Ternyata Diam Itu Bijaksana

4

Duduk menunggu baru kusadari kalau aku meninggalkan HP dan bacaanku di mobil, sementara anakku masih harus berangkat ke kampus dan baru akan datang menjemputku sejam lagi. Dalam hati aku menyesali kenapa terlalu terburu-buru turun dari mobil padahal orang yang akan kutemui juga masih rapat dengan orang nomor satu di wilayah ini. tapi penyesalan selalu di akhir bukan? dan penyesalan memberi pelajaran besar bagi kita bahwa dalam hidup ada yang sama sekali tidak bisa kita ulang. Aku tersenyum menyadari hal itu dan membuang jauh rasa menyesal dari hati karena akhirnya sama sekali tidak bisa mengubah apapun. Aku meraih koran satu-satunya yang aku anggap bisa membantuku untuk melewatkan waktu, mataku menangkap 4 baris kalimat dalam artikel dalam kolom kecil di pojok halaman terakhir koran

“Jika engkau duduk bersama orang Bodoh maka Diamlah, Diammu didepan orang bodoh akan menambah Kebijaksanaanmu” dan Jika engkau duduk bersama Ulama maka Diamlah, Diammu didepan Ulama akan menambah Ilmumu”

Aku tersedak… dan nyaris sulit bernafas, kalimat itu begitu dalam dan menohok jantung. Betapa seringnya kita lupa untuk diam tatkala berada di tengah orang banyak, kita gemar menghambur-hamburkan kata-kata seolah kitalah yang paling mengerti dan paling paham tentang segala sesuatu. kita tidak pernah memikirkan bahwa diantara orang yang ada di sekeliling kita mungkin ada ulama, ada cendekiawan yang notabene jauh lebih tinggi ilmunya, lebih paham tentang apa yang kita bahas, jauh lebih mengerti detail apa yang kita komentari ketimbang kita. bahkan kita sama sekali tidak memberi kesempatan untuk mereka memberikan pendapat atau fatwa yang dengan itu akan lebih memberikan mamfaat bagi orang yang memerlukan dan membutuhkan ilmu dan informasi yang jelas-jelas bisa di pertanggung jawabkan karena lebih bernas dan jelas dalilnya karena dilontarkan oleh orang yang ahli ilmu. Bahkan kita juga yang mengobral komen sama sekali tidak mendapat nilai tambah dari sisi keilmuwan karena yang kita sampaikan hanya sampah yang tak berguna, lebih-lebih di bumbui dengan kesombongan dan Riya karena merasa lebih tahu dari siapapun.

Diam kita seringkali adalah diam yang bising, bising dengan suara pikiran, bising dengan suara hati yang saling berlomba mengeluarkan pendapat. Pikiran dengan segenap kepongahan dan hati yang tertatih karena berusaha bangkit dari timbunan kotoran dan penyakit hati yang sudah terlampau akut hingga lebih sering suara hati kita dikalahkan dengan telak oleh suara pikiran kita yang begitu cerdas dan angkuh. Diam kita seringkali bukanlah diam yang hening, diam dalam keheningan adalah diam yang memaknai segala sesuatu dalam keheningan.. yang berujung pada pemahaman dan pengertian bahwa benar segala sesuatu ada dalam kendali Sang Pencipta. Bahwa jangankan jagad dengan segenap isinya, bahkan suara hati..ataupun percik pikiran yang kemudian menjadi api semangat untuk bergerak melakukan sesuatu tak akan berlangsung tanpa izinNya. jangankah langkah bahkan kedip matapun tak akan kuasa tanpa karuniaNya, lalu apa yang mendasari kesombongan dan keangkuhan kita untuk merasa bahwa kita tahu lebih banyak dari orang lain, kita jauh lebih paham dari sebagian besar orang tidak ada… sama sekali tidak ada kecuali fakta bahwa kita sudah merenggut Jubah Allah dan memakai jubah kesombongan itu pada diri kita.

Aku masih memegang koran dengan seribu satu rasa malu yang menyerbu di dalam hati ketika pintu di depanku terbuka dan ibu cantik yang akan kutemui berdiri menyambut ramah. Aku tersenyum dan menjabat tangannya erat, seerat janji dalam hati yang kuukir untuk berusaha diam dan lebih banyak mendengar… karena diam ternyata menambah kebijakan dan juga menambah ilmu.

Subhanallah….. aku tau akhirnya kenapa Allah membuatku lupa membawa turun buku bacaan dan hp karena Allah ingin mengajariku melalui media yang berbeda, sepotong kalimat dari koran yang akhirnya merontokkan kesombongan yang selama ini bertahta dalam hati sedemikian halus hingga tidak bisa aku deteksi, begitu lembut padahal nyaris saja membuatku hina dan malu di hadapan Allah karena telah menggunakan jubah kesombongan yang sebenarnya tidak layak digunakan olehku sebagai makhluk ciptaanNya.

Iklan

2 Replies to “Ternyata Diam Itu Bijaksana”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s