MEMAKNAI HAJI DAN QURBAN

Selepas sholat Ied, adik bungsuku yang berangkat haji bersama suaminya menelpon, bahwa mereka baru saja tiba di mina, setelah kemarin wukuf di padang arafah, kemudian mabit di musdalifah dan sebentar lagi akan segera berangkat untuk melontar jumrah, mendengar suaranya haru merebak tak terbendung, “Assalamu alaikum, sehat kak?” ucapan yang setiap pagi kami lontarkan nyaris seusia perkawinanku, saat aku harus meninggalkan rumah Ibuku dan pindah mengikuti suami ” Alhamdulillah, kau juga sehatkah?suaramu berbeda, kau pasti pilek!” nyaris tak ada jawaban selain isak tangis, ” kakak baru saja selesai sholat Ied, mendoakan agar kau dan suamimu selalu sehat dan bisa melaksanakan seluruh tahapan ibadah hajimu dengan lancar!” kataku berusaha kuat meski air mata juga mengalir deras, “Alhamdulillah, kami berdua juga sehat, agak sedikit pilek memang, bukannya kakak selalu bilang bahwa di mekkah yang tidak pilek hanya Onta dan tiang listrik!” katanya berusaha tertawa disela tangisnya. Aku juga tertawa. “ aku selalu ingat kak, kakak benar kita debu tak berarti di tengah kekuasaannya, aku malu sekali mengingat semua kesombonganku, kelalaian dan kealpaanku, subhanallah kak….. aku berdoa agar semua anak-anak kita juga bisa kesini dan merasakan apa yang kurasakan saat ini”! katanya sungguh-sungguh dan membuatku semakin terharu “ Aminnnn ….. itu juga permohonan yang tak henti-hentinya kakak panjatkan saat itu!” Terbayang suasana wukuf 6 tahun silam, seolah baru kemarin aku berada di tengan jutaan ribu manusia dalam suasaana serba putih, tunduk berdoa, bertasbih, bertahlil dan tak kunjung berhenti menyebut nama Allah, isak tangis karena haru, merasa tak berarti dan bersyukur mengharu biru dalam hati ………. Saat itu semuah jamaah menanggalkan pakaian yang kami bawa dari tanah air, Kenapa pakaian yang kita bawa dari tanah air diganti dan dilepas? Karena pada lazimnya, pakaian mewarnai watak manusia. Pakaian dapat melambangkan pola, pangkat, status dan perbedaan tertentu. Pakaian telah menciptakan batas-batas palsu yang menyebabkan timbulnya perbedaan dan perpecahan. Dari perpecahan ini biasanya timbul dan lahirlah diskriminasi, dan selanjutnya munculnya konsep “Aku” bukan lagi “kita”. Aku dipergunakan dalam konteks-konteks seperti suku-ku, golongan-ku, kedudukan-ku, keluarga-ku, kelompok-ku. Aku berbeda dengan kamu, aku lebih super dari kamu, aku lebih hebat dari kamu. Semuanya adalah aku sebagai individu yang sombong, congkak, takabur, adigang-adigung-adiguna, bukan lagi aku sebagai manusia. prosesi haji harus melepaskan pakaian kotor, yakni pakaian kesombongan, pakaian kekejaman, pakaian penindasan, pakaian penipuan, pakaian kelicikan dan pakaian perbudakan, yang kesemuanya melambangkan watak dan karakter manusia. Saat itu yang harus kita pakai hanyalah kain ihram, berwarna putih yang melambangkan kesucian dalam rangka melanjutkan perjalanan menuju Allah, mencari makna hidup untuk menjadi manusia seutuhnya. Saat kita mandi dan berihram serta mengucap niat untuk memasuki ibadah haji sekaligus kita menetapkan niat untuk membersihkan diri dengan cahaya taubat yang tulus kepada Allah Swt, membersihkan diri dari segala pelanggaran- pelanggaran dosa. Saat kita bertawaf, mengelilingi ka’bah saat itu kita niatkan untuk selalu mengejar keridhoan Allah, Begitu pula saat kita berdiri di maqam Ibrahim kitapun mengukuhkan niat untuk tetap berdiri di atas ketaatan kepada Allah dan meninggalkan semua kemaksiatan, hingga kita sampai pada ritual menyentuh dan mencium Hajar Aswad. Jika kita tak bisa menyentuh dan mencium Hajar Aswad, cukup kita melambaikan tangan karena menyentuh hajar aswad seolah-olah kita berjabat tangan dengan Allah SWT. Demikianpun saat Sai, Tahalul , Mabid, melontar jumrah dsb, kita lalui satu demi satu dengan segenap niat tulus.

Setiap ibadah pasti ada hikmahnya, meskipun tidak semua orang dapat mengetahui hikmah tersebut melalui penalaran akal pikirannya. Hanya Allah sendiri yang mengetahui rahasia dan hikmah seluruh ajaran agama yang diturunkan-Nya. Hikmah-hikmah tersebut ada yang diungkap dalam kitab suci Al-Quran atau sunnah Rasul, ada pula yang tidak disinggung sama-sekali. Bagian hikmah yang tidak disinggung ini, hanya dapat diketahui dan dihayati oleh kalangan tertentu, yang dalam Al-Quran dinamakan Arrasikhuuna fil-‘ilmi, yakni mereka yang kuat imannya dan diberikan kelebihan ilmu oleh Allah, yang tidak diberikan kepada orang lain (QS Ali Imran, 3:7)

Hari ini adikku merasakan nikmatnya beribadah, yang membawanya kepada kesadaran bahwa manusia yang tadinya bangga dengan segala status, pangkat, jabatan, dan segala macam predikat dunia ternyata memang hanyalah debu tak berarti di bawah ke ” Maha besar” an Allah, hingga jika tidak karena kuasaNya tidak nanti sanggup menengadahkan wajah dan sanggup melihat kekurangan dirinya dengan seksama dan pasti akan menjerumuskan diri ini menjadi sedurhaka-durhakanya manusia. Nauzubillahi min zalik. Semoga ketika dia kembali nanti dia dan suaminya akan mendapatkan haji Mabrur, Amin.

Hari inipun kita bersama-sama melaksanakan Sholat Ied, hari raya Qurban, dengan mengenang kembali ketaatan dan ketegaran Nabi Ibrahim beserta putranya terkasih Nabi Ismail, semoga kita juga bisa mengikuti ketaatan beliau berdua sehingga Hari raya Idul Qurban ini bukan hanya sekedar ritual rutin setiap tahun tapi semakin menundukkan hati kita untuk selalu dekat atau taqarrub kepada Allah yang telah memberikan kenikmatan yang demikian banyak dalam hidup kita. Hari Raya Qurbanpun merupakan Hari Raya yang Berdimensi sosial kemasyarakatan yang sangat dalam. Hal itu terlihat ketika pelaksanaan pemotongan hewan yang akan dikorbankan, para mustahik yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul. Mereka satu sama lainya meluapkan rasa gembira dan sukacita yang dalam. Yang kaya dan yang miskin saling berpadu, berinteraksi sesamanya. Luapan kegembiraan di hari itu, terutama bagi orang miskin dan fakir, lebih-lebih dalam situasi krisi ekonomi dan moneter yang dialami sekarang ini, sangat tinggi nilainya, ketika mereka menerima daging hewan kurban tersebut. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal kepada orang-orang kaya yang mau berqurban pada hari ini, dan menganugerahkan rasa syukur bagi mereka yang menerima.Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s