CINTA

image

Jika diusiaku saat ini memilih topik CINTA untuk dibahas mungkin sebagian besar akan tersenyum geli, karena bisa jadi CINTA dalam pikiran mereka hanya milik orang-orang muda yang dibahas sedemikian rupa dengan simbol-simbol merah hati dan gambar amor, tapi CINTA yang ingin kubahas pagi ini bukan CINTA dengan simbol warna pink, apalagi yang hanya dirayakan sekali setahun oleh remaja di tanggal 14 februari πŸ˜‚πŸ˜‚.
CINTA yang ingin ku bagi adalah CINTA yang hanya memberi, tidak menyakiti pun tidak melukai. Karena CINTA adalah CINTA anugerah besar dari Sang Pemilik hidup yang di letakkan pada hati mereka yang terpilih untuk menyadari bahwa begitu banyak alasan dalam hidup ini yang harusnya membuat kita mesti tersenyum bahagia dan membagikan alasan-alasan tersebut pada banyak orang. Cinta universal yang membuat kita trenyuh saat melihat tetangga kita sedih, kawan kita tidak beruntung, sahabat kita kesakitan dan mendorong kita untuk menggenggam tangan mereka dan menyatakan dengan tegas kita selalu ada untuk mereka kapanpun mereka inginkan.
Sejatinya CINTA memang tidak mesti menyakiti, karena maha daya CINTA mampu membentuk senyum di bibir mereka yang paling menderita sekalipun, meluruhkan air mata dipipi mereka yang berhati baja, serta melembutkan hati mereka yang keras bagai karang.
Jika CINTA tidak menyakiti, lalu mengapa begitu banyak orang yang mengklaim menderita karena cinta?πŸ˜‚ bahkan yang lebih parah berani bunuh diri karena CINTA?
Ternyata jawabannya satu, karena yang mengaku mencintai ingin orang yang dicintai membalas cintanya bahkan lebih besar dari apa yang mereka berikan. ( cinta juga kenal hukum ekonomi rupanya, memberi sedikit dan memperoleh yang sebesar2nya)πŸ˜‚πŸ˜‚.
Kembali ke tulisan saya diawal CINTA itu anugerah bagi mereka yang terpilih, so karena dipilih oleh Sang Maha Pencinta mustahil kita memaksakan orang yang kita cintai untuk membalas CINTA kita kan?siapa yang menjamin bahwa dia juga dipilih untuk mendapat anugerah itu?tidak satu orangpun, karena CINTA tahu kepada siapa dia harus datang, kapan dia harus pergi berapa lama dia bertahan tanpa bisa kita perintah. Nah.. artinya jika kita tersakiti karena kita ingin orang yang kita cintai juga membalas perasaan kita itu sama artinya kita tidak memperlakukan CINTA sebagaimana yang seharusnya, dan rasa sakit yang kita rasakan bukankah karena kebodohan kita?πŸ˜‚πŸ˜‚ mungkin ini antimainstream atau bisa aja di anggap pikiran gila… tapi aku boleh berpendapat bukan?
Menurutku lagi jika kita ketiban CINTA dan terpilih sebagai orang yang di anugerahi perasaan agung tersebut maka tugas kita adalah membaginya dengan sesama, karena satu-satunya hal yang akan kembali kepada kita adalah perasaaan CINTA yang tulus. Jika kita tulus mencintai anak-anak kita maka tanpa kita sadari kita telah menanam pula rasa CINTA itu di hati mereka, semakin kita pupuk perasaan itu semakin besar pula rasa itu akan tumbuh. Jangankan pada manusia yang memiliki rasa, pada hewan sekalipun jika kita memberi CINTA yang tulus mereka otomatis akan membalasnya. CINTA akan mengikat silaturahmi menjadi erat, karena CINTA adalah alasan kenapa seorang ibu rela kesakitan mengandung dan melahirkan, bangun tengah malam dan rela melakukan semuanya untuk anaknya, karena CINTA seorang ayah tak pernah lelah bekerja mengais rezeki, karena CINTA pula sepasang suami isteri rela mendonorkan matanya untuk putra mereka yang buta sejak lahir. Betapa indahnya CINTA jika kita memperlakukan dia sebagaimana mestinya. CINTA akan membuat kita ikhlas mengulurkan tangan membantu kesulitan orang lain, CINTA juga yang membuat ibu rela berpanas-panas ditengah ladang saat membantu suaminya bercocok tanam. Itu CINTA yang sebenar-benar CINTA, hanya memberi sekali lagi hanya memberi dan tak meminta balasan.

Salam CINTA untuk semua yang hebat diluar sana…….
22.04.16

Iklan