pengetahuan agama, berupa akhlak dan budi pekerti sehingga menjadi referensi bagi mereka dalam menghadapi masalah kehidupan seberapapun beratnya. Kesuksesan orang tua tidak terletak pada seberapa suksesnya anak-anak meraih jabatan atau gelar karena itu semua hanya sekedar tempelan-tempelan sementara. Tapi bisa dikatakan orang tua yang sukses jika anak-anaknya memiliki akhlak mulia, memelihara, menyayangi orang tuanya ketika masih hidup dan mendoakan orang tuanya tatkala keduanya telah meninggal dunia.

Harta dan kedudukan tinggi tak ada artinya bagi orang tua tatkala mereka sudah renta. Gelar dan status sosial tak lagi bermakna ketika orang tua sudah di dalam kubur. Mereka mungkin tidak berharap apapun ketika memelihara kita dengan penuh kasih sayang. Melihat kita rukun bersaudara, sayang menyayangi sudah membuat mereka amat sangat berbahagia, apalah lagi kalau kita juga menyayangi dan memperdulikan mereka, baik ketika sehat apalagi tatkala keduanya sakit-sakitan. Tentu saja semua kita akan memanen apa yang kita semai. Jika kita memelihara orang tua kita dengan baik, maka sama artinya kita sudah menuliskan perbuatan baik dalam kertas kosong anak kita, akan terekam dengan baik dalam benak mereka bagaimana kita memperlakukan orang tua kita dengan sepenuh sayang, sebaliknya jika kita memperlakukan orang tua atau siapapun dengan sikap buruk, maka secara tidak sadar kita telah menorehkan catatan buruk di kertas putih anak-anak kita. Jika dia masih kanak-kanak maka rekaman itu akan tersimpan baik dalam alam bawah sadarnya, hingga suatu saat akan kembali muncul jika dia dihadapkan dengan masalah atau kasus yang sama, kita menjadi tua dan dia akan memperlakukan kita seperti kita memperlakukan orang tua kita di hadapan anak kita dulu.

Bukanlah sebuah omong kosong kata-kata bijak yang sering kita baca seperti ini, “Jika kita menulis hal baik diatas batu maka pasti akan terbaca selamanya sebaliknya jika kita menulis diatas pasir semuanya akan terhapus di hantam ombak dalam sesaat”. Jadi tulisi anak-anakmu dengan hal baik… maka mereka Inshaa allah menjadi anak baik. (Ya Rabby… engkau Maha pembolak-balik hati, tetapkan anak keturunan kami dijalan kebenaran, jadikan mereka cahaya mata bagi kami dan jadikan mereka anak2 yang sholeh dan sholeha)

Waullahu alam.

Iklan

One Reply to “TABULA RASA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s