Darimu aku belajar seperti apa aku semestinya

gadis

Duduk di pojok akhirnya menjadi kebiasaan bagiku, dimana mataku lepas memandang keseluruh arah dengan bebas, menikmati area yang lebih luas sejauh mata memandang, bahkan bisa dengan cermat mengamati sikap tiap orang dengan detil. Bagiku itu merupakan saat belajar terbaik, sama menyenangkannya dengan melahap sebuah novel menarik dengan tokoh aneka karakter. Jika membaca novel kita menghadirkan tokohnya didalam imaginasi melalui hal-hal yang disampaikan penulis dengan detil, maka mengamati sikap dan gaya manusia secara langsung membuat kita secara nyata melihat bahasa tubuh mereka, mendengar irama dan diksi setiap kalimat yang terucap, rona wajah dan ekspresi yang bersangkutan dengan gamblang.
Ternyata secara sadar ataupun tidak seringkali kita memang melakukan hal-hal bodoh, menyampaikan sesuatu yang memperlihatkan keringnya kepekaan kita, bahkan juga dangkalnya wawasan, sikap kekanak-kanakan bahkan sesekali kesombongan yang kita bungkus dengan senyuman, kepura-puraan yang nyata terlihat,  meski sudah kita tutup rapi, sikap licik yang dikemas dalam kata-kata halus dan kalimat sederhana yang bisa menohok jantung, senyum tulus yang menyejukkan, tawa riang spontan yang melegakkan bahkan sentuhan dan pelukan hangat tanda simpati.
Orang lain tidak akan pernah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran kita,  seperti juga kita tidak bisa membaca apa yang dipikirkan oleh orang lain, tapi ucapan, sikap dan gerak tubuh kita,  bisa membuat orang lain mengetahui banyak tentang segala sesuatu yang berlangsung dalam pikiran kita. Memang bukan hal mudah untuk menerjemahkan sikap orang lain, butuh ilmu dan jam terbang yang tinggi, dibarengi dengan kepekaan dan ketajaman mata hati untuk menangkap apa dan bagaimana kondisi hati kita dibalik sikap yang tertangkap mata.
Penilaian yang dilakukanpun akan menjadi subjektif jika kemudian kita sendiri tidak memiliki kejernihan hati, kita sendiri dipenuhi syak wasangka, rasa iri, marah , demdam dan dengki. Semua perasaan buruk itu akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis apa yang ditunjukkan oleh orang lain melalui sikapnya. Sehingga menjadi penting bagi kita untuk sering-sering juga menelisik hati sendiri dalam upaya introspeksi dan bersih- bersih hati.
Adalah benar bahwa hati hanya seonggok daging tak berarti, tapi jangan lupa hati adalah penentu baiknya seluruh tubuh, jernihnya pikiran dan berimplikasi terhadap indahnya lisan dan prilaku seseorang. Hanya hati yang bersih yang bisa kita mintai fatwa saat kita berada dipersimpangan. Hanya hati yang bening yang mampu memberikan pendapat dan suluh agar kita selalu berjalan di dalam kebenaran. Jangan berharap kita akan menjadi baik jika membiarkan hati kita berjelaga dan kumuh oleh kotoran penyakit hati, jangan pula berharap kita akan lapang menerima kebenaran,  jika hati kita jejali dengan sampah syahwat dunia. Dan hampir pasti kita juga tidak akan bisa melihat kebenaran dengan jernih karena mata tidak akan mampu memantulkannya pada hati yang penuh bercak noda.
Jika kita tidak bisa menangkap apa yg kita liat dengan benar, maka hampir pasti kita juga tidak akan mampu mengambil pelajaran dari peristiwa demi peristiwa yang kita lalui. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon, stimulus yang kita dapatkan dari lingkungan kita yang kemudian kita respon berdasarkan nilai -nilai yang kita miliki dan akibatnya akan menumbuhkan pemahaman baru, yang nantinya menjadi nilai-nilai yang akan berpengaruh pada pola pikir dan pola sikap kita.
Apapun itu kemudian akan memperkaya jiwa.  Memperkaya hasanah berpikir kita dan akan teraktualisasi dalam lisan dan sikap kita. Akan nampak perbedaan yang signifikan antara seseorang yang sering melakukan dialog dengan hatinya dengan mereka yang tidak perduli dengan kondisi hatinya. Mereka yang sering muhasabah dengan orang yang tidak mau tau siapa dan bagaimana dirinya. Mereka yang peduli akan mengerti4 apa kekurangan dirinya, belajar memperbaiki diri dengan mengambil pelajaran dari apa yang mereka lihat dengan hal baik yang terjadi dilingkungannya, mereka tidak mudah memberi penilaian negatif kepada orang lain, karena mereka sadar nobody perfect. Kesempurnaan itu hanya milik Allah. Mencari solusi dengan arif dan bijak tentang segala masalah yang menimpa dirinya maupun orang lain karena baginya kebahagiaan orang lain pasti akan berdampak pada kebahagiaan dirinya juga.

Bahwa dalam hidup jangan sekali-kali memiliki pretensi apapun terhadap setiap orang. Kita boleh belajar dari semua sikap orang yang dibukakan hijabnya oleh Allah di depan kita, sebagai cermin perilaku dan bahan belajar yang tak pernah habis. Belajar mengoreksi diri untuk hanya meniru hal baik dari apa yang kita lihat dan menghindari prilaku buruk yang kita lihat dari orang lain, yang nyata-nyata akan merusak kepribadian kita.
Terima kasih Tuhan karena Engkau telah membelajarkan aku dari lingkunganku, meletakkan aku diantara orang-orang yang atas izinMu mampu membelajarkan aku lewat keberagaman sikap dan prilaku mereka. Bimbinglah aku, agar aku dapat memetik hikma dari setiap kejadian dan peristiwa yang aku alami, perbaiki dan indahkan sikap dan kepribadianku, indahkan akhlakku agar kelak aku sungguh-sungguh menjadi pengikut Rasulmu yang hadir untuk memperbaiki Akhlak umatnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s