Menjadi yang dirindukan

image

Dear….
Pernahkah kita begitu rindu kepada seseorang sehingga dada terasa sesak? Rindu kebaikannya, rindu nasehatnya, rindu marahnya, juga rindu senyumnya?
Rindu kebaikannya karena orang tersebut demikian ringan tangan menolong tanpa syarat, kapanpun dan bila manapun. Rindu nasehatnya karena kalimatnya selalu bernas, tidak kasar meskipun yang kita lakukan jelas-jelas salah. Rindu Marahnya karena kemarahannya hanya untuk hal-hal penting yang kita abaikan, marah karena kita tidak peduli dengan diri kita, rindu senyumnya karena setiap saat yang kita temui wajah teduh penuh senyum, sehingga terpikir oleh kita apa dia tidak pernah dirundung masalah? Masya allah betapa sulitnya mencari sosok seperti ini, dia ada tapi tidak menonjolkan diri, dia pergi tidak menyusahkan orang lain tapi meninggalkan kepedihan karena  rindu……
Tidak mudah meninggalkan kesan seperti ini kepada orang lain, karena sering kali keberadaan kita justeru menggangu ketenangan orang, kata-kata kita menyakiti saudara kita, senyum kita dirasakan melecehkan oleh orang lain, nasehat kita seolah-olah sengaja memojokkan orang yang berbeda pendapat dengan kita, apa pula kemarahan kita, sanggup meninggalkan luka yang terus berdarah dihati orang lain…. bagaimana mungkin keberadaan kita dirindukan, kehilangan kita membuat sedih yang berkepajangan? Sebaik baik manusia adalah mereka yang bermamfaat bagi orang lain, yang kehadirannya di rindukan dan kepergiannya di tangisi. Nasehatnya di kenang, senyumnya diingat karena mendatangkan kedamaian….

Dear……
Sudah waktunya mungkin kita menorehkan jejak keindahan itu, saatnya kita memperbaiki sikap hingga lukisan jejak yang kita tinggalkan nanti menjadi sesuatu yang bisa dikenang oleh orang disekitar kita. Hingga jika suatu saat kita “Pulang” orang akan mengenang kita dengan khikmat, merindukan kita hingga sesak😅😅 dan mendoakan kiranya kita tetap tersenyum di alam sana karena semua kebaikan yang kita lakukan.
Izinkan Tuhan aku menjadi orang yang dirindukan……

Iklan