Secangkir kopi di pagi hari

kopi

Pagi diakhir pekan memang bukan hari libur buat saya, karena hari ini ada beberapa agenda yang harus di selesaikan dan tak bisa menunggu lagi. Tapi ritual pagi menikmati secangkir kopi tak bisa dihapus dari agenda pagiku, jadilah pagi ini saya duduk dimeja makan, menyeruput kopi dan membaca beberapa berita dari portal yg kebetulan tertangkap mata saat mengusap screen laptop. Mata saya tertumbuk pada berita seorang mantan artis, yang juga mantan anggota Dewan, aktifis salah satu partai yang kemudian mendekam dalam tahanan karena sebuah kasus. Yang menarik adalah yang bersangkutan ternyata menjadikan ujian dicabutnya semua nikmat kebebasannya dengan kompensasi luar biasa yakni menghapal sekian juz AlQu’ran. Subhanallah… Jika Allah menginginkan kebaikan kepada seseorang niscaya diberikannya ujian bertubi-tubi. Diambilnya orang yang paling dia cintai, dijadikan bahan gunjingan, dijebloskan dalam penjara, dan masih saja menjadi berita negatif yang membuat dunia berpaling darinya padahal sebelumnya dia adalah tokoh yang kecantikkannya bahkan nyaris membuatnya setiap hari ada di media cetak maupun media elektronik. Seperti itulah Allah mengguncang kehidupannya. Jadi ingat ucapan seorang sahabat, kalau kita sayang kepada anak kita seringkali kita menggendong, melemparkanya  keatas, mengguling bahkan melontarkannya kebawah, sehingga seringkali anak kita tertawa terkekeh bahkan tidak jarang juga menangis kesakitan. Begitupun Allah swt memperlakukan hambanya, ada saatnya kita dilontarkan setingi-tingginya, dibanting dengan keras, di ayun kekiri kekanan hingga mabuk dan oleng, semuanya tidak lain karena DIA menyayangi dan menginginkan kebaikan hambanya. Jika batu mulia saja butuh di tempa dan di gosok akan berkilap tentu demikian juga halnya kita manusia, perlu latihan berat agar menjadi manusia yang tangguh dan kuat. Mungkin  jika kita melihat persoalan ini dengan kasat mata maka mungkin juga kita seperti orang lain akan menyalahkan, mencibir, dan mungkin juga ikut menghujat… tapi jika kita melihat bahwa segala sesuatu sudah ada dalam skenario dan perencanaan Allah maka kita tidak akan terpengaruh dengan semua berita yang kita baca seberapapun buruknya. Kita tidak akan menyalahkan, tidak akan menghujat apalagi memprotes, siapa yang akan kita protes? yang bersangkutankah?Atau menghujat sang pemilik hidup yang meletakkan dia dalam seburuk-buruknya nasib seperti itu? Sungguh tidak ada yang salah dan keliru, dia hanya menjalani takdirnya, dia tengah dipilih dari ribuan orang untuk sesuatu yang lebih baik kemudian, Allah tengah melatih dia dalam kawah candradimuka kehidupan dengan menempatkan dia setinggi-tingginya dan melontarkannya serendah mungkin hingga dunia berpaling sejenak darinya? Bisa jadi di awal-awal yang bersangkutan juga terpuruk dan sedih, bukankah semua kita seperti itu jika di kenai musibah? Kita sedih, merasa paling malang, bahkan mungkin sebagian memprotes dan menghujat kenapa harus saya? tapi proses itu menjadi penting karena setelah semua protes yang kita ajukan Allah akan membukakan pintu kesadaran kepada kita bahwa pada akhirnya hanya kepadaNya semua hal kita kembalikan, hanya kepada Allah saja kita bergantung dan bahwa tidak seorang manusiapun sekuat apapun dia, sekuasa apapun dia,  bisa kita tempati untuk bergantung. Dan sungguh merugi orang -orang yang di uji tapi tidak bisa mengambil ibrah dari apa yang dia alami. Meskipun tidak sedikit juga yang justeru menjadi semakin ingkar dan malah semakin jauh dari Allah karena ujian tersebut.  Akan halnya Angel,  ketika dia menjalani semua ujiannya  dengan kesabaran, menyadari bahwa dia tidak punya pilihan lain selain kembali kepada Allah, maka allah memilihnya sebagai PEMELIHARA ALQURAN, diberi kemampuan untuk menghafal sekian juz dari firmannya yang mulia. Subhanallah.

Seringkali kita memang mudah menjudge seseorang begini dan begitu, bahkan teramat sering kita memgambil alih kewenangan Tuhan untuk menilai yang salah dan benar. Padahal apa sih salah dan benar di mata manusia kalau pada akhirnya Allah berkenan memberi pelajaran dan justeru mengangkat derajatnya menjadi lebih mulia disisiNya? Aih…… pertanyaan yang tidak sempat kudapatkan jawabannya saat ini. Karena cangkir kopiku hampir kering, Kuseruput tegukan terakhir dari cangkir kopi, menutup Laptop dan meninggalkan kisah Angelina Sondak sebagai pelajaran bahwa kita tidak mesti meletakkan diri kita diketinggian karena sang pemilik hidup akan selalu tau kapan saat terbaik dan tempat yang pas buat kita. Tugas kita adalah melakukan semuanya dengan riang gembira tanpa protes apalagi menghujat. ( Hasbunallahu wa nikmal wakil, nikmal maula wa nikmannatsir)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s