Mereka bukan milikku

Seringkali dalam hati aku bertanya, sampai kapan aku akan bisa memeluk hangat mereka kedadaku dan menatap mata mereka tanpa membuat mereka risih? Sampai kapan aku bisa menggandeng tangannya, mengusap pipinya  selama yang aku mau tanpa di inteprusi oleh kesibukan mereka? Masih bisakah aku meminta mereka mencium pipiku dan memelukku lama tanpa harus disela oleh kesibukan pekerjaan, urusan dengan kawan-kawannya? Pasti ada waktunya dimana semua kesibukan mereka akan meretas semua keinginan dan harapku. Mereka bukan bayi kecilku lagi, bukan pula anak-anak yang sekian tahun lalu sedemikian bergantung padaku, tidak mandi jika tidak kumandikan, tidak makan jika bukan aku yang menyuapi, tidak kesekolah jika bukan aku yang mengantar hingga ke gerbang, tidak berangkat mengaji jika bukan aku yang menunggui di teras masjid. 

Anak-anakku yang sekarang adalah pemilik masa depan mereka sendiri, yang sama sekali tidak akan sanggup aku sentuh meskipun amat ingin. Anak-anakku adalah milik kawan-kawannya, yang bersama mereka dia telah memadukan sifat dasar yang aku toreh dalam kepribadiannya. Kelak mereka juga akan memiliki keluarga yang akan menggeser kedudukanku dalam skala prioritas mereka. Ada saatnya wall paper Hp nya tidak lagi menggunakan aku sebagai profil picturenya, karena akan datang kesenangan dan minat baru yang akan mengubah kerinduan mereka padaku menjadi rindu hanya pada saat dia sedih dan terpuruk, karena padaku tempat mereka pulang, aku adalah orang yang mencintai mereka tanpa syarat, menyayangi mereka seperti apa adanya mereka, menyediakan waktu kapanpun mereka ingin pulang dan menemuiku, menyediakan bahuku untuk menjadi sandarannya, dan dekapan hangat untuk menenangkannya.

Apakah mereka akan mengingat apa yang aku ajarkan tentang bagaimana menghadapi hidup? Bisa jadi juga tidak lagi, karena mereka akan belajar hidup dari pengalaman mereka sendiri, mereka akan belajar menangani masalah dari peristiwa-demi peristiwa yang akan mengunjungi mereka dan itu akan mendewasakan pikiran mereka.

Bagianku telah selesai saat mereka telah kuantarkan kegerbang dimana mereka sudah memahami beda warna hitam dan putih, kewajibanku telah tuntas saat mereka telah sanggup mengimami diri sendiri dan tau beda mana yang benar dan mana yang salah. Saat mereka baligh dan semua tindakan mereka sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Waktu jualah yang akan memisahkan kami secara fisik, tapi aku percaya ikatan yang  aku turunkan lewat mitokondriaku sebagai ibu akan terus mendekatkan perasaan dan hati kami meskipun kedudukanku akan di geser oleh seseorang yang mereka temui di ambang usia dewasa mereka, dan karena itu aku harus menyiapkan hati dan jiwaku menerima siapapun yang akan mereka bawa untuk berdiri diatara kami. Aku tidak boleh egois, karena kehidupan memang bergulir seperti itu, mereka yang begitu kita harapkan datangnya, pada akhirnya akan meninggalkan kita. Mereka yang akan kita dekap sepenuh cinta satu saat akan pergi dari kehidupan kita atau bahkan kita yang akan meninggalkan mereka. Kehidupan telah memberi kepastian bahwa kefanaan adalah sebuah keniscayaan, dan mustahil bagi siapapun menentangnya. Jika kita tidak mengikuti alirnya, maka kita sendiri yang akan terhempas keras, terlempar dari orbit atau bahkan diasingkan oleh kehidupan itu sendiri. Jadi teruslah bergerak dalam irama hidup, ada saatnya menghentak keras, dan ada pula saatnya gemulai lembut. Dan siapapun yang sanggup mengikuti dengan baik akan menjadi pemenang dalam kehidupannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s