Cinta inikah yang kita mau?

Kusaksikan tingkah pola siswaku dari kaca jendela, keriangan masa remaja nampak jelas dari tawa mereka yang lebar dan lepas, sesekali teriakan dan umpatan spontan mereka pekikkan diantara tawa dan istilah-istilah aneh yang mereka sebut bahasa gaul, menatap wajah mereka yang sumringah, menyaksikan mereka tertawa dan bercanda, hal yang sama juga kita lakukan di masalalu, siapa yang bisa melupakan masa sekolah? Saat kita merasa semua bisa kita raih, saat dimana kita merasa bisa menundukkan dunia juga saat dimana kita hanya mengenal satu hal yakni “suka cita”. Betapa indahnya usia remaja!Meski tidak sedikit yang kemudian harus merelakan masa remajanya hilang, karena kenaifan dan kedunguannya, namun tak ada seorangpun yang berani membantah bahwa saat – saat itu adalah fase yang paling indah dari keseluruhan fase kehidupan manusia.
Baru beberapa menit yang lalu Guru Bk keluar dari ruanganku, laporannya benar-benar menampar wajahku, salah satu siswaku tidak bisa melanjutkan sekolah karena terlanjur hamil, dan informasi yang berhasil dia gali itu bukan kali pertama di lakukan olehnya. Hatiku gamang, seolah aku berdiri di ketinggian dan tak mampu melihat dimana dasar jurang yang ada di hadapanku, tawa riang anak-anak yang bercanda dekat jendelaku seolah berubah menjadi pisau yang menusuk-nusuk jantungku, bagaimana mungkin ini terjadi? Pada anak yang demikian lugu, demikian cantik? Sebuah pertanyaan yang naïf memang dan tak pernah mampu kujawab sejak dulu, Yah sejak dulu saat teman sebangkuku di SMA muntah-muntah dan aku kalang kabut mencari minyak gosok karena menyangka ia masuk angin, hingga guru BK datang dan menyuruhku mengantarkannya pulang kerumahnya, namun sempat kalimat “ kita akan dapat undangan pernikahan sehari, dua, dia bukan masuk angin?” kata Bu Atika kepada guru sejarah di teras sekolah. Sejak itu aku kehilangan teman sebangku, dia akhirnya menikah dan sampai hari ini aku tak pernah bisa menjawab bagaimana mungkin mereka melakukan hal yang begitu sakral, yang karenanya Tuhan mewajibkan umatnya untuk lebih dahulu melaksanakan ijab Kabul, mengucapkan janji suci atas namaNya, untuk memperlakukan pasangannya dengan muasyarah bil ma’ruf, menyerahkan pemberian ikhlas kepada sang mempelai berupa mahar dsb. Tidak seperti yang terjadi pada temanku atau saat ini yang terjadi pada siswaku. Ijab Kabul saat ini hanya sekedar formalitas, legalitas untuk menutupi hal yang sudah terlanjur terjadi. Tapi itulah fenomena yang saat ini menjadi hal yang terlalu biasa terjadi. Married by accident bukan lagi hal yang memalukan , malah menjadi sebuah tren di masyarakat yang mengatakan dirinya modern. Beranggapan bahwa manifestasi perasaan cinta adalah melakukan apa saja yang bisa membuat pasangan kita bahagia. Termasuk melakukan hubungan intim, yang seharusnya hanya boleh dilakukan jika sudah mengucapkan janji suci. Semalam aku juga terbengong-bengong ketika seorang sahabat curhat dengan mata berbinar bahwa gadisnya sudah telat haid 3 minggu, sementara sidang perceraiannya sementara berlangsung di pengadilan agama. Aku tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, karena jangankan untuk berkata-kata, melihat rona bahagia di wajahnya saja aku malu. Bagaimana mungkin dia begitu bangga menceritakan hal yang seharusnya menjadi aib dan dosa yang dia lakukan dengan begitu ringan dan bangga? Meski awalnya aku kasihan karena 10 tahun pernikahannya, dia dan isterinya belum di karunia seorang anakpun , sampai kemudian dia menyampaikan keinginan untuk menikah lagi, dan isterinya memilih cerai dari pada harus dimadu, namun bisakah itu menjadi alasan baginya untuk melakukan hubungan intim dengan perempuan lain sebelum menikah? Hingga dia meninggalkan ruang tamu rumahku, aku masih duduk terpekur, Pertanda apakah ini Tuhan? Hingga rasa malu kau cabut dari hati-hati mereka? Jika kemudian dari hubungan itu, mereka memperoleh anak, ajaran moral apakah yang hendah kita ajarkan pada mereka? Sementara kita telah menginjak dan meletakan moral itu di tempat yang paling rendah hingga kita sendiri tak mampu melihatnya?
Hari ini satu siswaku harus putus sekolah, karena terlanjur menyerahkan semuanya kepada orang yang seharusnya belum layak menerimanya. Karena pikiran remajanya yang naïf, dan di butakan oleh cinta, menyangka apa yang dia lakukan adalah bukti cintanya yang besar kepada pasangannnya, sementara sahabatku melakukan dengan kesadaran penuh, juga mengaku bahwa dia sangat mencintai gadisnya, dia laki-laki dewasa dan notabene calon doctor yang sebentar lagi menyelesaikan studi S3. Kalau mereka melakukan hal yang sama, dan dua-duanya mengatas namakan cinta, lalu apa bedanya murid SMK dan calon Doktor? Jika cinta yang diagungkan akhirnya bermuara pada kesengsaraan, pada murka Illahy haruskah kita terus mengejar cinta semacam itu? Jika memang iya maka mungkin juga Paulo Coelho berkata benar bahwa cinta adalah kekuatan yang tak bisa ditundukkan, jika kita berusaha mengendalikannya maka cinta akan menghancurkan kita, jika kita berusaha mengurungnya maka cinta akan memperbudak, namun jika kita coba untuk memahaminya, maka cinta akan meninggalkan kita dalam kebingungan.

Iklan

10 Replies to “Cinta inikah yang kita mau?”

  1. cinta yang sebenarnya itu seperti apa sich(cinta antara lk2 dan perempuan)

    dan apa iya pacaran itu bisa menjadi ajang pembelajaran??????????

    bukankah islam tdk pernah mengajarkan tentang pacaran itu??????

    Suka

    1. Tuh… kan udah bisa dijawab sendiri, islam gak kenal pacaran-pacaran, yang ada cinta yg tumbuh setelah pernikahan, yang halal dan menuntun kita untuk membentuk keluarga syakinah warrahmah.

      Suka

  2. cinta ..
    kadang aku bingung dengan yang namanya cinta !?
    apa sih yg dinamakan cinta itu ?
    yang aku tau cinta itu cuman bikin sakit hati .
    cuman bisa bikin aq sedih .
    orang tua yg sdah lama berumah tangga pun masih bisa saling menyakiti .
    pha lagi yg masih pacaran !?

    Suka

    1. Elza!kenapa harus bingung?kalau kau temukan cinta sejatimu, maka pasti kau tidak akan tersakiti, tidak akan sedih, dan menerimanya dengan riang!karena dia akan memberimu pemahaman, mengajarmu dengan bijaksana dan menuntunmu untuk selalu bersandar kpd sang Pemberi cinta.Hingga semua berjalan sesuai rambu-rambu yg di buatNya!

      Suka

  3. huaaaa ketika cinta tak sanggup membendung kasih sayang yang diberikan kepada orang yang kita sayangi bu..
    saya kadang berpikir bu, terkadang kita merasa semua itu salah namun ketika kita menghadapinya, kita tak sanggup menghindar kecuali iman dalam hati yang menepis. ketika semua itu sudah terjadi, apakah kita yang harus selalu disalahkan?

    Suka

    1. untuk itulah kita diberi warning tidak berdua dengan yg bukan muhrim.kata terlanjur selalu kita gunakan untuk pembenaran dari kesalahan yang kita buat.padahal yg paling perlu adalah preventif, agar semua tidak terjadi.

      Suka

  4. saya sependapat dgn ibu. pengalaman adalah pelajaran yang tak dapat dilupakan. cinta itu indah dan mengasikan tetapi jangan sampai cinta memperbudak kita. maksudnya jadikan cinta itu sebagai jembatan untuk kita berhasil mecapai tujuan kita.

    Suka

    1. Yups, menjadikan cinta motivasi untuk melakukan hal-hal baik yang diridhoi Allah SWT.Semoga kita di anugerahkan Cinta yang hakiki mencintai semua orang karena Allah SWT.Amin

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s