KEBISAAN KITA HANYA KARENA IZIN-NYA

silhuet

Pagi-pagi ada yang inboks, ” Apakah itu maksudnya MENTIRAKATI DIRI bu? ” pertanyaan yang menumbuhkan dua hal dalam hati saya, pertama rasa bersalah karena tidak semestinya saya menuliskan dan membagi sesuatu yang tidak clear sehingga yang membaca bukan tambah ilmu tapi malah jadi pusing, yang kedua merasa senang karena itu indikator bahwa pembaca merespon apa yang saya bagi, meskipun sesungguhnya niat saya menulis sekedar untuk membebaskan pikiran dari tekanan-tekanan perasaan yang diakibatkan banyaknya hal yang berlompatan dan menggeliat liar dalam pikiran. Jika kemudian saya memposting di medsos, fb maupun twitter sebenarnya untuk lebih memudahkan saya dalam pengarsipan, karena jika saya punya waktu lebih, sangat mudah bagi saya untuk mengambil dan memidahkannya ke dalam blog, tentu saja setelah saya edit dan menjadi lebih enak dibaca. Pikiran-pikiran yang berlompatan di dalam benak saya seringkali butuh cepat untuk di kanalisasi­čśä­čśä, hingga tidak hilang atau bahkan mubazir, karena jika saya pindahkan di laptop, maka hampir pasti saya tidak akan punya kesempatan lagi untuk menengok, karena butuh waktu khusus untuk membaca dari lap top. Dengan menyimpannya di medsos saya bukan hanya bisa membuka kapan saja saya ingin, tapi juga bisa langsung saya share sehingga respon teman2 menjadi bahan saya lagi untuk menyempurnakannya.
MENTIRAKATI dari kata TIRAKAT, sebenarnya dalam kamus bahasa Indonesia artinya menahan hawa nafsu (seperti berpuasa, berpantang)┬ákosa kata ini sebenarnya tidak begitu familiar bagi suku saya (Kaili) tapi sekali lagi saya terinspirasi ketika membaca tulisan seseorang. Dan saya memutuskan menggunakan kosa kata itu untuk menyatakan bahwa saya ingin belajar dan tengah berupaya untuk TIRAKAT atau berpantang, berpuasa atau menahan diri. Untuk dua hal, pertama TIRAKAT untuk marah, dan TIRAKAT untuk memberikan penilaian-penilaian atas sikap orang lain yang saya lihat langsung, apalagi ┬áhanya mendengar dari cerita orang. Jika kita ingin berbuat adil, maka semestinya kita sudah berlaku adil sejak dalam pikiran. Kejernihan kita berpikir dipengaruhi oleh bersihnya hati kita dan itu terjadi jika hati kita bebas dari berbagai macam penyakit hati yang mengotori, kemarahan, kebencian, sakit hati, dendam yang kesemuanya akan menjadikan kita tidak objectif, kita juga harus membebaskan hati kita untuk melihat bahwa apapun yang terjadi disekitar kita adalah wujud perbuatan Allah yang tidak akan terjadi tanpa seizinnya. Sehingga pemikiran tersebut akan menghindarkan kita dari penilaian -penilaian subjectif dan usaha untuk menganalisa sikap orang lain, sederhananya seperti ini, apa hak kita untuk memberi penilaian kepada seseorang kalau saat kita menilai dan menganalisa kita hanya melihat dari apa yang tertangkap oleh mata ? Apa kita juga bisa memastikan bahwa apa yang kita lihat seperti itu juga niat dalam hatinya? Jika Allah saja menilai seseorang dari niatnya, mengapa kita lancang menilai orang dari sikap yang dia tunjukkan? bukankah itu artinya kita sudah tidak berlaku adil? Tentu saja setiap orang melakukan sesuatu karena memiliki alasan kuat menurut yang bersangkutan, tapi dengan kaca mata bening, kita memastikan bahwa apa yang dia kerjakan tidak akan terlaksana tanpa izin dan kehendak dari sang pemilik hidup. Bukankah tidak terlepas satu daunpun dari cabangnya tanpa izin Allah? Lalu akan hadir pertanyaan dihati kita, kenapa dia lakukan itu kepada kita? Atau mengapa Allah menunjukkan hal itu pada kita? Jawabnyapun sederhana sesederhana pikiran awal yang kita bentuk dalam pikiran kita tadi, KARENA ALLAH INGIN MEMBELAJARKAN KITA BAHWA SESUNGGUHNYA YANG TERJADI ADALAH IRADAHNYA, KEHENDAKNYA bukan kehendak dan kemauan kita. Karenanya di perintahkan kita untuk mengucapkan kalimat LA HAULAWALA QUATA ILLAH BILLAH… TIDAK ADA DAYA UPAYA SELAIN ATAS IZIN DAN PERKENAN ALLAH SWT.
Kemampuan untuk melihat segala sesuatu sebagai sebuah kewajaran, sesuatu yang memang sudah semestinya terjadi, tanpa penilaian akan menyampaikan kita pada kesimpulan bahwa hanya dengan PENGASIHAN dan CINTA KASIH ILLAHI lah seorang manusia bisa terbebas dari perbuatan buruk, bisa terhindar dari mala petaka, sanggup meraih kebahagiaan, dan menemukan ketenangan dalam hidupnya dsb.
Pada titik pemahaman ini maka tidak ada cara lain bagi kita manusia yang lemah dan bodoh ini selain mendekatkan diri kepada Rabb sang pemilik segala sesuatu, tidak ada hal lain yang lebih penting selain menghiba, memohon dan memelas untuk meminta kasih sayang Illahi dalam setiap tarikan nafas, jangan sampai lalai, karena setiap detik begitu berarti bagi hidup kita. Toh hitungan detik kedepan kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi dengan hidup kita.
Jika waktu kita habiskan untuk mengemis keridhoan Illahi, lalu kapan waktunya kita mengalihkan pandang kita untuk menilai apa yang dilakukan orang lain? TIDAK AKAN PERNAH , karena Allah tidak pernah menciptakan dua hati dalam satu jiwa, jika hati kita sibuk tafakur dan berasyik masyuk dengan Tuhan kita, maka selain dari itu akan tersingkir dari sana begitu sebaliknya, saat kita sibuk memberikan penilaian-penilaian, mencari-cari kekurangan orang lain, menganalisa sikap dan perbuatan orang lain maka hati kita jauh dari Allah, kita akan terus digiring oleh iblis untuk sibuk dengan perbuatan sia-sia tersebut, karena apa yang kita dapatkan saat sibuk dengan penilaian-penilaian terhadap orang lain? Tidak ada kecuali suburnya kesombongan karena kita merasa lebih baik, suburnya rasa dengki dan iri hati saat kita sadari bahwa ternyata orang lain lebih baik dari kita, besarnya rasa marah ketika kita sadari bahwa sikapnya melukai kita, tidak cukup sampai disana kitapun mulai berencana melakukan pembalasan, melakukan tindakan. Tanpa sadar saat ┬ákita merencanakan pembalasan tersebut, kita sudah ┬átidak berbuat adil sejak dalam pikiran, kita sudah menjadi Fir’aun, berlaku sewenang-wenang kepada diri kita, mengklaim diri kita sebagai yang paling baik dan sempurna, ┬ákarena kita memelihara Iblis sebagai kawan berpikir kita, sebagai penasehat kita dan menggusur singgasana Allah dalam hati kita. Nauzubillahi min zalik

Yah Tuhanku….. beri petunjuk yang benar itu benar, dan beri aku kekuatan untuk mengikuti dan melaksanakannya, sebaliknya tunjukkan yang zalim itu zalim dan berikan pula aku kekuatan untuk menghindari dan berlepas diri darinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s