Bayang rindu yang sirna

Prolog: “Didalam hasrat manusia ada kekuatan Rindu yang mengubah kabut dalam diri menjadi matahari”
image

Malam bergulir pelan, aku duduk resah menunggu di kursi sambil menonton film Turki yang ceritanya nyaris tidak ada yang nyantol di kepalaku, mataku kembali melihat jam di dinding hampir pukul satu dini hari, mestinya kalau acaranya di mulai pukul 8 malam seharusnya dia sudah lama tiba di rumah, aku ingin menelpon lagi tapi aku tahu bahwa jika itu aku lakukan maka dia pasti akan merasa sangat terganggu, aku tak ingin dia merasa tidak nyaman karna kekhawatiran-kekhawatiran yang tidak beralasan.

Aku tahu dia bekerja ekstra keras untuk mencapai semua harapan dan obsesinya, sebagai orang dekatnya aku harus menopang semua usahanya agar apa yang menjadi harapannya bisa terwujud, ponselku berdering karena pesan WA masuk,”say.. aku mampir dulu melihat persiapan acara besok, gak enak aja panitia masih pada ngumpul disini” cepat aku membalas ” iya, tetap aku tunggu yah say” kataku lega, kadang-kadang kekhawatiranku menciptakan hal-hal buruk terjadi seperti yang sering aku baca di koran dan dengarkan di siaran tv, tindak kriminal terjadi seolah-olah nyawa manusia sudah sangat tidak berarti lagi, sementara pekerjaan mas Kukuh mengharuskan dia selalu harus pulang malam, jika kekhawatiran itu aku biarkan maka pasti aku juga akan sakit karena cemas yang berlebihan, padahal mustahil juga aku berpura-pura untuk tidak cemas, hingga setiap kali ada kendaraan yang berhenti, aku segera menyibak gordin berharap itu mobil mas Kukuh yang datang. karena resah yang tak terhankan akhirnya aku segera mengambil wudhu, mengenakan mukenah dan mengambil Al-Quran lalu mengaji,mungkin bisa sedikit mengurangi resahku, dan ternyata benar saat aku mulai membaca huruf-demi huruf , ayat demi ayat kutemukan bahwa dadaku agak sedikit lapang tidak lagi sesak dengan kecemasan dan kekhawatiran, tidakkah  akan lebih baik jika aku menitipkannya pada Sang Pemilik hidup, bukankah Dia sebaik-baik penjaga?

Malam itu Mas Kukuh pulang dengan selamat, sedikitpun apa yang aku khawatirkan tidak terjadi, aku membantunya menyiapkan air hangat untuk mencuci badan, mengoles seluruh tubuhnya dengan fresscare dan menyelimuti tubuhnya agar bisa  tidur nyenyak, karena saat subuh nanti aku harus membangunkannya dia lagi untuk sholat subuh dan menyiapkan segala sesuatu sebelum dia berangkat kerja lagi. Aku memandangi wajahnya yang lelap, begitu tenang  dan teduh, belakangan ini aku meliat Mas kukuh begitu tertekan oleh pekerjaan yang seperti tidak ada habis-habisnya, sering aku menyampaikan bahwa bekerja adalah cara yang kita pilih untuk menjemput rezeki, bekerja sebaik-baiknya adalah wujud syukur kita kepada Sang Pemberi Rezeki karena kita ingin rezeki yang halal lagi berkah, tapi itu tidak berarti kita melupakan segala-galanya sampai harus meninggalkan kewajban kita untuk ibadah, rezeki yang baik adalah rezeki yang saat di upaya kan menggunakan cara yang baik, saat mendapatkan juga dengan cara yang baik dan nanti ketika rezeki sudah ada dalam genggaman, kita bersihkan dengan mengeluarkan hak-orang lain di dalamnya.Karena setiap apa yang kita terima ada bagian orang lain didalamnya, maka menjadi penting untuk mengeluarkan bagian tersebut sebelum kita bawa pulang kerumah. Tuhan telah menuliskan semuanya sesuai porsinya masing-masing, ada yang dilebihkan dan ada yang dikurangi tapi tidak ada yang dirugikan. Karena Allah tidak pernah Aniaya kepada makhluknya. Hal itu yang sering kusampaikan pada Mas Kukuh, bahwa berharap sah-sah saja, bekerja maksimal itu kewajiban tapi hasil akhir semua sudah ditetapkan, sepenuhnya otoritas sang pemilik hidup.” Kerja itu ibadah mas, hasilnya adalah rezeki tapi semua proses yang kita lakukan semata-mata alat yang mestinya menjadikan kita lebih dekat kepada Tuhan, tidak malah menjauhkan kita dariNya, karenanya aku selalu meminta, kiranya Dunia hanya di letakkan di ujung jari kita, jangan sampai dia menguasai hati kita biarlah hati kita menjadi Arsy tempat dimana nama Tuhan selalu di lantunkan” Saat aku bicara seperti itu, mas Kukuh memandangku lekat-lekat, merangkum wajahku dengan kedua belah tangannya,  dan mengecup keningku lama.
image

Kukuh Abimanyu namanya, laki-laki yang menjadi pelabuhan hatiku, seringkali kunikmati sosoknya ketika duduk menikmati rokok, atau terbahak-bahak geli saat bercakap dengan kawan-kawannya, sama seperti saat dia terlelap saat dia terbahak seperti itu adalah saat yang paling indah bagiku karena tawanya membuat hatiku hangat. Saat dimana dia melupakan semua pekerjaannya, saat aku melihat dia hanya sebagai seorang Kukuh Abimanyu tanpa embel-embel, laki-laki yang telah kuberi tempat khusus di hatiku dan kuizinkan bibirku melafaskan doa atas namanya, yang membuatku kuat menapaki hari-hari suramku  dan karena dia pula aku berani menatap dunia dengan tengadah, melupakan semua masa lalu yang tidak ingin ku ingat bahkan melepaskan semua beban rasa sakit yang pernah singgah di hati.

” Kamu sehat?” tanya mas Kukuh ketika telponnya kuangkat , “Sedikit pilek” kataku dengan suara sengau yang tidak bisa kututupi, “jangan sakit dong… ke dokter atau minum obat biar pileknya ilang!” katanya dengan nada cemas, aku berusaha menenangkannya ” Ahhh hanya pilek dikit karena capek, bentar bangun tidur juga sembuh” kataku sambil tertawa, ” yah kalau gitu, kamu istirahat gak usah capek-capek dulu” katanya dan aku segera mengiyakan, kalau gak pasti seribu satu nasehat akan segera terdengar dan kalau sudah begitu pilekku terasa seperti penyakit akut yang mematikan. Tapi jujur aku suka dengan perhatian-perhatian yang dia  berikan, sudah menjadi hukum alam mungkin kalau kita di beri perhatian tulus maka kita juga akan melakukan hal yang sama, karena mas kukuh juga bilang bahwa dia sangat bersyukur bersamaku yang begitu memperhatikan dirinya hingga dia akan merasa sangat kehilangan kalau sehari saja telat pulang dari perjalanan dinas keluar kota dan itu berarti menunda sehari pertemuan kami.

Aku menantinya diterminal kedatangan, ketika satu-satu penumpang keluar dari pintu kedatangan, aku melihatnya berjalan santai dengan sebelah tangan menarik koper coklat dan sebelah lagi menenteng plastik besar. Aku tergesa menyambutnya, mengecup punggung dan tapak tangannya, dia menarikku dalam pelukannya serta mengecup kedua pipi dan keningku, ‘Alhamdulillah…. aku rindu sekali!” kataku, dia tersenyum dan masih menggenggam tanganku ” aku juga!” katanya dan membiarkan supir mengambil koper dan Plastik bawaannya. Ini memang perpisahan kami yang paling lama, sepanjang jalan dia tidak melepaskan genggamannya, kadang-kadang bahkan dia mengusap lenganku, aku tau dia bener-bener rindu seperti yang dia ucapkan, bahkan yang kurasakan justeru teramat pekat. Bahwa banyak hal antara dua orang yang saling mencintai tidak perlu penjelasan karena rasa mereka telah mengurai semuanya dengan sangat detail…..itu juga yang kami rasakan, lamanya kami saling berpelukan adalah penanda betapa besarnya rasa rindu kami, bahkan lamanya kami saling menggenggam adalah bukti betapa kami tidak ingin saling berpisah, tapi itu adalah suatu kemustahilan, aku tidak boleh egois karena Mas Kukuh sekarang adalah milik orang banyak. Bahwasanya rindu kemudian menjadi kekuatan bagiku untuk terus semangat menunggu setiap detik yang berlalu, pergantian jam bahkan hari…. menikmati helai-helai rindu yang menggigit ditiap pori-pori, dan penantian tidak pernah sia-sia bukan, karena mas kukuh akhirnya kembali, kedatangannya seperti kabut yang menguap sirna oleh matahari dan begitulah rinduku akhirnya lenyap dalam genggaman kokohnya.

Iklan