Anak-Anak belajar dari bagaimana mereka diasuh

gambar-bayi-lucu-berjilbab4

Mendung bergelayut di langit sore ini, suara bising staf yang mempersiapkan diri untuk apel pulang, meruyak sepi kantor saat jam kerja berlangsung. Celotehan  dan teriakan mereka menyadarkanku bahwa hari ini begitu cepat berlalu. Aku menyelesaikan kalimat terakhir dari note yang aku ketik sejam terakhir dan menekan tombol save di laptop.

Udara dingin memaksaku mematikan pendingin ruangan, merapikan jilbab dan mengamati sejenak wajahku di cermin, menambahkan sedikit lipstik dan bedak padat ke pipiku baru beranjak keluar ruangan untuk menerima apel sore. Aku selalu menekankan kerapian, keserasian dan keramahan kepada semua staf dan itu tidak cukup jika hanya aku sampaikan secara verbal di setiap apel, tapi menjadi penting untuk mencontohkan kepada mereka bahwa apa yang aku katakan juga aku langsung lakukan. Bukankah satu contoh kongrit lebih efektif dibanding 1000 ucapan? Aku sadar mungkin aku bukan seorang pimpinan yang ideal, tapi aku berusaha untuk melakukan tugas dan tanggung jawab yang diberikan padaku dengan sebaik-baiknya, karena jabatan adalah amanah yang pasti akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah kelak. Aku juga sadar bahwa tugas apapun pasti mempunyai beban dan tanggung jawab yang tidak ringan, karenanya aku juga selalu meminta kepada Allah kiranya di anugerahi pemikiran dan kemudahan untuk melaksanakan apa yang telah menjadi bagian dari sejarah hidupku yang pasti juga telah tertulis rapi dalam kitab taqdirku.

Setelah menerima apel sore aku kembali membuka laptop dan melanjutkan tulisanku yang terhenti tadi….

baby-3

Sering sekali aku melihat dan mendengar betapa banyak orang yang sanggup memaki dengan kata-kata kotor, sanggup ribut sampai beradu mulut, tidak perduli tempat, bahkan tidak juga peduli bahwa mereka menjadi tontonan gratis orang lain. Sumpah serapah dilontarkan seolah-olah tidak ada lagi kosa kata yang halus yang bisa di lontarkan. kejadian ini membuatku teringat akan kalimat yang pernah aku baca :

” Bila Kamu melihat ada suatu bangsa dan negeri yang damai, sejahtera dan hebat atau sebaliknya porak poranda, tanyakan kepada ibu-ibu mereka bagaimana dulu mereka mendidik dan membesarkan anak-anak mereka”

Kalimat itu kembali utuh dalam ingatanku, relevan untuk di pertanyakan dalam kasus yang aku tulis ini, bagaimana ada  orang yang sanggup bertengkar sedemikian hebat sehingga lupa kalau orang yang mereka maki-maki dan mereka lontarkan sumpah serapah itu juga manusia yang punya hati dan perasaan? Yang lebih tidak aku percaya bahwa dari mulut yang begitu indahnya sanggup keluar kata-kata yang begitu tak pantas?Seperti apa ibunya mendidik dan membesarkan mereka dulu? aku merasa demikian gamang, bagaimana anak-anakku? aku  pasti tidak sanggup jika mengetahui bahwa dari mulut mereka juga akan terlontar kata-kata kasar yang akan menyakiti sesama melebihi torehan belati.  Meskipun aku percaya selama ini aku sudah berusaha mengajarkan mereka bagaimana bersikap santun dan memilih kalimat-kalimat yang baik untuk dilontarkan baik kepada teman-temannya apalagi kepada yang lebih tua.Sebagai Madrasah pertama ibu bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya, ibulah yang meletakkan tonggak pendidikan pertama bagi putra-putrinya, ibarat sebuah karya seni, ibulah yang meletakkan dasar pada bahan baku yang belum berbentuk apa-apa  hingga kelak menjadi karya seni yang bernilai tinggi. Ibulah yang memahami benar seperti apa putra-putrinya karena mereka pernah bersama, menghirup udara yang sama, mengalirkan darah yang sama dan ikatan itu tidak akan pernah putus meskipun tali pusar si anak yang menghubungkan mereka akhirnya harus di putuskan. Sangatlah wajar kalau kemudian sikap dan watak anak akan menunjukkan seperti apa pendidikan yang di berikan oleh ibunya.  Teringat tulisan Dorothy Law Nolte, Ph.D yang berjudul “Children Learn What They Live” dimana beliau menulis sebagai berikut :

a. Jika anak di besarkan dengan celaan, maka dia belajar untuk memaki

b. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan/kekerasan maka dia akan belajar membenci

c. Jika anak di besarkan dengan cemohan maka dia akan belajar rendah diri

d. Jika anak di besarkan dengan hinaan, maka dia akan belajar menyesali diri

e. Jika anak di besarkan dengan toleransi maka dia akan belajar menahan diri

f. Jika anak di besarkan dengan pujian, maka dia akan belajar menghargai

g. Jika anak dibesarkan dengan dorongan maka dia akan belajar percaya diri

h. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, maka dia akan belajar tentang                keadilan

i. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka dia belajar menaruh kepercayaan

j. Jika anak dibesarkan dengan dukungan dia akan belajar menyenangi dirinya

k. Jika anak di besarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, diapun akan belajar                 menemukan dalam kehidupannya.

baby-2

Anak-anak adalah amanah yang dititipkan Allah kepada kita, yang harus kita pandang sebagai anugerah dan pastinya amanah untuk menjaga dan merawat mereka serta menjadikan mereka manusia yang berakhlak baik. Sebagai generus penerus masa depan yang akan bertangguing jawab terhadap keberlangsungan kehidupan baik secara pribadi maupun keberlangsungan hidup bernegara dan berbangsa. Terbayang apa jadinya kalau kita salah mendidik, maka bukan saja sendi keluarga yang rusak tapi juga akan menghancurkan negeri dan bangsa ini.

Karenanya islam mengajarkan bagaimana mendidik anak dengan baik, mengenalkan mereka akan esensi untuk apa mereka hadir di dunia ini, Al Quran sudah mencontohkan bagaimana Luqman mendidik putranya, mengenalkan mereka kepada Tuhannya, bagaimana mereka harus berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bagaimana mereka harus menebar kebaikan di muka bumi, karena kebaikan walaupun sebesar zarrah akan mendapat balasan yang setimpal dari Allah swt.(Surat Luqman:13-18)

baby-1

Bahwa Islam adalah ajaran akhlak, ajaran budi pekerti, ajaran tentang kasih sayang maka inilah yang menjadi dasar pokok kita untuk diajarkan dan di contohkan kepada putra putri kita. Disamping kemudianberbagai teori pendidikan, teori psikologi dan berbagai macam ilmu lainnya yang harus di pahami oleh seorang ibu. Yang paling penting dari itu semua adalah bagaimana ibu juga harus dekat dengan Sang Pencipta, yang menciptkan dirinya dan menciptakan putra-putrinya, yang menggenggam hati- semua manusia dan menundukkan serta melembutkan hati.

Tanpa bimbingan dan petunjukNya seberapapun ilmu yang kita jejalkan  tidak akan membawa banyak mamfaat kalau putra-putri kita tidak diajarkan ilmu bagaimana dekat dengan Sang Pencipta.Sepanjang hidup mereka juga harus selalu memamfaatkan kedekatan tersebut agar kiranya mereka menyadari bahwa tujuan hidup mereka adalah beribadah dan tunduk kepada Allah.

Ingatan itulah yang akan menundukkan dan melembutkan hati mereka, dan memungkinkan mereka untuk tidak melontarkan kata-kata kasar kepada siapapun karena mereka tahu jika itu mereka lakukan sama halnya mereka menghianati hati mereka karena sesungguhnya Allah maha lembut, penuh dengan kebijaksaaan dan kasih sayang.

Senja datang memayungi langit, warna merah saga di ufuk seolah naga yang bertahta di kaki langit…. betapa indahnya jika kita sama menyadari bahwa pada dasarnya kita menginginkan ketenangan dan kedamaian. karenanya tidak perlu kata-kata kasar apalagi umpatan jika kita ingin sesuatu, semuanya bisa di bicarakan dengan baik-baik… sambil menyeruput kopi atau teh diselingi tawa dan canda.

Hidup ini indah, dan akan selalu indah jika kita menginginkan keindahan itu berlaku selamanya. Jangan meruyak keindahan tersebut dengan sikap buruk, sedih rasanya jika sikap buruk kita pada akhirnya dikaitkan dengan ibu kita yang sudah demikian susah memelihara dan membesarkan kita. Pastinya beliau menginginkan hal terbaik bagi anaknya bukan kesan buruk dan pertanyaan menghujat seperti apa beliau mendidik putra- putrinya sehingga nampak liar dan tak berakhlak. Jika keberadaan kita adalah gambaran ibu kita maka marilah kita bersikap baik, bertutur kata baik sehingga ibu kita bangga bahwa kita adalah putra putri terbaiknya yang tumbuh besar dalam segenap kasih sayang beliau yang tak pernah habis, bukankah ibu adalah telaga kasih sayang yang tak pernah kering? Lalu mengapa kita memburukkan kesan itu dengan sikap kita?

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s