Kami Menyaksikan Tangisnya

Bandannya ringkih, tapi wajahnya selalu tersenyum keriput di pipi dan sekitar mulutnya semakin banyak, tapi semua orang tau kalau dulu pasti beliau sangat cantik, sisa-sisa kencantikan masih nampak jelas terliat, matanya indah di hiasi bulu mata lentik dan alis hitam legam, dan harus aku akui setiap kali mata kami bersirobok aku merasakan kasih yang teramat dalam dan itu jujur sangat menyejukkan bagiku.

Aku sering memuji Tante Berlian di hadapan Farid, dia hanya tersenyum dan bilang” ibuku memang cantik, tapi aku sudah meliat wanita lain yang sama cantiknya dengannya!” katanya dengan mata menggoda “Siapa dia, pacarmu? Kenapa tidak kau kenalkan padaku?” kataku merajuk, Farid terkekeh dan tidak menjawab pertanyaanku, meski berkali-kali kutanyakan. Setiap kali aku datang, Tante Berlian pasti menyambutku hangat, sibuk menuangi teh, dan menemaniku bercerita. Beliau senang sekali memangku putriku, aihhhh aku meliat kerinduannya, aku merasakan bahwa dia rindu anak-anak. Dia pasti seperti ibuku dulu, rindu pengin menimang cucu, dalam hati aku berjanji akan membicarakan apa yang kurasakan pada Farid, putra ibu berlian satu-satunya yang juga sahabatku sejak di bangku kuliah.
Farid adalah sahabat yang baik, aku mengenalnya pada hari terakhir ospek, saat letih dan haus begitu kuat menyerangku hingga rasanya tenggorokanku sakit. Aku sudah pengin nangis karena tak tahan di kerjain oleh kakak senior, saat seseorang menyodorkan sebotol air mineral di hadapanku, terimah kasih Tuhan kau telah mengirimkan malaikat ini ke hadapanku. “ kau Pasti haus” katanya sambil tersenyum saat aku tengadah penasaran ingin melihat wajah malaikatku, “ minumlah dulu, baru kau lanjutkan merayap lagi” katanya, aku melirik takut kepada senior yang tadi memerintahkan aku merayap, tapi dia menoleh seolah tak peduli, aku mengambil botol air mineral dan menghirupnya dengan rakus, ohhhh Tuhan betapa nikmatnya!Baju kaos ku basah oleh keringat dan air yang tumpah tapi aku tak perduli, saat mataku menangkap bayangan si malaikat, ehhhh dia menatapku dengan senyum dan pandangan lucu, kuhapus bibirku dengan punggung tanganku dan buru-buru bilang terima kasih, aihhh aku malu sekali padanya,” makasih yah” kataku hampir tak terdengar, dia mengangguk maklum, pasti dia menangkap wajahku yang merah karena malu. Itu awal perkenalanku dengan Farid.
Setelah masa orientasi kami jadi akrab, bertiga dengan Bim sahabatku sejak SMA, kami selalu bersama-sama, Bim juga menerima Farid sebagai teman, meski awalnya agak-agak keberatan, tapi setelah mengenal Farid lebih dekat, kami berteman layaknya sodara.Mereka memperlakukan aku seperti adiknya, bahkan cenderung over protektif, kadang aku juga marah dan sakit hati, memprotes perlakuan mereka tapi mereka tak peduli dengan protes dan rengekanku untuk ikut mendaki gunung seperti mereka, yah aku maklum dan senang mengetahui bahwa mereka menyayangiku seperti juga aku sangat menyayangi mereka berdua. Akhir-akhir kuliah aku kemudian mengenal Andi, yang belakangan menjadi suamiku, Farid dan Bim tetap menjadi sahabatku, meski mereka tidak lagi bersikap seperti saat kami hanya bertiga, ketika aku protes, Bim yang lebih cerewet menjelaskan dengan hati-hati bahwa kami tak mungkin sedekat waktu dulu, bagaimanapun mereka menghargai Andi, Farid lebih banyak diam dan tak berkata apa-apa hanya mengiyakan apa yang di katakan oleh Bim. Aku berusaha mendorong mereka untuk mengenal gadis-gadis yang ada di kampus bahkan mereka juga kukenalkan dengan gadis-gadis cantik dan baik yang menurutku kiranya cocok untuk mereka. Bim akhirnya memilih Nana yang kemudian di persuntingnya setelah selesai kuliah dan bekerja sebagai konsultan. Sedangkan Farid hingga aku memiliki putri yang kini berusia 3 tahun, serta Bim memiliki bayi berusia 6 bulan belum memutuskan akan memilih siapa.
Satu saat aku memutuskan untuk membicarkan masalah Farid secara khusus dengan Bim, kami janjian untuk bertemu di kantornya setelah makan siang, Saat aku tiba di kantor Bim, aku terkejut karena di sana ada Farid, wajahnya suram dan tak Nampak sesejuk biasanya, aku menjabat tangan mereka, memeluk mereka hangat seperti biasa saat kami bertemu. Dan langsung ribut menanyakan kabar dan memprotes kenapa mereka lama tidak berkunjung kerumahku? Seperti biasa pula Bim menanggapi protesku dengan candanya, tapi tidak dengan Farid, aku memandang Bim penuh Tanya, tapi matanya mengisyaratkan bahwa iapun tak tahu apa yang terjadi. Sesaat ruang kerja Bim senyap, Farid menelungkup dan membenamkan wajahnya pada kedua tangannya yang di lipat diatas meja, kemudian menangis tanpa suara. Sesaat hening, sayup-sayup terdengar suara marcel menyenandungkan lagu “ tak terganti” dari speaker computer Bim, kami bertiga duduk berhadapan, aku masih tak tahu harus melakukan apa, sementara Bim mengisyaratkan agar kami membiarkan Farid melampiaskan semua tangisnya. Lama dia menelungkup dan ketika Farid mengangkat kepalanya, aku menyodorkan tissue yang di terimanya dengan pandangan terima kasih.” Apa sebenarnya yang terjadi Farid?” “ Kemarin malam, ayahku hampir saja membunuh ibuku!” katanya dengan nada sedih, aku terkejut, dan seketika wajah Tante Berlian ibu Farid berkelebat di benakku, wajahnya yang cantik dengan matanya yang sejuk, aihhh bagaimana mungkin ada yang tega melakukan itu pada wanita yang begitu lembut?
“Aku menahan tangan ayah yang sudah mengangkat meja, aku tidak mungkin membiarkan Ibu dipukuli meja kayu.” Jawabnya. “Kejadiannya cepat, dan aku hilang kontrol, aku tidak bisa menahan diri seperti biasanya, aku akan memukul Ayah, tapi adikku menghalangi Kami, dan menjerit-jerit.” lanjutnya. “Aku ditarik Ibu masuk kamar, Kami berdua mengunci pintu, Ibu menggigil ketakutan, Ayah menggedor-gedor pintu, berteriak-teriak memaki, kemudian berusaha mendobrak masuk., tapi tidak berhasil”.
Dia menghela napas “Ayah mulai memecahkan kaca-kaca, bahkan kaca di atas pintu kamar, pecahannya jatuh menancap hanya satu senti dari tanganku. Ayah lalu berteriak-teriak dan mengancam akan membakar rumah.”

“Apa?” aku dan Bim berseru kaget. “Ya, tapi alhamdulillah tiba-tiba nenek datang, beliau langsung menjerit-jerit karena ternyata adikku pingsan, jadi perhatian Ayah langsung teralihkan. Aku dan Ibu akhirnya keluar setelah nenek mengetuk pintu.” Jawabnya, “Tentu saja ayah menyalahkanku karena kejadian ini, dia memaki aku di hadapan saudara-saudaraku yang datang kemudian. Akhirnya adikku siuman jam 6 pagi. Aku pergi kerja setelah didesak Ibu, aku sempat berpesan pada Ibu untuk pergi dari rumah kalau Ayah berusaha menyakitinya lagi”.

“Apa Ayahmu melakukannya lagi?” Tanya ku “Tidak, kemarin dia pergi, entah kemana, mungkin berjudi lagi, Ayah baru pulang larut malam.” Katanya “Ugh menyebalkan” kataku tanpa sadar, “Mestinya Ayahmu diadukan ke Asosiasi Pembelaan Perempuan, biar dia dipenjara.” “Yaaa mesalahnya keadaan tidak sesederhana itu kan..” kata Bim. Tiba-tiba Farid tersenyum, lalu bangkit “Terima kasih ya kalian sudah mendengarkan, terima kasih, aku harus pulang,jangan sampai ayahku pulang dan aku terlambat menyelamatkan ibuku” Farid berbalik dan mengacak rambut dan menepuk pipiku, seperti biasa dilakukannya padaku kalau aku duduk dan berpikir serius! sebelum melangkah ke luar ruangan dia berkata, “ Semoga suatu saat keadaan membaik.” Katanya melangkah dan menutup pintu ruang kerja Bim, aku dan Bim terpekur di kursi masing-masing.
Aku memandang gerimis lewat kaca jendela, mengingat dan mengulang kembali kejadian yang barusan terjadi di ruangan ini. Baru pertama kali aku menyaksikan ia menangis setelah sekian tahun aku berteman dengannya. Aku tidak pernah menyangka bahwa masalah yang ia hadapi begitu berat, sampai ia memutuskan untuk menceritakannya pada diriku dan Bim. Persahabatan kami begitu erat, namun tidak pernah sebelumnya dia bercerita apa-apa mengenai ayahnya, begitu pandainya dia menyimpan masalahnya, dan begitu tidak pekanya kami dengan masalah Farid. Tiba-tiba rasa sedih menyergapku, air mataku jatuh satu-satu…aku terisak-isak dan sulit menghentikannya, meski bim sudah menepuk-bahuku berulang-ulang, Kata-katanya tadi siang masih terngiang :
“Ayahku pemarah, sangat temperamental, dulu ia sering selingkuh. Sekarang tidak lagi, tapi kebiasaannya berjudi tak pernah berhenti. Dia sering memaki Ibu. Dia sering menyakiti Ibu. Padahal Ibu lah yang bekerja keras. Dan aku berusaha untuk membiayai semua sekolah adikku. Tapi Ayah tidak perduli. Dia tetap menyakiti kami. Bahkan sering mengancam Ibu..
Dia tidak sanggup lagi berkata…lalu dia menangis….dan kami menyaksikan tangisnya..
Sekarang aku mengerti….mengapa dia melewatkan begitu banyak kesempatan kerja di luar kota, padahal gaji yang akan diperoleh lebih dari apa yang telah dia dapatkan di perusahaan tempatnya sekarang bekerja… karena dia tidak mungkin meninggalkan Ibunya, dan belum mampu membawa serta Ibunya dengan kondisi keuangan seperti saat ini. Sekarang aku mengerti…mengapa dia menunda untuk menikah, karena saat ini dia hanya ingin mencintai Ibunya.. Ibunya yang sudah sebatang kara dan sering disakiti Ayahnya…

Sekarang aku mengerti…. mengapa dia begitu peka terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan seorang Ibu.. peka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan wanita, karena dia begitu mencintai ibunya, wanita yang sangat dia hormati dan dia banggakan, aku ingat dia selalu mendekap ibunya erat, mencium keningnya lembut sebelum kami berangkat ke kampus, hingga aku pernah berkata padanya, aku akan bahagia sekali jika kelak memiliki anak laki-laki sepertinya yang begitu mencintai ibunya, saat itu dia hanya tersenyum, mengacak rambutku dan bilang” kau akan mendapatkan anak laki-laki yang jauh lebih mencintaimu dariku, karena kau wanita yang baik, sebaik dan secantik ibuku!”
Sekarang aku mengerti…dia telah mengorbankan semuanya…. Untuk melindungi dan memuliakan Ibunya..

Aku teringat jawaban Rasulullah saw saat seorang sahabat bertanya tentang orang yang mesti dimuliakan.. ”Ibumu..ibumu…ibumu…, setelah itu baru Ayahmu..” dan sahabatku sungguh-sungguh melakukannya. Ya Rabby…. berkahi langkah sahabatku yang sangat memuliakan ibunya, aku percaya JanjiMu selalu pasti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s