Karena cinta tidak selalu berwujud bunga

Suami ku adalah seorang insinyur pertanian, aku mencintai sifatnya yang sederhana, pendiam dan sangat care pada anak-anak kami, aku juga menyukai rasa hangat yang hadir di hatiku saat dia mendekapku di dadanya yang bidang.
Belasan tahun masa perkawinan kami, kami telah di karuniai putra putri yang manis sehat dan cerdas , itu hal yang kusyukuri dari perkawinan kami. Seiring perjalanan usia perkawinan kami, aku mulai merasa jemu dan lelah. aku seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Aku merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah ku dapatkan. Suamiku jauh berbeda dari yang aku harapkan. Rasa sensitif-nya kurang, dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapanku akan cinta yang ideal.
Suatu hari, ku beranikan diri untuk mengatakan keputusanku kepadanya, bahwa aku menginginkan perceraian.
“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.
“Aku lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang aku inginkan” kataku putus asa, meski aku sendiri terkejut dengan kata-kataku tapi aku benar-benar lelah melihat keadaannya. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam, seolah mengerjakan sesuatu padahal tidak.
Kekecewaan ku semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya apalagi yang bisa aku harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat aku lakukan untuk merubah pikiranmu?”.
aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,”aku punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya, aku akan merubah pikiran ku
Seandainya, aku menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk ku?” Dia termenung dan akhirnya berkata, “aku akan memberikan jawabannya besok.”
Hati ku langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan aku menemukan selembar kertas dengan coret-coretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan….
“Sayang, aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan aku untuk menjelaskan alasannya.”
Kalimat pertama ini menghancurkan hati ku. Kulanjutkan untuk membacanya.
“Kamu alergi debu dan selalu gatal-gatal karenanya dan akhirnya menangis putus asa karena gatalnya, aku harus membantumu menyapu kamar , mengibas tempat tidur dari debu sebelum kau tidur dan memberikan jari-jariku mengusap bagian yang gatal hingga kau tertidur lelap”
“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan aku harus memberikan kakiku supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.”.
“Kamu suka jalan- jalan dengan semua temanmu bahkan ke luar kota mengunjungi tempat tempat baru, aku harus menunggu di rumah agar bisa menggantikanmu mengajari anak-anak kita belajar matematika, pelajaran yang paling tidak kau senangi jika anak kita menanyakannya padamu”.
“Kamu selalu pegal-2 pada waktu ‘teman baikmu’ datang setiap bulannya, dan aku harus memberikan tangan ku untuk memijat kakimu yang pegal.”
“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.”
“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, aku harus menjaga mataku agar ketika kita tua nanti, aku masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.”
“Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna- warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu”.
“Tetapi sayangku, aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati.
Karena, aku tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.”
“Sayang, aku tahu ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari aku mencintaimu.”
“Untuk itu, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”
Air mataku jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi aku tetap berusaha untuk membacanya.
“Dan sekarang, sayangku, jika kamu telah selasai membaca jawabanku dan jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu.”
“Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau pun bahagia.”.
aku segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran dan tersenyum lebar ketika kujatuhkan tubuhku ke dalam pelukannya,Ternyata aku tetap merasakan kehangatan seperti biasa saat aku bersandar di bahu bidangnya dan akhirnya kusadari cinta tidak hanya berwujud bunga, tapi suamiku telah memberi cinta dalam wujud dirinya yang utuh!!!.

Iklan

2 Replies to “Karena cinta tidak selalu berwujud bunga”

  1. Assalam. Subhanallah …. K2 Ita. ceritanya menyentuh sx. memang kadang. eh salah seringnya kita menginginkan suami atau orang yang kita cintai menjadi seperti apa yang kita “inginkan”. Namun tanpa kita sadari mereka malah memberikan segalanya lebih dari apa yang kita “inginkan”. Cerita ini alhamdulillah mengingatkan kembali bahwa Tuhan tidak memberikan pasangan hidup kita tidak seperti apa yang kita inginkan, tapi Dia memberikan apa yang kita butuhkan. Terima kasih k2 Ita. Semoga kita selalu di jalanNya dan selalu dalam lindunganNya. Amiin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s