Let’s Make This Life Simple

Sahabat

Kemarin siang setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, salah satu sahabat saya menelpon. Entahlah feeling kami seringkali sama, karena saat dia menelpon sesungguhnya saya juga tergerak baru mau menelponnya untuk ngajak ketemuan. Karena memang tujuannya sama, pas waktunya makan siang kami bertigapun ketemu di resto hotel yang GM nya sahabat aku itu. Karena tujuan utamanya ngobrol, sharing kisah, ketawa ketiwi kami bertiga memesan 3 mangkok sop ubi dan jeruk panas. Entah karena lapar atau suasana pertemuan yang memang manis, Sop ubi Resto Palu Golden memang harus di acungi jempol nikmatnya dan saya berani merekom siapapun yang ingin mencicipi segera kesana dan pesan Sop Ubi yang sangat spesial itu๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰ bukan begitu Ibu GM Paula Pasila?
Dari sekedar obrolan ringan, kisahpun bergulir lancar dari A sampai Z, intinya kami bertiga ternyata memiliki pandangan yang tidak jauh berbeda, “let’s make this life simple”.

foto teman
Aku bilang, “Duluuu sekali aku tidak pernah bermimpi seusia sekarang, kalau aku mengunjungi makam dan mataku terpaut di batu nisan, menghitung usia jenazah yang ada dibawahnya aku membatin, 40 tahun…. ahhh layaklah, lumayan lama hidupnya, kalau aku baca dan menghitung usia jenazah tersebutย  20 tahun, aku juga membatin wihh.. betapa mudanya dia, dan kini aku berada di usia emas” ( Terlalu tua untuk orang yang justeru kuanggap tua dan sudah terlalu lama hidup). Tanpa pernyataan kami bertiga sepaham bahwa kita harus mensyukuri apa yang kita miliki saat ini, tidak membiarkan pikiran orang lain tentang kita mempengaruhi suasana hati kita dalam artian, kita mau bahagia atau tidak sepenuhnya tergantung kepada diri kita sendiri. Tidak seorangpun kecuali diri kita yang boleh mengizinkan hati kita sakit. So supaya tidak sakit mari kita pake kacamata yang tepat, bahwa apapun yang terjadi di sekitar kita tidak akan terlaksana selain atas izin Allah swt. Jadi sekiranya dalam proses hidup kita di pertemukan dengan orang yang bermulut tajam misalnya, ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ (pisau kaliiiii) latihlah hati untuk lapang, bahwa kesabaran kita tengah di uji. Tidak perlu membalas karena membalas kejahatan dengan kejahatan tidaklah menunjukkan perbedaan kelas kita dengan yang bersangkutan. Bukankah kematangan seseorang tidak di ukur dari banyaknya angka dibalik umurnya tapi dari kemampuan dia mengelola emosinya dan bertindak bijak menangani masalahnya. Katakan dalam hati bahwa orang tersebut tidak akan melakukan itu pada kita jika Allah tidak mengizinkan, jangankan bibir yg mengucap, bahkan daun kering tidak akan rontok dari dahannya jika tidak diizinkan. So nikmati semua kebahagiaan kecil yang bisa kita temukan dalam hidup, sekedar menyapa sahabat dengan kata2 baik, memberi senyuman kepada orang yang pertama kali kita temui saat keluar rumah, atau berbagi apa saja dengan tukang kebun, tukang sapu yang kita temui di perjalanan… maka kita akan membuat hari kita lebih bermakna.

Dari resto Palu Golden Hotel, obrolan pindah di warung durian tepi pantai. Pembicaraan makin menghangat, sehangat effek durian yang satu-satu pindah ke perut kami. Kami saling pandang karena tidak berani melanjutkan kegilaan menyantap durian terlalu banyak (sadar diri karena umur tak bisa bohong๐Ÿ˜Š) kamipun beranjak pulang. Dengan satu janji di dalam hati, sisa usia ini harus kami mamfaatkan sebaik-baiknya, jika Allah mempercayai dengan memberi ketambahan usia maka semoga keberadaan kami bermamfaat bagi banyak orang. Minimal tulisan buruk ini menginspirasi anda semua untuk melihat hidup ini dengan kaca mata positif. Biar usia lebih panjang dan berkah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s