Cerpen: Luruhnya Harapan

 

air mata

Di bukanya jendela kamar selebar mungkin, dihirupnya udara sepenuh dada sambil memejamkan mata, merasakan sensasi hangat yang mengalir dalam rongga dadanya, saat Hanna membuka matanya dia menangkap jejeran kemilau embun di atas daun kanna yang berjejer rapi di bawah jendela, satu-satu meleleh dan lompat berjatuhan dari atas pucuk-pucuk perdu. Burung gereja memenuhi cabang pohon mangga yang daunnya segar berayun gemulai. Yah Tuhan…… betapa indah semuanya. Seperti indahnya rasa yang melilit jiwanya, membayangkan sosok Bram, Bramantio lengkapnya, yang akhir-akhir ini seolah membius seluruh hidupnya, membuat dadanya hangat setiap kali sosok itu melintas dalam pikirannya. Hanna sadar betul, terlalu singkat jika harus menerjemahkan bahwa rasa yang dimilikinya terhadap Bram adalah cinta, bagaimana mungkin? Usianya belum lagi 17 tahun, dan perkenalan mereka masih bisa di hitung jari. Tapi Hanna, manalah peduli dengan itu semua? Baginya rasa yang kini hadir memenuhi jiwanya adalah anugerah Tuhan, dan dia mensyukuri kehadirannya dengan membiarkan saja rasa itu bertambah dan tumbuh mekar sejauh apa yang dia inginkan.Toh Bramantio juga menyambut baik dan “mungkin” merasakan hal yang sama dengan apa yang dia rasakan, setidaknya itu yang dia rasakan, rona merah dipipi Hanna bersemu jika ingat hal itu. Bramantio memanggilnya apa? “My little cristal “ lagi-lagi pipinya hangat mengingat itu. Bram memang selalu pandai menyenangkan hati, dan selalu saja Hanna merasa bodoh berada di dekatnya. Salah tingkah dan gugup jika ingin mengutarakan sesuatu.Astaga ….. sebegitu kuatnya pengaruh Bram padanya. Hingga begitu takut jika Bram juga mendengar dadanya yang bergemuruh. Apa iya teman sekelasnya yang mengaku jatuh cinta juga merasa seperti apa yang dia rasakan ini? entahlah, bibirnya selalu saja kelu, tak berani menanyakan persoalan itu pada Dini teman dekatnya, biarlah apa yang dia rasakan menjadi hak miliknya sendiri , utuh tak tersentuh.
Setengah melompat Hanna kembali ke ranjangnya, meraih lembaran yang tergolek disamping bantalnya dan membaca kembali tulisan Bramantio “Hanna My Little cristal , saat ini aku sedang duduk di teras gubuk rumah Bali, menikmati pemandangan kota palu di waktu malam, indah sekali….. aku berandai-andai, jika saat ini kau ada disini dan menyaksikan apa yang ku saksikan, aku bisa pastikan bahwa kau akan sangat takjub. Berada di ketinggian dengan langit yang seolah begitu dekat, hingga kita bisa menghitung bintang satu persatu, bahkan mungkin meraihnya. Kau tahu? Ingin sekali kuraih satu bintang, dan kuletakkan s ditelapak tanganmu dan membiarkan cahanya berpendar menerangi wajahmu. Tapi aku sadar kau tak ada didekatku, biarlah bintang ini kukirimkan untukmu, menemanimu melewati malam dengan sempurna.Oh yah besok aku akan turun dan berharap menerima tulisan baru darimu!” Hanna meletakkan surat itu disampingnya, menutup mata meresapi kalimat demi kalimat yang baru saja dibacanya, wahai ……. mungkinkah ini sekedar ilusi? Atau hanya angan kosong yang menghampirinya saat dia benar-benar merasa tertarik akan sosok Bramantio.
Mata elang Bramantio yang menyapu seluruh wajahnya sudah cukup membuatnya pias, takut semua isi hatinya terbaca, karena berhadapan dengannya, Hanna selalu merasa seperti sebuah buku yang terbuka lebar, yang bisa dibaca Bramantio kapan saja dia ingin, dan tak ada satu halpun yang bisa Hanna sembunyikan dengan apik. Bagi Hanna, Bramantio adalah kamus berjalan, yang bisa menjawab semua pertanyaannya yang berseliweran di benaknya, dan sejujurnya Hanna belajar banyak dari lembar-lembar surat yang dikirim Bramantio untuknya. Surat Bramantio bukan hanya sekedar ekspresi dari apa yang Bramantio rasakan tentangnya tapi juga berisi kisah perjalanan panjang kehidupannya, harapan dan keinginannya yang kesemuanya justeru membuat Hanna larut dan memenuhi mimpi-mimpi masa depannya hanya dengan Bramantio.
Hanna beranjak ke meja di sudut kamar, menyalakan lampu dan mulai merangkai kata. sesekali tatapannya jatuh dibingkai foto yang menampilkan senyum Bramantio, gagah dengan seragam resimen mahasiswanya.Tangannya berhenti menulis jari-jarinya menelusuri sisi pigura, senyumnya merekah karena menyadari, hanya di foto dia sanggup menatap Bramantio secara utuh. Menelusuri sisi wajahnya dengan seksama, dan mengamati dengan cermat kedua matanya yang meski dalam gambarpun masih sanggup menikam jantungnya.
Usia Hanna yang belum genap tujuh belastahun, terlalu muda untuk mengklaim bahwa cinta yang dia rasakan terhadap Bramantio adalah sebenar-benarnya cinta. Tapi mana pula dia peduli? Cintanya yang tumbuh pesat seolah melemparkan Hanna ke dalam sumur keyakinan bahwa cinta itu tak mengenal perbedaan usia, toh usia hanya sekedar hitungan dan yang paling penting di atas semua itu Bramantio memberinya peluang untuk mengespresikan segenap mimpi dan harapannya tanpa syarat. Hanna kembali menulis, menceriterakan kepada Bramantio dalam suratnya seluruh kegiatan yang dilaluinya sepanjang hari, bukankah Bramantio memintanya seperti itu? semangat Hanna melanjutkan tulisannya “ ini adalah surat kesekian yang kutulis untukmu (aku lupa nomornya, karena begitu banyak, sama banyaknya dengan surat yang ku terima darimu^_^). Bram …… Senangnya membayangkan kau menghadiakan bintang untukku, menemani malamku, tapi jika boleh aku memilih sungguh, aku akan lebih senang memilih duduk di dekatmu diteras rumah si Bali, melihat kunang-kunang beterbangan di sekitar kita, dan melihat pijaran cahayanya yang berputar-putar beterbangan. Bahkan menemanimu tenggadah menghitung bintang. Aihhhh pasti menyenangkan memegang bintang di telapak tangan dan menikmati cahayanya yang berpendar. Sayang yah … itu hanya selalu ada di dalam khayalku, karena mustahil aku di izinkan untuk menikmati indahnya alam di pegunungan meski aku memintanya dengan memohon-mohon. Kau kenal papaku bukan? Yang mengizinkan aku minta apa saja, yah apa saja kecuali menginap diluar rumah tanpa muhrim. Tapi sekalipun aku tidak kecewa karenanya, karena aku tahu papa bermaksud baik dengan larangannya. Bram …. Meskipun aku tidak di sana bersamamu,tapi jiwaku ikut menemanimu, menemani langkahmu menerabas ilalang berduri, semak belukar bahkan duduk di dekatmu menikmati semilir angin dan menghitung bintang gemintang di teras rumah Bali.”
Hanna tertidur dengan senyum bahagia karena surat itu telah selesai ditulisnya, tak sanggup rasanya dia menangkap kekecewaan di mata Bram, seandainya dia tidak menyelesaikan surat itu malam ini, seperti halnya dia kecewa jika dia tidak menemukan surat Bramantio seharian. Surat-surat Bramantio adalah obat mujarab untuk semua rindu yang mengungkungnya. Adalah terapi bagi segenap jiwa mudanya yang sakit karena cintanya yang kuat, karena hubungan mereka yang bukan seperti lazimnya sepasang kekasih, yang setiap saat bisa saling menatap, Hanna benar-benar menyadari hal itu, tapi keyakinanya yang kuat bahwa bukanlah pertemuan langsungnya dengan Bramantio yang bisa mengikat keduanya melainkan intensitas komunikasi merekalah yang akan mengikat hubungan keduanya menjadi kuat. Dan surat-surat itulah kekuatannya, karena di sana dia sanggup membahasakan segenap rasanya yang bergolak, rindu yang menyesak serta harapan masa depan yang membuih. Hanna juga menyadari bahwa satu saat Bramantio akan kembali ke kota dari mana dia datang, karena tugas mereka tidak menginginkan Bramantio berlama-lama di Palu. Tapi bukankah Bram berjanji untuk selalu mencintainya? Saat ini dan sampai kapanpun? Janji itulah yang ditanam Hanna kuat-kuat di dalam hatinya. Janji itulah yang membuat cintanya tumbuh subur tanpa bisa di bendung.
Sampai malam itu , tatkala dia dengan berat hati harus bertemu seseorang dan harus mendengarkan hal yang menghancurkan semua mimpinya, memberangus semua angannya hingga tinggal serpih tak bersisa, meski keraguan masih tetap bergayut dalam benaknya namun terlalu sulit pula baginya untuk tidak percaya pada apa yang di tuturkan Dyan. Dyan adalah salah satu anggota rombongan Bramantio, yang jujur saja sangat Hanna hormati. Hingga tidak sedikitpun dia menyela apa yang disampaikan oleh Dyan tentang Bramantio. Sekuat hati ditahannya airmatanya agar tak jatuh, sampai sakit rasanya telapak tangannya tertusuk kukunya sendiri saking kuatnya telapak tangannya dia genggam, usahanya memang tidak sia-sia, karena tidak satu tetespun airmatanya jatuh di hadapan Dyan, meski hanya Tuhan yang tahu betapa inginnya dia menjerit. Memprotes kenapa ini harus berlaku padanya, apa salahnya? kenapa cinta yang di letakkan di hatinya harus di paksa untuk di cabut kembali seolah-olah dia mengambil sesuatu yang salah, menjatuhkan hatinya pada orang yang tidak tepat? yah Tuhan kesadaran itu akhirnya kembali, karena dia juga melihat mata dyan yang berkabut dan itu memberinya kesadaran bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaan ini. karena perempuan cantik yang sangat dia hormati ini juga sama dengan dirinya, menjatuhkan hati pada orang yang sama.
Saat Dyan menggenggam tangannya dan menatap wajahnya penuh-penuh sambil berkata “ Hanna, aku sungguh menyayangimu, tolong dengarkan apa yang aku katakan, aku tahu Bram akan memarahiku habis-habisan,tapi aku ingin kau tahu ini hal sesungguhnya terjadi antara aku dan dia!” Hanna hanya sanggup menggumamkan ucapan terima kasih dan merasakan ada yang teramat sakit di dadanya. Fakta bahwa Dyan juga seperti dirinya mencintai laki-laki yang sama, membuat Hanna seolah tercabut dari tempat dimana dia berdiri. Tanpa pegangan, melayang-layang seperti benang putus tanpa tahu bagaimana jika harus kembali menjejak bumi. Bersyukur bahwa dia masih tiba di rumah dengan selamat dan masuk kekamarnya dimana dia bisa bersembunyi dengan segenap masalahnya sendirian. Menguras habis airmatanya hingga rasanya tak ada lagi yang bisa di keluarkannya . Entah malam itu Hanna pulang dengan sejuta pertanyaan di kepalanya, tanpa tahu harus kemana mencari jawabannya. Putus asa karenanya Hanna tertidur dengan isak yang tak sanggup dia hindari.
Hanna menerima surat Bramantio berikutnya setelah membalas tanpa berani bertanya hal yang sesungguhnya seperti apa yang di sampaikan Dyan padanya, disatu sisi teramat sulit baginya untuk tidak mempercayai ucapan Dyan, sementara disisi lain betapa tidak mudahnya mematikan rasa yang sudah terlanjut kuat bersemayam di dadanya, yah Tuhan…. betapa menyakitkannya saat kita menyadari bahwa rasa kita sanggup menyakiti hati orang lain sementara kita sendiripun tak sanggup menghentikannya. Lelah menggapai semua kemungkinan yang bisa meringankan perasaannya Hanna berhenti berpikir, biarlah sudah terjadi saja sekehendakNya. Berusaha menapaki hari-harinya secara normal, membalas surat Bram seolah tak terjadi apa-apa, tapi seperti yang sudah-sudah ternyata Bram sanggup mencium perubahan yang terjadi pada Hanna, “ Apa yang terjadi padamu My Little Cristal?, belakangan ini kau berbeda, suratmu tidak menggambarkan Hanna gadisku yang dulu, perasaanku mengatakan bahwa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku bukan begitu?” bagaimana pula Bram tidak menangkap perubahan dalam surat yang dia kirim? Bukankah semua tulisannya adalah representasi dirinya yang hadir utuh di depan Bram? Sebenarnya bisa jadi sederhana jika saja dia bisa mengutarakan semuanya pada Bram, toh sejujurnya dia juga punya hak untuk tahu cerita yang sesungguhnya, tapi dia sudah berjanji, berjanji pada Dyan untuk tidak bercerita pada Bram tentang pertemuan itu, yah Tuhan ….. bagaimana mungkin bisa serumit ini? Meski berkali-kali Hanna menarik nafas panjang tetap saja beban itu tak mau luruh, tetap saja Hanna tidak menemukan solusi terbaik untuk rasanya, dan itu menyakitkan amat sangat menyakitkan. Lebih-lebih menyadari ketidak mampuannya menghapus semuanya tentang Bram, mematikan perasaan cintanya, bahkan mematahkan sedikit saja cabang-cabangnya yang terlanjur menguasai segenap jiwanya. “ Aku masih tetap Hanna, tidak berubah seperti saat pertama kali kau kenal, kalaupun kau merasa ada yang berubah, aku hanya takut waktu kita tinggal sedikit , bukankah kau segera akan meninggalkan kotaku? Dan itu artinya kita akan berpisah untuk waktu yang entah berapa lama” tulis Hanna menghindar untuk menyatakan yang sesungguhnya, “ Yah mesti aku tetap merasa ada sesuatu yang berbeda darimu, satu hal yang kau harus yakin, bahwa kapanpun itu aku akan kembali lagi kesini, menemuimu seperti janjiku dulu!” Surat Bram yang membuat Hanna amat terhibur, karena kembali dia mengais harapan bahwa Bram tetaplah miliknya, sampai kapanpun. Tapi …… kesimpulan itu ternyata hanya menyisakan sedikit kelegaan, Kepulangan Bramantio dan rombongan menjadi klimaks keputus asaan Hanna, seharian mengurung diri menangisi hatinya yang luka, karena akhirnya Bram pergi tanpa berkata sepatahpun, sebegitu gampangnyakah Bram lupa akan semua janjinya? Lupa akan semua cerita indah yang didengung-dengungkannya selama ini? Lupa akan rasa sakit yang bisa dia timbulkan akibat janjinya? Hanna menggigit bibirnya kuat-kuat, berupaya agar tangisnya tidak kembali buncah, acapkali ingatan itu hadir, Hanna merasa dadanya sakit dan menyaksikan dengan pilu hatinya yang berdarah. Mengalir dari lukanya yang menganga tanpa sanggup melakukan sesuatu. Hanna yang malang, mestikah dia menanggung rasa sakit itu sendirian? Padahal rasanya tidak akan tumbuh baik seandainya tidak di beri lahan yang subur. Tidak akan mekar sebegitu indahnya andai saja tidak dituangi pupuk ? Tapi siapakah yang akan diminta untuk berbagi kesakitan ini? tak seorangpun, kesakitan itu utuh miliknya karena dialah yang merasakan bagaimana cinta itu tumbuh dalam hatinya, dialah yang membiarkan hatinya di penuhi oleh Bram lalu bagaimana mungkin dia mencari-cari orang yang akan dijadikan kambing hitam untuk bertanggung jawab dari rasa sakit yang dia alami? Mustahil baginya menghapus begitu saja harapan yang terlanjur dia bangun dalam pikirannya, seperti sama muskilnya dia berharap untuk berani mempertanyakan kisah lengkap yang dia dengar tentang Bram, satu-satunya yang membuatnya gemas adalah sikap Bram yang membiarkan dirinya terpuruk sendirian dalam lukanya. Kalaupun masih ada lagi yang bisa melonggarkan sesaknya adalah rasa bencinya yang kemudian tumbuh terhadap Bram yang tega memberinya harapan-harapan palsu.  Bahwa cinta dan benci pada akhirnya hanya dipisahkan sehelai kertas tipis, terlalu tipis hingga Hanna harus berjuang untuk menatap hatinya secara cermat apakah yang dia rasakan terhadap Bram adalah cinta ataukah benci? karena satu sisi dia masih berharap bahwa Bram tidak lupa janjinya namun di sisi lain hatinya berharap bahwa dia tidak ingin bertemu lagi dengan pecundang itu. Hanna yang tadinya begitu yakin akan perasaannya, begitu tulus mencintai kini terkapar dan luruh bersama rasanya, mnenyimpan dengan apik semua rasa yang bergumul dalam dadanya,  berbilang tahun… berharap waktulah yang akan menyembuhkan luka, waktulah yang akan menggerus kenangan dan waktu pula yang menumbangkan harapan yang terlampau tinggi dia tambatkan, meski kesalahannya hanya satu, meletakkan kunci kebahagiannya di saku orang yang salah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s